Ekonomi
IHSG BEI Jumat 7 Agustus 2026: Merekah di Perdagangan Akhir Pekan, Ketahan Diuji Senin Depan
FAKTUAL INDONESIA: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengakhiri perdagangan akhir pekan di zona hijau. Hari ini, Jumat (7/8/2026), IHSG merekah menguat setelah sehari sebelumnya tergelincir ke zona merah.
Pada perdagangan saham hari ini IHSG mampu melakukan konsolidasi sehingga saat pembukaan dibuka menguat menguat 8,67 poin atau 0,14 persen ke posisi 6.352,38.
Melewati sesi pertama tetap di zona hijau, IHSG terus menguat hingga penutupan. IHSG ditutup menguat signifikan 65,94 poin atau 1,04 persen ke posisi 6.409,65. Posisi ini menjadi level tertinggi yang berhasil dicapai pasar dalam tiga bulan terakhir.
Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 juga positif sejak pembukaan ketika dibuka naik 1,63 poin atau 0,26 persen ke posisi 632,49. Saat penutupan indeks LQ45 naik lebih tajam 9,43 poin atau 1,49 persen ke posisi 640,29.
Laju penguatan IHSG didorong oleh aksi borong investor asing pada saham-saham berkapitalisasi besar (big caps), utamanya sektor perbankan dan konsumsi, di tengah penantian rilis data ketenagakerjaan Non-Farm Payrolls (NFP) Amerika Serikat.
Pergerakan saham di tingkat regional juga didominasi penguatan pada bursa Asia. Posisi menghijau dicatat indeks Shanghai yang menguat 1,02 persen, Hang Seng naik 0,54 persen, dan Straits Times menguat 1,05 persen. Sementara itu, Nikkei melemah 0,07 persen dan Kospi turun 0,60 persen.
Calon Gubernur Bank Indonesia
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan bursa saham Asia bergerak beragam menjelang akhir pekan karena dipengaruhi perkembangan situasi di Timur Tengah serta penantian data tenaga kerja AS yang menjadi salah satu acuan arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).
“Bursa regional Asia cenderung bergerak beragam jelang akhir pekan ini yang terbebani kondisi terakhir di Timur Tengah, dan penantian rilis data pekerja AS yang merupakan salah satu indikator untuk kebijakan moneter The Fed,” ujar Nico dalam kajiannya, Jumat, seperti dilansir Metrotv.
Dari pasar global, meningkatnya ketegangan di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran inflasi. Harga minyak dunia menguat setelah muncul laporan serangan Iran di Selat Hormuz dan belum adanya kepastian pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut.
Menurut Nico, kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap prospek inflasi dan arah suku bunga global.
Di sisi lain, investor juga menantikan laporan NFP AS periode Juli 2026 yang dijadwalkan dirilis pada Jumat waktu setempat. Data tersebut dipandang sebagai indikator penting untuk mengukur kekuatan pasar tenaga kerja sekaligus menjadi acuan arah kebijakan suku bunga The Fed.
Sejumlah pejabat The Fed sebelumnya mengindikasikan peluang kenaikan suku bunga di tengah tekanan inflasi yang masih tinggi. Pasar saat ini memperkirakan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September 2026.
Dari dalam negeri, cadangan devisa Indonesia pada Juli 2026 tercatat sebesar USD145,3 miliar, sedikit turun dibandingkan posisi akhir Juni 2026 sebesar USD145,6 miliar. Meski demikian, Nico menilai posisi cadangan devisa masih memadai untuk menjaga ketahanan sektor eksternal, stabilitas makroekonomi, dan sistem keuangan nasional.
Cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
Selain itu, pelaku pasar juga menantikan pengumuman calon Gubernur Bank Indonesia (BI) definitif yang diperkirakan disampaikan pemerintah dalam waktu dekat.
“Penunjukan figur yang memiliki kredibilitas tinggi dan dinilai mampu menjaga independensi BI berpotensi meningkatkan kepercayaan pasar, sementara ketidakpastian yang berkepanjangan dapat mendorong sikap wait and see dari pelaku pasar,” ujar Nico.
Prediksi Senin, 10 Agustus 2026
Keberhasilan IHSG menembus kembali level psikologis 6.400 menjadi sinyal teknikal positif bagi para pelaku pasar. Menghadapi awal pekan depan pada Senin (10/8/2026), IHSG diperkirakan bergerak variatif dengan kecenderungan menguji area ketahanan (resistance) baru.
Dikutip dari Kontan, Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana mengatakan, posisi pergerakan IHSG masih berpeluang menguat terbatas dengan support 6.385 dan resistance 6.420 pada Senin depan.
Untuk sentimen pekan depan, investor akan mencermati rilis data inflasi China yang diperkirakan akan relatif melandai. Kedua, penguatan harga komoditas emas dan diperkirakan akan diikuti oleh minyak dunia terkait dengan kondisi geopolitik Timur Tengah. “Terakhir, rilis kinerja emiten kuartal II 2026 dan juga dividen interim,” tuturnya.
Herditya menyarankan investor untuk mencermati saham BULL dengan target harga Rp 494 – Rp 520 per saham, BUMI Rp 194 – Rp 210 per saham, dan MLPL Rp 108 – Rp 113 per saham.
Masih seperti dilansir Kontan, Equity Research Analyst Alrich Paskalis Tambolang menilai, secara mingguan, MACD IHSG membentuk Golden Cross seiring dengan histogram MACD telah berada di area positif. Namun, Stochastic RSI berada di area overbought. IHSG mendekati level MA20 weekly di sekitar level 6.488.
“Sehingga jika IHSG dapat menembus level MA20 tersebut, diperkirakan IHSG berpotensi menguji level 6.500 pada pekan depan,” katanya.
| Parameter Teknikal | Level Proyeksi |
| Support Terdekat | 6.350 – 6.380 |
| Resistance Terdekat | 6.450 – 6.500 |
| Kecenderungan Arah | Consolidation to Bullish |
Sentimen Penggerak Pasar Senin Depan
- Reaksi Data NFP Amerika Serikat: Hasil data tenaga kerja AS yang dirilis Jumat malam WIB akan menentukan arah kebijakan suku bunga The Fed dan pergerakan awal bursa global pada Senin pagi.
- Arus Modal Asing (Capital Inflow): Jika akumulasi modal asing pada saham big caps berlanjut, IHSG berpeluang melanjutkan reli menuju level 6.450.
- Harga Komoditas & Geopolitik: Pergerakan harga minyak mentah akibat dinamika jalur perdagangan global menjadi salah satu katalis yang dicermati sektor energi.
Bagi para investor dan trader, momentum penguatan teknikal ini dapat dimanfaatkan untuk pembelian bertahap (buy on weakness) pada saham-saham perbankan besar serta emiten telekomunikasi yang memiliki fundamental kuat. Tetap perhatikan titik stop loss pada batas support 6.350 untuk mengantisipasi aksi profit taking di awal pekan.
Sembilan Sektor Menguat
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sembilan sektor mencatatkan penguatan dipimpin oleh sektor infrastruktur (2,06%), barang baku (1,59%), dan barang konsumen primer (1,15%). Sebaliknya, sektor kesehatan dan barang konsumen nonprimer terkoreksi masing-masing 0,91%.
Beberapa saham yang menjadi top gainers hari ini meliputi VOKS, ROCK, KBLV, MCAS, dan ISAT.
Ringkasan Perdagangan Jumat
- Posisi Penutupan:409,65 (+1,04%)
- Saham Menguat / Melemah / Stagnan: 373/ 245 / 345
- Total Nilai Transaksi: Rp16,44 triliun
- Frekuensi transaksi:192.000 kali
- Volume Perdagangan: 36,88 miliar saham. ***













