Nasional
Banjir Bandang Bali 2025: Gianyar Darurat Cuaca Ekstrem, BPBD Koreksi Korban Meninggal, Ada 1 Keluarga Tertimbun

BNPB menyatakan Bali saat ini berstatus tanggap darurat bencana akibat banjir bandang yang melanda hampir seluruh wilayah terutama Denpasar, Jembrana, Badung, dan Gianyar sejak Rabu dini hari
FAKTUAL INDONESIA: Bencana banjir bandang yang menerjang Bali membuat Pemerintah Kabupaten Gianyar menetapkan status tanggap darurat hidrometeorologi hingga 17 September 2025 agar penanganan lebih cepat dalam mengantisipasi cuaca ekstrem.
Sebelumnya, Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menyatakan Bali saat ini berstatus tanggap darurat bencana akibat banjir yang melanda hampir seluruh wilayah terutama Denpasar, Jembrana, Badung, dan Gianyar sejak Rabu dini hari .
“Pak Gubernur malam ini sudah tanda tangan, tadi kami diskusi semula tanggap darurat bencana itu akan ditetapkan dua minggu tetapi karena sifat bencananya ternyata tidak terlalu besar maka akan diralat menjadi cukup satu minggu,” kata dia di Denpasar, Rabu malam.
Sementara itu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali mengoreksi jumlah korban meninggal dunia akibat banjir di Pulau Dewata itu.
Baca Juga : Wujud Kepedulian, Kanwil Kemenkum Bali Salurkan Bantuan Banjir di Denpasar
Dalam bagian lain Tim SAR gabungan menduga satu keluarga korban banjir di Mengwi, Kabupaten Badung, terkubur di bawah reruntuhan bangunan.
Penetapan status tanggap darurat hidrometeorologi hingga 17 September 2025 dikemukakan oleh Sekretaris Daerah Pemkab Gianyar Gusti Bagus Adi Widhya Utama di Gianyar, Jumat (12/9/2025).
“Kebersamaan dan kerja cepat lintas sektor sangat penting dalam penanganan darurat,” kata Adi Widhya Utama.
Ada pun bencana hidrometeorologi itu di antaranya banjir, longsor, dan angin kencang yang sebelumnya melanda wilayah Gianyar dan Bali pada 9-10 September 2025.
Pihaknya juga telah membentuk Kecamatan Tangguh Bencana yang diharapkan mampu memberikan respons cepat dan terukur untuk meminimalisasi dampak dari bencana serta melakukan evakuasi dengan lebih cepat.
Ia menambahkan, setelah peristiwa banjir dan tanah longsor akibat cuaca ekstrem dalam dua hari berturut-turut itu, pihaknya berupaya mempercepat pembersihan material lumpur serta perbaikan fasilitas umum.
Baca Juga : Korban Tewas Banjir Bali Bertambah Jadi 18 Orang, Dua Masih Hilang
Ia mengapresiasi tim gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gianyar, TNI/Polri, instansi terkait, serta relawan kebencanaan yang turun langsung melakukan evakuasi, pembersihan material longsor, serta penyaluran bantuan darurat bagi warga terdampak.
Posko tanggap darurat juga telah dibuka di Kantor Camat Sukawati untuk memudahkan koordinasi penanganan dan pelayanan kepada masyarakat.
Sementara itu, banjir besar di Gianyar pada Rabu (10/9) menyebabkan sebanyak tiga orang meninggal dunia.
Berdasarkan data sementara, ada 34 laporan dampak banjir dan tanah longsor serta potensi kerugian material untuk sementara diperkirakan mencapai Rp34,4 miliar.
Ralat Jumlah Korban Meninggal
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali mengoreksi jumlah korban meninggal dunia akibat banjir, dari awalnya 18 orang menjadi 17 orang. “Terdapat koreksi jumlah satu orang karena double pencatatan,” kata Kepala Pelaksana BPBD Bali I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya di Denpasar, Bali, Jumat (12/9/2025).
Koreksi tersebut dipaparkan BPBD Bali ketika menerima kunjungan Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai yang ingin mengetahui gambaran umum kondisi dan penanganan korban banjir di sela kunjungan kerja di Pulau Dewata.
Baca Juga : Kanwil Bali Paparkan Capaian Kinerja dan Inovasi MIPC Artha Karya di Rapat Anev Kemenkum Triwulan III
Dalam kesempatan itu, Teja memaparkan data sementara per Jumat (12/9) yang diperbarui pukul 14.00 Wita dan dikonfirmasi kembali pukul 20.00 Wita. BPBD Provinsi Bali mencatat, jumlah korban meninggal dunia akibat banjir mencapai 17 orang dan lima orang dalam pencarian. Rinciannya, 11 orang meninggal dunia di Denpasar, Jembrana (2), Gianyar (3) dan Badung (1). Adapun estimasi jumlah bangunan yang mengalami kerusakan mencapai 515 unit, paling banyak di Kota Denpasar mencapai 475 bangunan. Kemudian, di Tabanan ada 29 unit, Karangasem 6 bangunan, Gianyar 2 bangunan dan Bangli ada 3 bangunan.
Jumlah pos pengungsian di Denpasar hingga Jumat ini pukul 12.00 Wita mencapai enam pos dengan jumlah pengungsi bertahan di posko mencapai 188 orang. Pos pengungsian itu yakni di SD 25 Pemecutan sebanyak delapan orang, Banjar Sedana Mertha Ubung sebanyak 24 orang, Banjar Dakdakan Peguyangan sebanyak 48 orang. Selain itu, di Banjar Kesambi Kesiman ada 43 orang, Posko Pulau Misol ada 45 orang, dan Banjar Tohpati ada 20 orang.
Baca Juga : Penyanyi Leony Mengeluh Gegara Biaya Balik Nama Rumah Orang Tua ke Anak Mahal Sekali
Saat ini Provinsi Bali dalam masa tanggap darurat pasca-bencana banjir yang ditetapkan selama satu minggu sejak Rabu (10/9). Pada masa tanggap darurat itu, pemerintah fokus evakuasi korban dan pemenuhan kebutuhan logistik bagi para pengungsi.
1 Keluarga Tertimbun
Tim SAR gabungan menduga satu keluarga korban banjir di Residence Bukit Tinggi, Banjar Kelod Kauh, Desa Mengwitani, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali terkubur di bawah reruntuhan bangunan.
Koordinator Basarnas Bali Kadek Crista Priana saat ditemui di lokasi kejadian pada Jumat mengatakan sejak pencarian dari Rabu (10/9) hingga kini tim baru menemukan sepeda motor dan pakaian yang diduga milik korban.
“Untuk hari ini, dari pagi, fokusnya di keruntuhan bangunan karena dicurigai di sana. Hanya pakaian-pakaian, sedikit barang-barang ini milik korban,” kata Kadek.
Kadek menyatakan tim SAR gabungan Basarnas Bali, Satpolairud Polres Badung, TNI, dan lainnya, melakukan pencarian korban dengan bantuan dua buah ekskavator. Ada 40 anggota tim SAR gabungan yang mencari setiap sudut reruntuhan bangunan rumah korban.
Baca Juga : Gerak Cepat Tangani Banjir di Denpasar – Badung Bali, MenPU Dody Hanggodo Prioritaskan Keselamatan dan Kenyamanan
Untuk hari ini, tim juga memperluas pencarian korban dengan menyisir aliran sungai yang lebarnya sekitar tiga meter tersebut.
Dia mengatakan tim SAR kesulitan untuk untuk melakukan pencarian karena material tanah yang digali cukup banyak. Ditambah lagi batu dan sampah-sampah yang menimbun di sekitar TKP. Selain reruntuhan bangunan, terdapat juga sebuah kendaraan yang belum diketahui jenisnya. Namun, posisi mobil tersebut sudah ringsek berada di dalam sungai sangat dekat dengan rumah korban.
Sebelumnya tiga orang korban yang merupakan satu keluarga dikabarkan hilang terseret banjir pada Rabu (10/9). Para korban adalah pasangan suami istri (pasutri) Rio Hatnar Boelan (56) dan Dewi Ratnawati Soenarjo (57), serta anak mereka Riviere Timothy George Wicaksono Boelan (23). Salah satu anak korban Ruth Deidree Marie Korin Boelan (27), anak pertama dari pasutri yang hilang mengatakan dirinya tidak ada di rumah saat kedua orang tuanya serta adiknya diterjang banjir.
Selama pelaksanaan kegiatan pencarian korban, Ruth terlihat menunggu di dekat tenda posko pencarian. Ia berharap keluarganya cepat ditemukan oleh tim SAR bagaimana pun keadaan mereka. “Saya berharap supaya keluarga saya cepat ketemu. Supaya cepat diselesaikan semuanya. Apapun keadaannya saya akan terima,” kata Ruth. ***














