Internasional
Berdalih Hizbullah Lakukan Pelanggaran Gencatan Senjata, Israel Menyerang Lebanon Selatan

Meskipun tengah berlangsung pembicaraan kesepakatan perdamaian antara Israel dan Lebanon di Roma, Italia, namun militer Israel tetap melakukan serangan lagi ke Lebanon Selatan, Rabu (5/8/2026). (Foto: Istimewa)
FAKTUAL INDONESIA: Berdalih sebagai tanggapan atas pelanggaran terang-terangan terhadap gencatan senjata oleh Hizbullah, tentara Israel kembali menyerang Lebanon Selatan, Rabu (5/8/2026). Padadal saat itu Israel dan Lebanon tengah melakukan pembicaraan hari kedua di Roma untuk membahas perdamaian di kawasan tersebut.
“Sebagai tanggapan atas pelanggaran gencatan senjata yang terang-terangan oleh organisasi teroris Hizbullah, IDF (tentara) telah mulai melakukan serangan tepat sasaran di Lebanon selatan,” kata militer Israel dalam sebuah pernyataan seperti dilansir Anadolu Agency.
Pernyataan itu disampaikan tak lama setelah militer mengeluarkan peringatan evakuasi kepada warga desa Mansouri di Lebanon selatan, peringatan pertama mereka dalam hampir enam minggu.
Juru bicara militer Israel berbahasa Arab, Letnan Kolonel Ella Waweya, mengklaim peringatan itu dikeluarkan mengingat pelanggaran perjanjian gencatan senjata oleh Hizbullah, Namun dia tidak memberikan rincian tentang dugaan pelanggaran tersebut.
Pertemuan hari Rabu di ibu kota Italia menandai hari kedua dari putaran kedua pembicaraan yang diselenggarakan oleh Roma. Lima putaran sebelumnya diadakan di Washington sebagai bagian dari proses negosiasi yang disponsori AS.
IDF memulai lagi gelombang serangan di Lebanon Selatan pada hari Rabu setelah, untuk pertama kalinya sejak Juni.
Waweya, mengeluarkan peringatan evakuasi untuk desa Al-Mansouri di X/Twitter, menginstruksikan semua penduduk untuk pindah setidaknya 1.000 meter ke utara desa.
Waweya memperingatkan bahwa siapa pun yang tetap berada di dekat fasilitas Hizbullah atau teroris mempertaruhkan nyawa mereka.
Serangan udara dimulai ketika delegasi Israel dan Lebanon bertemu di Roma untuk hari kedua pembicaraan mengenai kelanjutan implementasi rencana perlucutan senjata Hizbullah, penarikan IDF, dan penempatan militer Lebanon.
Negosiasi ini mengikuti kerangka kerja yang dimediasi AS yang dicapai pada 26 Juni yang menyerukan pelucutan senjata Hizbullah, pengerahan Angkatan Bersenjata Lebanon di seluruh Lebanon selatan, dan penarikan bertahap Israel . Pembicaraan sejak itu berfokus pada penerjemahan prinsip-prinsip tersebut ke dalam pengaturan praktis di lapangan.
Sebagai bagian dari program percontohan awal, pasukan Lebanon telah ditempatkan di Froun, Srifa, dan Zawtar al-Gharbiyeh. Israel menarik diri dari Zawtar al-Gharbiyeh sebelum penempatan pasukan Lebanon, sementara dua komunitas lainnya sudah berada di luar zona keamanan yang dikuasai IDF.
Program ini bertujuan untuk menguji apakah militer Lebanon dapat membersihkan area yang ditentukan dari senjata Hizbullah dan mencegah kelompok tersebut membangun kembali kehadiran militer.
Israel mengatakan pihaknya tetap ditempatkan di zona keamanan di Lebanon selatan untuk mencegah serangan terhadap komunitas di utara dan terus menargetkan anggota dan infrastruktur Hizbullah yang menurut mereka melanggar kesepakatan gencatan senjata. Pada bulan Juli, IDF mengatakan pasukan yang beroperasi di Haddatha telah menghancurkan lebih dari 90 lokasi Hizbullah dan menemukan lebih dari 150 senjata selama sebulan operasi. Demikian dilaporkan The Jerusalem Post. ***














