Connect with us

Ekonomi

Rupiah Kamis 6 Agustus 2026: Menguat Lagi ke Level Rp17.923, Lanjutkan!

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Rupiah kembali tampil meyakinkan dengan terus menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sejak pembukaan hingga penutupan perdagangan valuta asing Kamis (6/8/2026). (Foto: Istimewa)

Rupiah kembali tampil meyakinkan dengan terus menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sejak pembukaan hingga penutupan perdagangan valuta asing Kamis (6/8/2026). (Foto: Istimewa)

FAKTUAL INDONESIA: Nilai tukar (kurs) rupiah berhasil menutup perdagangan pasar spot Kamis (6/8/2026) di zona hijau. Rupiah  tercatat menguat tipis setelah menahan gempuran tekanan eksternal dan melesat ke posisi Rp17.923 per dolar Amerika Serikat (AS).

Pada perdagangan valuta asing hari ini, rupiah sudah menguat sejak pembukaan Kamis pagi ketika dibuka naik 22 poin atau 0,12 persen menjadi Rp17.911 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.933 per dolar AS.

Meskipun menghadapi tekanan demi tekanan, mata uang Garuda masih mampu bertahan di zona hijau untuk meneruskan penguatan seperti dicatat sehari sebelumnya.

Sedangkan  berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp17.919 per dolar AS. Rupiah bergerak menguat dibandingkan dengan perdagangan sebelumnya yang di level Rp17.937 per dolar AS.

Pergerakan positif rupiah ditopang oleh rilis data ekonomi domestik yang solid serta melandainya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury), sehingga memberi nafas bagi mata uang negara berkembang.

Advertisement

Sentimen Pasar Membaik

Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa salah satu sentimen datang dari eksternal yakni sentimen pasar membaik setelah Iran menyatakan telah mencapai kesepakatan dengan Oman mengenai koordinat usulan jalur pelayaran melalui Selat Hormuz, sebuah jalur air vital yang menangani sekitar seperlima dari perdagangan minyak dan LNG global.

“Namun, para pedagang tetap berhati-hati karena kesepakatan tersebut belum berarti pembukaan kembali selat secara penuh; negosiasi mengenai biaya kargo, inspeksi, dan pengaturan keamanan yang lebih luas masih belum terselesaikan,” tulis Ibrahim dalam risetnya seperti dikutip dari RCTI+.

Penurunan harga energi mendorong investor untuk menurunkan ekspektasi mereka terhadap pengetatan kebijakan lebih lanjut oleh Federal Reserve. Pasar kini memperkirakan adanya peluang sekitar 55 persen untuk kenaikan suku bunga pada bulan September, turun dari angka 67 persen yang tercatat dua hari sebelumnya.

Fokus investor tetap memusatkan perhatian pada data pasar tenaga kerja AS yang akan segera dirilis guna mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan Federal Reserve. Laporan ADP National Employment menunjukkan perlambatan perekrutan di sektor swasta pada bulan Juli, sementara perhatian kini beralih ke laporan nonfarm payrolls hari Jumat yang sangat dinanti-nantikan.

Advertisement

Dari sentimen domestik, pertumbuhan PDB tahunan kuartal kedua yang lebih kuat dari perkiraan, di mana ekonomi tumbuh sebesar 5,29 persen secara tahunan (year-on-year), angka ini sedikit lebih lambat dibandingkan pertumbuhan 5,61 persen pada kuartal pertama namun tetap melampaui proyeksi, sehingga menjadikan pertumbuhan semester pertama sebesar 5,45 persen.

Kemudian, perhatian pelaku pasar pada Agustus tidak hanya tertuju pada hasil peninjauan indeks MSCI, namun juga menantikan pengumuman FTSE Russell periode 10-14 Agustus 2026. Terkait status pembekuan (freeze) Indonesia yang diperkirakan menjadi salah satu katalis penting bagi pasar saham dalam waktu dekat.

Walaupun reformasi yang telah dilakukan regulator /OJK menjadi perkembangan positif, namun belum menjamin perubahan sikap FTSE maupun MSCI dalam waktu dekat.

Sementara itu, MSCI diperkirakan baru menyampaikan evaluasi lanjutan atas tuntutan reformasi pasar modal Indonesia menjelang akhir Oktober 2026.

Sedangkan, MSCI mengumumkan hasil peninjauan indeks kuartalan pada 13 Agustus 2026 waktu Indonesia. Perubahan tersebut akan mulai berlaku pada penutupan perdagangan 31 Agustus 2026.

Advertisement

Oleh karena itu, arah kebijakan penyedia indeks global masih sulit diprediksi, sehingga berpotensi menjadi sentimen yang membayangi pergerakan pasar.

Prediksi Jumat, 7 Agustus 2026

Memasuki penutupan pekan, rupiah diproyeksikan bakal melanjutkan tren penguatan terbatas (bullish consolidation) dengan bergerak melandai di rentang area berikut:

  • Rentang Support:890 – Rp17.910 per dolar AS
  • Rentang Resistance:950 – Rp17.980 per dolar AS

Sentimen Penggerak Utama:

  1. Rilis Data Tenaga Kerja AS (Non-Farm Payrolls): Investor cenderung berhati-hati menjelang rilis data ketenagakerjaan AS pada Jumat malam. Ekspektasi pendinginan pasar tenaga kerja AS memicu spekulasi penurunan suku bunga The Fed lebih lanjut, yang menahan penguatan Dolar AS.
  2. Intervensi Pasar Bank Indonesia: Konsistensi Bank Indonesia (BI) di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) dan pasar sekunder obligasi menjaga stabilitas pasokan valas di pasar domestik.
  3. Arus Modal Masuk (Capital Inflow): Ketahanan ekonomi Indonesia menjaga kepercayaan investor asing untuk tetap mengalirkan modal ke pasar Surat Berharga Negara (SBN).

Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.920-Rp17.970 per dolar AS.

Ringkasan Pergerakan Kamis

  • Posisi Penutupan:923 / USD (Menguat 10 poin / +0,06%)
  • Posisi Sebelumnya:933 / USD (Rabu, 5/8/2026)
  • Rentang Perdagangan Harian:910 – Rp17.945 / USD

Mata Uang Asia: Mayoritas bergerak mix, dengan Rupiah, Baht Thailand, dan Yen Jepang memimpin penguatan tipis terhadap dolar AS. ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement