Ekonomi
Rupiah Jumat 7 Agustus 2026: Cetak Hattrick Menguat, Pekan Depan Bervariasi

Nilai tukar (kurs) rupiah mencatat penguatan untuk ketiga kalinya secara beruntun dalam tiga hari ini setelah kembali bertahan di zona hijau pada penutupan perdagangan Jumat (7/8/2026). (Foto: Istimewa)
FAKTUAL INDONESIA: Rupiah mencetak hattrick menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) setelah kembali ditutup di zona hijau, Jumat (7/8/2026).
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berhasil mengakhiri perdagangan akhir pekan dengan menguat untuk tiga hari beruntun. Pada penutupan pasar spot hari ini, kurs rupiah tercatat menguat 26 poin atau 0,15 persen ke posisi Rp17.897 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.923 per dolar AS.
Padahal saat pembukaan, rupiah sempat mengkhawatirkan ketika dibuka melemah 12 poin atau 0,07 persen menjadi Rp17.935 per dolar AS. Namun kemudian rupiah mampu membalik keadaan didorong oleh respons positif pasar terhadap stabilitas indikator makroekonomi domestik serta sikap wait and see investor global menjelang rilis data ketenagakerjaan AS.
Penguatan rupiah juga tercatat pada Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia yang bergerak menguat di level Rp17.913 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.919 per dolar AS.
Sementara itu, pergerakan mata uang utama di kawasan Asia terpantau beragam terhadap dolar AS. Yen Jepang naik 0,04%, sementara dolar Singapura naik 0,18%. Won Korea Selatan juga naik 0,37%, baht Thailand naik 0,21%, Yuan China naik 0,02%.
Sementara itu, rupe India turun 0,04%, Peso Filipina turun 0,23%, Dolar Hong turun 0,01%, ringgit Malaysia turun 0,04%.
Cadangan Devisa Juli 2026
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede seperti dilansir Metrotv, mengatakan rupiah sempat dibuka melemah seiring data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang masih menunjukkan ketahanan ekonomi. Namun, mata uang Garuda berbalik menguat setelah BI merilis data cadangan devisa Juli 2026.
“Rupiah dibuka melemah, sejalan dengan data ketenagakerjaan AS yang masih memperlihatkan resiliensi pada malam sebelumnya. Rupiah kemudian berbalik arah setelah rilis data cadangan devisa Indonesia pada Juli 2026, yang cenderung stabil dibandingkan dengan bulan sebelumnya, di tengah turbulensi ketidakpastian global di bulan Juli 2026,” ujar Josua, Jumat.
BI melaporkan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 mencapai USD145,3 miliar, relatif stabil dibandingkan posisi akhir Juni 2026 sebesar USD145,6 miliar. Penurunannya hanya sekitar USD0,3 miliar.
Cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Posisi itu juga berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
Menurut Josua, sepanjang pekan ini rupiah cenderung menguat didukung meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 yang melampaui ekspektasi pasar. Secara mingguan, rupiah menguat sekitar 0,61 persen.
Prediksi Rupiah Senin
Memasuki perdagangan awal pekan pada Senin, 10 Agustus 2026, nilai tukar rupiah diproyeksikan bergerak bervariasi (sideways) dengan kecenderungan menguat tipis.
Josua memperkirakan rupiah masih berpeluang menguat secara terbatas pada awal perdagangan setelah pasar mencerna data Non-Farm Payrolls (NFP) dan tingkat pengangguran AS.
Selain itu, investor juga akan mencermati sejumlah agenda domestik, termasuk pidato kenegaraan yang dijadwalkan berlangsung pada 14 Agustus 2026.
“Rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.825-Rp17.925 per USD pada pekan depan,” kata Josua.
Pengamat mata uang yang juga Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan, untuk perdagangan Senin, mata uang rupiah akan berfluktuasi, tetapi berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp 17.890-Rp 17.940 per dolar AS. Sedangkan untuk perdagangan pekan depan diperkirakan bergerak dalam level Rp 17.780-Rp 18.020.
| Parameter Kurs | Proyeksi Kisaran |
| Batas Bawah (Support) | Rp17.830 per dolar AS |
| Batas Atas (Resistance) | Rp17.930 per dolar AS |
| Kecenderungan Arah | Konsolidasi menguat |
Sentimen Utama Penggerak Kurs Pekan Depan
- Data Ketenagakerjaan AS (Non-Farm Payrolls): Rilis data NFP AS pada Jumat malam WIB menjadi penentu utama pergerakan indeks dolar AS (DXY) di awal pekan. Sinyal melandainya pasar tenaga kerja AS akan memberi ruang bagi rupiah untuk kembali menguat.
- Cadangan Devisa & Intervensi BI: Bank Indonesia dipastikan terus mengawal stabilitas nilai tukar melalui instrumen moneter dan pasar uang, menjaga kepercayaan pelaku pasar terhadap aset berbasis rupiah.
- Dinamika Harga Komoditas Global: Fluktuasi harga minyak mentah dan komoditas ekspor utama Indonesia menjadi katalis eksternal yang turut memengaruhi arus modal masuk (capital inflow).
Ringkasan Pergerakan Kurs Perdagangan Jumat (7/8/2026)
- Posisi Penutupan:897 / US$
- Perubahan: +26 poin (+0,15%)
- Rentang Perdagangan Harian:850 – Rp17.925 / US$
Faktor Pendorong: Pasokan valas domestik yang terjaga, ketahanan cadangan devisa, dan penurunan imbal hasil (yield) obligasi AS. ***













