Connect with us

Nasional

# Merawat Bahasa Ibu Lewat Jempol: Revitalisasi Bahasa Tou’dano di Media Sosial

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Bahasa Tou'dano tidak membutuhkan monumen yang megah agar tetap dikenang. Ia hanya membutuhkan penuturnya untuk terus menggunakannya.

Bahasa Tou’dano tidak membutuhkan monumen yang megah agar tetap dikenang tapi  hanya membutuhkan penuturnya untuk terus menggunakannya. (Foto: Istimewa)

Oleh: Bert Toar Polii

FAKTUAL INDONESIA: Suatu hari di Grup Facebook “Mari Belajar Bahasa Tondano”, seorang anak muda bertanya, “Bagaimana mengatakan ‘Apa kabar?’ dalam bahasa Tou’dano?”

Dalam hitungan menit, puluhan anggota memberikan jawaban. Ada yang menerjemahkan, ada yang menjelaskan perbedaan pengucapan menurut dialek, bahkan ada yang mengenang bagaimana orang tua mereka dahulu menggunakan ungkapan itu dalam percakapan sehari-hari.

Percakapan yang berlangsung hanya beberapa menit itu mungkin tampak sederhana. Namun sesungguhnya, di sanalah sebuah bahasa sedang dipelajari, diwariskan, dan dihidupkan kembali. Di balik layar ponsel, sebuah warisan leluhur menemukan harapan baru.

Di bawah rindangnya pepohonan yang mengelilingi Danau Tondano, bahasa Tou’dano telah hidup selama berabad-abad. Bahasa ini bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga cermin cara berpikir, nilai-nilai kehidupan, sejarah, humor, dan identitas masyarakat Tondano.

Kini, bahasa itu menghadapi tantangan yang tidak ringan. Di rumah-rumah, di sekolah, bahkan di lingkungan pergaulan, bahasa Indonesia dan Melayu Manado semakin mendominasi. Semakin sedikit anak-anak dan remaja yang menggunakan bahasa Tou’dano sebagai bahasa sehari-hari.

Advertisement

Padahal, ketika sebuah generasi berhenti menggunakan bahasa ibunya, yang hilang bukan sekadar kosakata. Yang ikut memudar adalah cerita rakyat, peribahasa, ungkapan bijak, cara pandang terhadap kehidupan, bahkan identitas budaya yang diwariskan turun-temurun.

Namun di tengah kekhawatiran itu, secercah harapan justru muncul dari tempat yang paling akrab dengan kehidupan generasi muda saat ini: media sosial.

## Mengapa Generasi Muda Menjauh?

Ada beberapa alasan mengapa bahasa Tou’dano semakin jarang digunakan.

Pertama adalah stigma. Sebagian anak muda menganggap bahasa daerah identik dengan masa lalu sehingga kurang percaya diri menggunakannya di tengah arus globalisasi.

Advertisement

Kedua adalah rasa takut melakukan kesalahan. Banyak yang sebenarnya ingin belajar, tetapi khawatir salah mengucapkan kata atau menyusun kalimat, lalu dikoreksi atau bahkan ditertawakan.

Padahal, belajar bahasa seharusnya menjadi pengalaman yang menyenangkan.

Karena itu, pendekatan pelestarian bahasa pun harus berubah. Jika dahulu orang belajar melalui percakapan di rumah atau nasihat para orang tua, kini generasi muda lebih banyak belajar melalui media digital. Maka bahasa daerah pun harus hadir di ruang yang setiap hari mereka kunjungi.

## Media Sosial sebagai Ruang Belajar

Media sosial telah mengubah cara manusia belajar. Di ruang digital, belajar tidak lagi harus berlangsung secara formal. Orang dapat bertanya, berdiskusi, bercanda, bahkan melakukan kesalahan tanpa merasa dihakimi.

Advertisement

Berangkat dari pemikiran itulah lahir Grup Facebook *”Mari Belajar Bahasa Tondano.”*

Grup ini dibangun sebagai ruang bersama bagi siapa saja yang ingin belajar bahasa Tou’dano. Tidak ada syarat harus fasih. Tidak ada rasa malu untuk bertanya. Semua anggota, baik penutur asli maupun pemula, dapat saling belajar dalam suasana yang hangat dan bersahabat.

Yang menarik, media sosial juga menghapus batas geografis. Warga Tondano yang tinggal di kampung halaman dapat berdiskusi dengan mereka yang telah puluhan tahun merantau ke berbagai kota di Indonesia bahkan ke luar negeri. Bahasa yang nyaris terlupakan kembali menjadi pengikat rasa memiliki terhadap tanah kelahiran.

## Sebuah Gerakan dari Akar Rumput

Pelestarian bahasa tidak selalu harus dimulai oleh lembaga besar. Ia dapat tumbuh dari kepedulian masyarakat.

Advertisement

Beberapa tahun lalu lahirlah sebuah inisiatif sederhana melalui Grup Facebook “Mari Belajar Bahasa Tondano.” Berawal dari keprihatinan melihat semakin jarangnya bahasa Tou’dano digunakan dalam percakapan sehari-hari, komunitas ini dibangun sebagai ruang belajar yang terbuka bagi siapa saja.

Sedikit demi sedikit anggotanya bertambah. Warga Tondano dari kampung halaman, perantauan, bahkan luar negeri mulai berbagi kosakata, ungkapan, cerita, lagu, dan pengalaman berbahasa.

Tanpa disadari, media sosial berubah menjadi ruang belajar lintas generasi.

## Ketika Belajar Menjadi Menyenangkan

Salah satu kekuatan komunitas ini adalah suasana belajarnya yang santai.

Advertisement

Anggota saling melempar kuis kosakata sederhana yang dapat langsung digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Banyak pula yang meminta bantuan menerjemahkan kalimat dari bahasa Indonesia ke bahasa Tou’dano.

Tidak jarang satu kata sederhana memunculkan diskusi yang panjang. Ada anggota yang mengingat pengucapan dari kampungnya, sementara anggota lain memperkenalkan variasi dari desa tetangga. Perbedaan itu justru memperkaya pemahaman mengenai kekayaan dialek di sekitar Danau Tondano.

Para penutur senior pun sering membagikan cerita masa kecil, peribahasa, pantun, maupun ungkapan lama yang hampir terlupakan. Kisah-kisah tersebut kemudian dipelajari kembali oleh generasi yang lebih muda.

Di sinilah estafet budaya berlangsung. Mungkin tidak lagi di beranda rumah seperti dahulu, tetapi melalui layar telepon genggam.

Advertisement

## Facebook Hanyalah Awal

Keberhasilan komunitas ini membuktikan bahwa generasi muda sebenarnya tidak menolak bahasa daerah.

Mereka hanya membutuhkan ruang belajar yang ramah, terbuka, dan sesuai dengan kebiasaan komunikasi mereka.

Namun Facebook bukanlah tujuan akhir.

Media sosial hanyalah jembatan.

Advertisement

Tujuan sesungguhnya adalah mengembalikan bahasa Tou’dano ke rumah-rumah, ke meja makan keluarga, ke sekolah, ke gereja, ke acara adat, dan ke setiap percakapan sehari-hari.

Sebab sebuah bahasa akan tetap hidup bukan karena banyak ditulis di internet, tetapi karena terus digunakan oleh penuturnya.

## Melanjutkan Estafet Digital

Keberhasilan komunitas ini menjadi fondasi untuk melangkah lebih jauh.

Konten pembelajaran dapat dikembangkan menjadi video pendek di TikTok, Instagram Reels, maupun YouTube Shorts.

Advertisement

Kosakata dapat dikemas menjadi infografis, meme, dan permainan interaktif yang menarik bagi generasi muda.

Guru, budayawan, tokoh masyarakat, dan kreator konten Minahasa juga dapat ikut menyelipkan bahasa Tou’dano dalam karya-karya mereka sehingga bahasa daerah kembali hadir di ruang publik.

Di sisi lain, seluruh percakapan yang terjadi di media sosial menjadi dokumentasi digital yang sangat berharga. Kosakata, cerita rakyat, ungkapan, dan peribahasa yang dahulu hanya hidup dalam ingatan kini mulai terdokumentasi untuk dipelajari generasi mendatang.

## Menjaga Identitas Bersama

Pelestarian bahasa Tou’dano bukan semata-mata tugas pemerintah, budayawan, ataupun akademisi.

Advertisement

Ini adalah tanggung jawab setiap orang yang mencintai Tondano dan Minahasa.

Setiap kali kita mengajarkan satu kata kepada anak-anak, menjawab pertanyaan seorang pemula di media sosial, atau menggunakan bahasa Tou’dano dalam percakapan sehari-hari, sesungguhnya kita sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar berbicara.

Kita sedang menjaga identitas.

Kita sedang merawat sejarah.

Kita sedang mewariskan jati diri kepada generasi berikutnya.

Advertisement

Bahasa Tou’dano tidak membutuhkan monumen yang megah agar tetap dikenang. Ia hanya membutuhkan penuturnya untuk terus menggunakannya.

Teknologi bukanlah musuh budaya. Di tangan yang tepat, teknologi justru menjadi jembatan yang menghubungkan warisan leluhur dengan masa depan.

## Epilog: Mengapa Saya Peduli?

Banyak orang pernah bertanya kepada saya, “Mengapa begitu peduli dengan Tondano dan bahasa Tou’dano? Bukankah sudah lebih dari enam puluh tahun meninggalkan Tondano?”

Pertanyaan itu membuat saya merenung.

Advertisement

Jawabannya justru saya temukan setelah merantau.

Di Jakarta saya melihat teman-teman dari berbagai daerah tetap bangga menggunakan bahasa ibu mereka ketika bertemu sesamanya. Saat itulah saya menyadari bahwa saya sendiri belum mampu berbahasa Tou’dano dengan baik.

Saya bersyukur dipertemukan dengan sahabat-sahabat sekampung seperti almarhum Frans Waleleng, almarhum Bob Pangerapan, dan partner bridge saya, W.D. “Om Utu” Karamoy, yang membantu saya kembali mengenal bahasa ibu.

Titik baliknya terjadi pada akhir tahun 2010 ketika saya membaca sebuah tulisan yang menyebutkan bahwa bahasa Tondano termasuk bahasa daerah yang terancam punah. Sejak saat itu saya merasa tidak cukup hanya merasa prihatin. Harus ada sesuatu yang dilakukan.

Berawal dari sebuah grup Facebook, bersama sahabat-sahabat yang memiliki kepedulian yang sama seperti Fabian J. Manoppo, Boeng Dotulong, Beiby Sumanti, serta banyak tokoh lainnya, kami mulai menghidupkan kembali percakapan dalam bahasa Tou’dano.

Advertisement

Dari gerakan sederhana itu kemudian lahir berbagai kegiatan, termasuk Lomba Pidato Bahasa Tondano pada tahun 2012 yang diselenggarakan bersama para guru SMA Negeri 1 Tondano. Kegiatan tersebut kemudian mendapat dukungan Pemerintah Kabupaten Minahasa dan menjadi bagian dari peringatan Hari Jadi Minahasa hingga tahun 2018.

Namun sesungguhnya, yang ingin saya rawat bukan hanya bahasa.

Saya ingin menjaga kenangan tentang Tondano yang saya alami semasa kecil.

Tondano yang sejuk.

Tondano yang damai.

Advertisement

Tondano yang penuh persaudaraan.

Di kota kecil itu, masyarakat hidup berdampingan tanpa mempersoalkan agama maupun asal-usul. Kampung Gorontalo, Kampung Jawa, warga keturunan Tionghoa, India, dan masyarakat Minahasa hidup sebagai satu keluarga besar: kita semua orang Tondano.

Saat Idulfitri, keluarga-keluarga Kristen datang bersilaturahmi. Saat Natal, keluarga Muslim ikut berkunjung. Tuan rumah selalu mengingatkan hidangan mana yang sesuai bagi tamunya. Toleransi bukan slogan, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari.

Barangkali itulah alasan terdalam mengapa saya terus menulis dan mengajak orang belajar bahasa Tou’dano.

Karena setiap bahasa tidak hanya menyimpan kata-kata.

Advertisement

Di dalamnya hidup kenangan.

Hidup nilai-nilai.

Hidup cara menghormati sesama.

Hidup jati diri sebuah masyarakat.

Jika bahasa itu hilang, kita bukan hanya kehilangan alat komunikasi.

Advertisement

Kita juga kehilangan sebagian dari jiwa Tondano itu sendiri.

Mari terus mengetik, bertanya, berbagi, belajar, dan berbicara dalam bahasa Tou’dano.

Sa Rei Nikei si Padung, Sei Mo Tare.

“Kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi?” ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement