Connect with us

Internasional

Teror Rusia di Mariupol Akan Dikenang Berabad-abad Sebagai Bentuk Pengepungan yang Mengerikan

Avatar

Diterbitkan

pada

Kerusakan parah Kota Mariupol, Ukraina akibat serangan Rusia. (Ist).

Kerusakan parah Kota Mariupol, Ukraina akibat serangan Rusia. (Ist).

FAKTUAL-INDONESIA: Pengepungan yang dilakukan militer Rusia di Kota Mariupol akan dikenang sepanjang masa. Peristiwa itu dianggap terror yang sangat mengerikan karena pengepungan dilakukan dalam suasana tidak ada listrik di malam hari.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyebut pengepungan Kota Mariupol di Ukraina oleh Rusia itu sebagai “teror yang akan dikenang selama berabad-abad mendatang”.

Dalam sebuah siaran larut malam, dia mengatakan pengepungan kota pelabuhan itu akan “mencetak sejarah tanggung jawab atas kejahatan perang”.

“Melakukan hal ini terhadap kota yang damai… adalah teror yang akan dikenang selama berabad-abad mendatang,” kata Zelenskyy.
Tetap saja, kata dia, perundingan damai dengan Rusia diperlukan kendati “tak mudah dan nyaman”.

Pemerintah Mariupol mengatakan di kanal Telegram bahwa ribuan warga telah dideportasi secara paksa ke wilayah Rusia selama sepekan terakhir.

Advertisement

Kalangan kantor berita Rusia sebelumnya melaporkan bus-bus telah membawa beberapa ribu orang dari pelabuhan strategis di Laut Azov itu ke Rusia dalam beberapa hari terakhir. Moskow menyebut orang-orang itu sebagai pengungsi.

Sekitar 400 ribu orang terjebak di Mariupol selama dua pekan lebih. Mereka berlindung dari pengeboman Rusia yang telah menyebabkan kelangkaan listrik, pemanas, dan air.

Tim penyelamat masih mencari penyintas di sebuah teater di Mariupol yang rata dengan tanah akibat serangan udara Rusia pada Rabu, kata pejabat setempat. Namun Rusia membantah menjadikan warga sipil sebagai target serangan mereka.
Kementerian pertahanan Rusia pada Jumat (18/3/2022) mengatakan pasukannya memperketat penjagaan di sekitar Mariupol dan bahwa pertempuran telah mencapai pusat kota.

Rusia telah mengalami kerugian besar sejak 24 Februari, ketika Presiden Vladimir Putin melancarkan “operasi militer khusus” untuk melakukan “demiliterisasi dan denazifikasi” Ukraina.

Ukraina dan negara-negara Barat menyebut tindakan agresif Putin sebagai “war of choice” (perang yang tak perlu).

Advertisement

Deretan panjang pasukan Rusia yang bergerak ke Kiev, ibu kota Ukraina, telah dicegat di daerah-daerah pinggiran.

Intelijen Inggris meyakini bahwa Rusia telah dikejutkan oleh perlawanan Ukraina dan kini menerapkan “strategi penciutan” kekuatan lawan, menurut atase pertahanan Inggris di Amerika Serikat.
Pada Sabtu, Rusia mengatakan rudal-rudal hipersoniknya telah menghancurkan gudang besar di bawah tanah yang menyimpan rudal dan amunisi pesawat di Ivano-Frankivsk.

Senjata hipersonik mampu melesat dengan lima kali kecepatan suara, dan kantor berita Interfax mengatakan senjata itu pertama kali digunakan oleh Rusia di Ukraina. ***

 

Advertisement
Lanjutkan Membaca