Nasional
Diterjang Banjir Lahar Gunung Semeru dan Longsor, Lumajang Tanggap Darurat Bencana

Terjangan banjir lahar dingin Gunung Semeru dan tanah longsor di Lumajang itu selain menyebabkan kerusakan jembatan juga menyeret pasangan suami istri dan menimbun seorang warga hingga meninggal dunia.
FAKTUAL INDONESIA: Diterjang banjir lahar dingin Gunung Semeru dan tanah longsor di beberapa kecamatan membuat Pemerintah Kabupaten Lumajang, Jawa Timur menetapkan status tanggap darurat bencana hidrometeorologi selama 14 hari.
Banjir lahar dingin Gunung Semeru dan tanah longsor di beberapa kecamatan di Lumajang itu akibat curah hujan yang tinggi sejak Kamis (18/4/2024) hingga Jumat dini hari.
Terjangan banjir lahar dingin Gunung Semeru dan tanah longsor di Lumajang itu selain menyebabkan kerusakan jembatan juga menyeret pasangan suami istri dan menimbun seorang warga hingga meninggal dunia.
“Kami telah mengambil langkah tegas dalam menanggapi situasi darurat akibat bencana hidrometeorologi yang melanda beberapa wilayah,” kata Sekretaris Daerah Kabupaten Lumajang Agus Triyono dalam Rapat Koordinasi Pos Komando Bencana di Lumajang, Jumat.
Dia menjelaskan hal tersebut upaya merespons cepat situasi banjir dan tanah longsor. BPBD Kabupaten Lumajang menggelar rapat koordinasi yang berujung pada penetapan status tanggap darurat bencana hidrometeorologi selama 14 hari.
“Keputusan tersebut ditegaskan melalui Surat Keputusan Bupati Lumajang Nomor 100.3.3.2/156/KEP/427.12/2024,” katanya.
Ia mengatakan langkah tersebut untuk memastikan penanganan darurat dampak bencana hidrometeorologi dilakukan secara efektif.
Pemerintah Kabupaten Lumajang menaikkan status dari Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi menjadi Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi.
Pemerintah Kabupaten Lumajang telah membentuk Sistem Komando Penanganan Darurat Bencana (SKPDB) sesuai dengan SK Bupati Lumajang Nomor 100.3.3.2/157/KEP/427.12/2024.
Agus mengharapkan langkah-langkah itu dapat meminimalkan korban dan kerugian, baik jiwa maupun harta benda, serta memberikan respons cepat, tepat, dan efektif dalam penanganan bencana hidrometeorologi di daerah itu.
Curah hujan yang tinggi sejak Kamis (18/4) hingga Jumat dini hari menyebabkan banjir lahar hujan Gunung Semeru dan tanah longsor di beberapa kecamatan di Lumajang, yakni Kecamatan Pronojiwo, Candipuro, Pasirian, Lumajang, dan Sukodono.
Titik longsor terjadi di Piket Nol, Kecamatan Candipuro dan Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo yang merenggut nyawa satu orang, sedangkan pasangan suami istri meninggal terseret banjir lahar hujan Gunung Semeru setelah jatuh dari jembatan yang ambrol diterjang lahar hujan.
Selain itu, sejumlah infrastruktur terdampak, seperti jembatan yang putus di Desa Kloposawit, Kecamatan Candipuro dan jembatan Jurang Mangu di Desa Purwosono.
Beberapa jembatan yang dilaporkan mengalami kerusakan parah akibat banjir lahar dingin Gunung Semeru yakni Jembatan Limpas Gondoruso, Jembatan Mujur II (Desa Kloposawit), Jembatan Sarikemuning – Jambekumbu, Jembatan Gantung Kaliregoyo, Jembatan Durek Hamzah.
Kemudian Jembatan Kali Slompret, Jembatan Desa Jurang Mangu, Jembatan Limpas Kali Putih, Jembatan Sumber (Barat), dan Jembatan Kali Mujur Gesang.
Terseret dan Tertimbun
Sepasang suami istri yakni Bambang (49) dan Ngatini (46) warga Desa Kloposawit, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, ditemukan meninggal dunia pada Jumat, setelah terseret derasnya banjir lahar dingin Gunung Semeru yang terjadi pada Kamis (18/4) malam.
“Awalnya kedua korban menggunakan motor melintas di Jembatan Sungai Mujur dalam perjalanan pulang usai silaturahmi, namun saat melintas tepatnya di ujung jembatan terjadi ambrol akibat diterjang banjir lahar dingin Semeru,” kata Kapolsek Candipuro AKP Lugito dalam keterangan tertulis yang diterima di Lumajang, Jumat.
Menurutnya, korban terjatuh dengan sepeda motornya ke dasar sungai, kemudian kedua korban hanyut terbawa derasnya banjir lahar dingin Gunung Semeru di Sungai Mujur di Desa Kloposawit, Kecamatan Candipuro.
“Korban kemudian ditemukan meninggal dunia di aliran Sungai Dusun Kebonjati, Desa Kloposawit, sehingga petugas dan warga mengevakuasi kedua korban,” tuturnya.
Sementara itu satu korban yang tertimbun tanah longsor atas nama Ngatmini (50) warga Desa Sumberurip, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur ditemukan meninggal dunia.
“Petugas gabungan berhasil mengevakuasi korban yang tertimpa reruntuhan bangunan rumahnya yang diterjang tanah longsor di Desa Sumberurip, Kecamatan Pronojiwo,” kata Kapolsek Pronojiwo Iptu Wahono Pudji Santoso dalam keterangan tertulis yang diterima di Lumajang, Jumat.
Menurutnya, curah hujan yang cukup deras mengguyur Kabupaten Lumajang selama beberapa jam hingga menyebabkan tanah longsor di Desa Supiturang yang berada di kaki Gunung Semeru pada Kamis (18/4) malam.
“Awalnya korban bersama suaminya Fatur Rohim tidur di dalam kamar dan memang rumah mereka berada di tepi tebing tegal tanaman salak yang rawan longsor,” tuturnya.
Kemudian tetangga korban bernama Poniman mencoba untuk mendatangi rumah korban untuk memperingatkan agar segera mengungsi karena cuaca hujan tidak kunjung reda dengan intensitas tinggi.
“Tetangganya mempunyai inisiatif membangunkan korban dan suaminya untuk segera mengungsi, karena dikuatirkan terjadinya tanah longsor. Namun secara tiba-tiba rumah korban longsor dari arah belakang,” katanya.
Poniman dan suami korban langsung menyelamatkan diri dari tanah longsor, namun korban Ngatmini tertimpa tanah longsor dan reruntuhan bangunan kamar rumah, sehingga tertimbun longsor. ***














