Internasional
Trump Ungkap Iran Ingin Bernegosiasi, Segera Bertemu Penasehat Senior Tentukan Opsi Tindakan Militer

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengemukakan Iran ingin berunding setelah dia mengancam akan melakukan serangan militer bila rezim Teheran terus berlaku brutal terhadap para pengunjuk rasa yang kian meningkat dan meluas. (Foto : Istimewa)
FAKTUAL INDONESIA: Ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk menyerang kembali Iran bila negara itu terus berlaku brutal terhadap para pengunjuk rasa yang kini kian memanas dan meluas, tampaknya menggoyahkan rezim penguasa di Republik Islam itu.
Menurut Trump, Iran telah menyerukan negosiasi mengenai program nuklirnya, yang dibom oleh Israel dan AS dalam perang 12 hari pada bulan Juni. Padahal saat ini dia tengah mempertimbangkan berbagai tanggapan keras, termasuk opsi militer, terhadap penindakan keras yang disertai kekerasan terhadap protes Iran, yang merupakan salah satu tantangan terbesar bagi pemerintahan ulama sejak Revolusi Islam 1979.
“Iran ingin bernegosiasi, ya. Kita mungkin akan bertemu dengan mereka. Pertemuan sedang diatur, tetapi kita mungkin harus bertindak karena apa yang terjadi sebelum pertemuan, tetapi pertemuan sedang diatur. Iran menelepon, mereka ingin bernegosiasi,” kata Trump kepada wartawan di Air Force One.
Baca Juga : Isu Greenland Memanas, Trump Disebut Minta Opsi Militer Disiapkan
Seperti dilansir CBC News, Trump melanjutkan AS mungkin akan bertemu dengan pejabat Iran dan sedang menjalin kontak dengan pihak oposisi. Namun dia dijadwalkan bertemu dengan para penasihat senior pada hari Selasa untuk membahas opsi-opsi terkait Iran, kata seorang pejabat AS kepada Reuters pada hari Minggu.
Wall Street Journal sebelumnya melaporkan bahwa opsi-opsi tersebut termasuk serangan militer, penggunaan senjata siber rahasia, perluasan sanksi, dan pemberian bantuan daring kepada sumber-sumber anti-pemerintah.
“Pihak militer sedang mempertimbangkannya, dan kami sedang melihat beberapa opsi yang sangat kuat,” kata Trump kepada wartawan pada Minggu malam.
Setidaknya dua senator AS menyampaikan peringatan selama wawancara pada hari Minggu.
“Saya tidak yakin bahwa pengeboman Iran akan memberikan efek yang diinginkan,” kata Senator Partai Republik Rand Paul kepada ABC News.
Sementara itu, Senator Demokrat Mark Warner dari Virginia mengatakan kepada Fox News bahwa serangan militer terhadap Iran dapat menyatukan rakyat untuk melawan musuh dari luar.
Kamran Bokhari, seorang direktur senior di New Lines Institute for Strategy and Policy, mengatakan Iran harus bernegosiasi karena menghadapi keresahan publik di seluruh negeri dan situasi ekonomi yang semakin memburuk. Ia mencatat bahwa meskipun pernyataan publik dari pejabat Iran mungkin mengatakan satu hal, ‘jalur komunikasi rahasia tidak akan diam.’
Trump telah memperingatkan para pemimpin Iran bahwa AS akan menyerang jika pasukan keamanan menembaki para demonstran.
Baca Juga : Unjuk Rasa Nasional setelah Penembakan Fatal ICE, Walikota Minneapolis Peringatkan Para Aktivis Menghindari Umpan Trump
Oposisi Terpecah-pecah
Kelompok hak asasi manusia yang berbasis di AS, HRANA, mengatakan telah memverifikasi kematian 490 demonstran dan 48 personel keamanan, dengan lebih dari 10.600 orang ditangkap.
Iran belum memberikan angka resmi dan Reuters tidak dapat memverifikasi jumlah korban secara independen. Arus informasi dari Iran terhambat oleh pemadaman internet sejak Kamis.
Terlepas dari skala protes yang sangat besar, tidak ada tanda-tanda perpecahan dalam kepemimpinan ulama Syiah, militer, atau pasukan keamanan, dan para demonstran tidak memiliki kepemimpinan pusat yang jelas. Kubu oposisi terpecah-pecah.
Saat Iran menindak keras para demonstran, diaspora di Kanada mengadakan aksi solidaritas untuk mendorong perubahan rezim, meskipun ada perbedaan pendapat tentang seperti apa perubahan itu seharusnya.
Iran Siap Berperang
Baca Juga : Trump Menegaskan Greenland jadi Milik Amerika atau Dicaplok Rusia dan China
Sementara itu Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araqchi pada hari Senin dalam pengarahan kepada para duta besar asing di Teheran melalui terjemahan bahasa Inggris mengatakan, negaranya siap berperang dan juga berdialog. “Kami siap berperang, tetapi juga siap berdialog,” kata Abbas Araqchi.
Dia menyatakan situasi di Iran “terkendali sepenuhnya” setelah kekerasan terkait protes meningkat tajam selama akhir pekan.
Para duta besar Inggris, Italia, Jerman, dan Prancis di Teheran dipanggil ke kementerian luar negeri, demikian dilaporkan kantor berita semi-resmi Tasnim pada hari Senin, dan diminta untuk menyampaikan kepada pemerintah masing-masing permintaan Teheran untuk menarik dukungan terhadap para demonstran.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baghaei mengatakan bahwa komunikasi antara Araqchi dan utusan khusus AS Steve Witkoff tetap terbuka, dan kontak juga tetap terbuka melalui perantara tradisional Swiss.
Baca Juga : Ini Lima Target Potensial Trump Berikutnya setelah Serbu Venezuela, dari Greenland hingga Iran
Pemerintah Iran menuduh AS dan Israel memicu kerusuhan dan menyerukan demonstrasi nasional pada hari Senin.
Pada hari Senin, televisi pemerintah menayangkan siaran langsung rekaman kerumunan besar yang menghadiri prosesi pemakaman anggota pasukan keamanan yang tewas di Shahrud dan demonstrasi pro-pemerintah di kota-kota seperti Kerman, Zahedan, dan Birjand, yang diadakan “sebagai kecaman terhadap peristiwa terorisme baru-baru ini.”
Teheran melontarkan ancaman kepada AS dan Israel sementara protes mematikan terus melanda Iran.
Menyerang instalasi militer bisa sangat berisiko. Beberapa pangkalan pasukan militer dan keamanan elit mungkin terletak di daerah padat penduduk, sehingga serangan apa pun yang diperintahkan oleh Trump dapat menimbulkan banyak korban sipil.
Mohammad Baqer Qalibaf, ketua parlemen Iran, memperingatkan Washington agar tidak melakukan “kesalahan perhitungan.”
“Mari kita perjelas: jika terjadi serangan terhadap Iran, wilayah pendudukan [Israel] serta semua pangkalan dan kapal AS akan menjadi target sah kita,” kata Qalibaf, mantan komandan di Garda Revolusi elit Iran.
Baca Juga : Terbaru, Trump Ancam Lancarkan Operasi Militer ke Kolombia setelah Serang Venezuela dan Incar Kuba
Namun, Teheran masih dalam proses pemulihan dari perang tahun lalu, dan pengaruh regionalnya telah sangat melemah akibat pukulan terhadap sekutu-sekutunya seperti Hizbullah Lebanon sejak serangan 7 Oktober 2023 yang dipimpin oleh kelompok militan Hamas terhadap Israel. Israel juga menewaskan komandan militer Iran berpangkat tinggi dalam perang Juni tersebut.
Aksi protes dimulai pada 28 Desember sebagai respons terhadap kenaikan harga yang melonjak, sebelum kemudian berbalik melawan penguasa ulama yang telah memerintah sejak Revolusi Islam 1979.
Rakyat Iran, yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup, semakin merasa kesal terhadap Garda Revolusi yang berkuasa, yang kepentingan bisnisnya, termasuk di bidang minyak dan gas, konstruksi, dan telekomunikasi, bernilai miliaran dolar.
Arus informasi dari Iran terhambat oleh pemadaman internet sejak Kamis. Trump mengatakan pada hari Minggu bahwa ia akan berbicara dengan Elon Musk tentang memulihkan akses internet di Iran melalui layanan satelit Starlink miliknya.
Araqchi mengatakan layanan internet akan dilanjutkan kembali setelah berkoordinasi dengan pihak keamanan. ***














