Lapsus
Tangis dan Jerit Pilu Keluarga Korban Kebakaran Lapas Tangerang, Pertama dan Jangan Terulang

Keluarga korban kebakaran Lapas Kelas I Tangerang ketika datng ke Rumah Sakit. (ist)
FAKTUAL-INDONESIA: Tak terbayangkan di benak keluarga 44 napi penghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Tangerang, jika mereka harus menemui kematian tragis terhadap kerabatnya yang tengah menjadi penghuni lapas tersebut. Kebakaran hebat di Blok Blok C2 (Chandiri Nengga 2) Lapas Klas I Tangerang, Banten, yang dihuni 122 orang warga binaan, pada Rabu (8/9/2021) dini hari, menewaskan 41 korban mati di tempat dan 3 lainnya meninggal di Rumah Sakit.
Suara jerit tangis keluarga korban memecah kesunyian di depan ruang Instalasi Kedokteran Forensik, Rumah Sakit Polri, Kramat Jati Jakarta Timur. Beberapa dari mereka mencoba masuk ruang Forensik namun petugas mencegah dan memintanya untuk bersabar menunggu dalam sebuah ruangan.
Dadang, keluarga salah satu korban mengaku shok mendengar kerabatnya jadi salah satu korban. Ia datang sendiri dari Sukabumi, mengaku hendak menjemput jenazah Adam di RS, yang dinyatakan meninggal dunia setelah sehari menjalani perawatan intensif.
Adam menjadi salah satu korban dari 44 napi yang menjadi korban meninggal dunia akibat kebakaran di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas I Tangerang. Sekitar 80 persen tubuh Dadang hangus akibat luka bakar. Meski sempat bertahan, menurut dokter, Adam kolaps juga lantaran infeksi serta gangguan pernafasan akibat trauma inhalasi alias menghirup asap dalam jumlah besar.
Dadang tak banyak bicara, terlebih ketika ditanya banyak soal Adam. Ia juga lupa kapan terakhir berkomunikasi dengan keponakannya itu. “Udah lama. Saya nggak komunikasi sama Adam,” jelas Dadang.
Sementara Andrew, anak Timothy Jaya, salah satu narapidana lain yang meninggal sehari setelah menjalani perawatan di RSU Kabupaten Tangerang, juga tak mau bicara banyak mengenai nasib yang menimpa ayahnya.
Andrew mengaku pasrah. Ia tak ingin menyalahkan siapapun atas insiden nahas yang menimpa Timothy, ayahnya. Apalagi menyalahkan menteri terkait atau pemerintah.
Menurut Andrew, kebakaran di Lapas Tangerang adalah musibah. Musibah yang tak ingin diharapkan oleh siapapun. Dia hanya ingin mengucapkan duka cita kepada seluruh korban dan keluarga atas peristiwa itu.
“Di kesempatan ini, saya mengucapkan kita lebih baik tidak menyalahkan siapa-siapa. Termasuk menteri atau pemerintah. Saya menilai ini sebuah kecelakaan, musibah,” tutur Andrew.
Bebas 2022 Tinggal Mimpi
Sementara sesal diutarakan Lilis setelah mendapatkan kepastian dari Posko Ante Mortem bahwa kakaknya, Mashuri, menjadi salah satu dari 41 korban tewas di tempat sebagai korban kebakaran di Lapas Kelas I Tangerang. Mashuri merupakan tahanan kasus narkotika dan obat terlarang (narkoba) yang telah menjalani pidana penjara selama kurang lebih tujuh tahun.
“[Saya] adik kandung dari korban. Sudah dapat dari dalam [Posko Ante Mortem], katanya kakak saya menjadi salah satu korban,” kata Lilis dengan nada terbata-bata.
Lilis pertama mendengar informasi tentang peristiwa kebakaran di Lapas Kelas I Tangerang dari salah satu tetangganya. Ia bersama suaminya langsung bergegas menuju Lapas Kelas I Tangerang untuk mencari informasi lebih lanjut dan kepastian tentang kondisi Mashuri. Ia pun lemas mendapati jika kakaknya Mashuri jadi korban meninggal kebakaran.
Rasa sedih mendalam juga dirasakan keluarga korban lain, Iman. Imam mengaku sangat terkejut ketika pertama kali mendengar kebakaran dari anaknya yang juga menghuni lapas tersebut. Padahal, napi yang jadi korban, Muhammad Yusuf, yang divonis penjara 13 tahun, rencananya sudah akan bebas pada 2022.
“Saya dapat kabar pas Salat Subuh,” ucap Imam. “Saya dapat kabar dari anak saya yang di LP sana, kalau tempatnya kebakaran. Terus dia nangis bilang kayaknya tempat Uwa terbakar,” tutur Iman.
Walau dirundung kesedihan mendalam pihak keluraga korban berharap proses pemulangan jenazah, tidak dipersulit.
“Harapannya agar jenazah adik saya tidak dipersulit dalam pengambilannya supaya bisa langsung dibawa pulang ke Bogor untuk dikebumikan,” jelas Karlina.*














