Ekonomi
Rupiah Rabu 6 Agustus 2026: Menguat Signifikan 94 Poin, Besok Masih Aman Di Bawah Rp18.000

Penguatan nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hari ini, Rabu (5/8/2026) didorong oleh respons positif pasar terhadap rilis data ekonomi domestik yang menunjukkan resiliensi di tengah dinamika eksternal. (Foto: Istimewa)
FAKTUAL INDONESIA: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak elegan pada perdagangan valuta asing, Rabu (5/8/2026). Rupiah sudah menguat sejak pemabukaan hingga penutupan perdagangan hari ini.
Ketika pembukaan Rabu pagi, rupiah sudah masuk zona hijau ketika dibuka menguat 55 poin atau 0,31 persen menjadi Rp17.972 dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.027 per dolar AS.
Rupiah terus bertahan di zona hijau dan bahkan menutup perdagangan pertengahan pekan dengan perkasa. Pada penutupan pasar perdagangan, mata uang Garuda menguat signifikan sebesar 94 poin atau 0,52 persen ke level Rp17.933 per dolar AS.
Menguat juga Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini yang naik ke level Rp17.937 dari sebelumnya Rp18.037 per dolar AS.
Apresiasi mata uang rupiah ini didorong oleh respons positif pasar terhadap rilis data ekonomi domestik yang menunjukkan resiliensi di tengah dinamika eksternal, sekaligus membawa rupiah kembali melaju di bawah level resistensi psikologisnya.
Untuk tingkat regional, rupiah menguat bersama mata uang kawasan Asia lainnya seperti peso Filipina yang menguat 0,69%, dolar Taiwan sebesar 0,50%, won Korea Selatan sebesar 0,28%, baht Thailand sebesar 0,16%, rupee India sebesar 0,18%, dan ringgit Malaysia sebesar 0,05%. Yang tercatat melemah dolar Singapura sebesar 0,02%, sedangkan yuan China bergerak relatif stabil.
Faktor Pendorong Penguatan
Kinerja positif rupiah pada perdagangan Rabu didukung oleh kombinasi sentimen internal dan global:
- Rilis Data Ekonomi Domestik: Pertumbuhan ekonomi nasional yang solid pada kuartal II-2026 memberikan suntikan optimisme bagi investor pasar keuangan, memicu masuknya kembali aliran modal asing (capital inflow).
- Pelemahan Indeks Dolar AS: Mata uang dolar AS terpantau melandai tipis seiring sikap kehati-hatian (wait and see) pelaku pasar global menanti arah kebijakan suku bunga acuan The Federal Reserve.
- Intervensi Bank Indonesia: Kehadiran BI di pasar spot dan pasar DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward) turut mengawal kestabilan nilai tukar tetap berada di area fundamentalnya.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan penguatan rupiah dipengaruhi data pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 yang lebih tinggi dari ekspektasi. Seperti dilansir Metrotv, Rully mengemukakan, rupiah pada perdagangan hari ini menguat lebih dipengaruhi oleh faktor domestik terkait data pertumbuhan ekonomi kuartal kedua yang lebih tinggi dari ekspektasi pelaku pasar.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia tumbuh 5,29 persen (year on year/yoy) pada kuartal II 2026, dengan Produk Domestik Bruto (PDB) ADHK mencapai Rp3.576,2 triliun, meningkat dari Rp3.396,6 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Adapun ekonomi Indonesia berdasarkan besaran PDB pada kuartal II 2026 atas dasar harga berlaku (ADHB) sebesar Rp6.552,1 triliun. Pelaku pasar sebelumnya berekspektasi pertumbuhan ekonomi hanya tumbuh 5,1 persen.
Melihat sentimen global, tren penurunan harga minyak disebut akan mempengaruhi inflasi jangka pendek yang berdampak pada suku bunga Federal Reserve (The Fed) yang diperkirakan tak dinaikkan dalam waktu dekat.
Prediksi Pergerakan Kamis
Melihat tren penutupan perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah diperkirakan masih berpeluang melanjutkan penguatannya secara terbatas pada perdagangan Kamis (6/8/2026).
Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi seperti dilansir okezone, memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.930-Rp17.980 per dolar AS.
“Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah bakal fluktuatif namun diprediksi melemah di rentang Rp 17.930 – Rp 17.980 per dolar AS,” ungkap Ibrahim, Rabu (5/8/2026).
- Rentang Pergerakan: Rupiah diproyeksikan bakal bergerak fluktuatif namun cenderung menguat di kisaran 880 – Rp17.960 per dolar AS.
- Sentimen Kunci: Pelaku pasar disarankan untuk mencermati rilis data indeks manufaktur global serta pergerakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan mata uang negara berkembang besok. ***














