Connect with us

Ekonomi

IHSG BEI Selasa 28 April 2026: Dibuka Menguat namun Terjerumus ke Zona Merah Sepekan Beruntun

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Pasar keuangan dalam negeri harus rela ditutup di zona merah pada perdagangan Selasa (28/4/2026) setelah  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efeak Indonesia (BEI) mengalami tekanan akibat kombinasi aksi jual investor asing serta panasnya tensi geopolitik global. (AI/Ist)

Pasar keuangan dalam negeri harus rela ditutup di zona merah pada perdagangan Selasa (28/4/2026) setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efeak Indonesia (BEI) mengalami tekanan akibat kombinasi aksi jual investor asing serta panasnya tensi geopolitik global. (AI/Ist)

FAKTUAL INDONESIA: Sungguh tragis nasib perjuangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Selasa (28/4/2028). Sempat dibuka menguat pada pembukaan perdagangan saham di pagi hari namun harus menerima kenyataan terjerumus ke zona merah saat penutupan di sore hari.

Melemahnya IHSG ini menambah panjang reli penurunan. Penurunan IHSG sudah terjadi dalam sepekan beruntun, tepatnya sejak Senin pekan lalu (20/4/2026).

Terjunnya IHSG ke zona merah pada penutupan perdagangan karena tersandung sentimen global. IHSG mengalami tekanan akibat kombinasi aksi jual investor asing serta panasnya tensi geopolitik global yang belum menemui titik terang.

IHSG Melemah Beruntun

IHSG mengawali perdagangan saham Selasa pagi dengan optimisme ketika dibuka menguat 21,95 poin atau 0,31 persen ke posisi 7.128,47. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 1,76 poin atau 0,26 persen ke posisi 688,50.

Advertisement

Namun gerak IHSG perlahan melayu setelah mencapai level tertinggi di 7.151,51 dan akhirnya parkir di level 7.072,39. Indeks tercatat melemah sekitar  34,13 poin atau 0,48 persen pada penutupan perdagangan sore. Untuk kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 4,42 poin atau 0,64 persen ke posisi 682,32.

Sepanjang perdagangan, menurut IDXChannel, sebanyak 352 saham menguat, 374 saham turun dan 233 saham berakhir stagnan. Nilai transaksi tercatat Rp17,43 triliun, dengan volume 30,20 miliar saham.

Mayoritas indeks berada di zona merah meliputi energi, konsumer siklikal, infrastruktur, transportasi, bahan baku, teknologi konsumer non siklikal, dan kesehatan. Sementara itu, sektor industri, keuangan, dan properti kompak menguat.

Sektor barang konsumen primer menjadi yang paling terpuruk setelah jatuh hingga 1,61%. Meski saham-saham seperti MBMA dan beberapa emiten perbankan sempat mencoba menahan laju koreksi, tekanan jual pada saham-saham big caps seperti Telkom (TLKM) dan Amman Mineral (AMMN) membuat indeks sulit untuk bangkit kembali.

Tiga saham yang memimpin top gainers antara lain PT Kokoh Exa Nusantara Tbk (KOCI) naik 34,82 persen, PT Sinergi Inti Plastindo Tbk naik 34,75 persen, dan PT PP Presisi Tbk (PPRE) naik 34,75 persen.

Advertisement

Sedangkan top losersnya dihuni oleh PT Jaya Agra Wattie Tbk (JAWA) turun 14,56 persen, Insight Investment Management (XILV) turun 14,49 persen, dan PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk (MBSS) turun 12,81 persen.

Proyeksi Rabu Esok

Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menjelaskan bahwa pelemahan ini sejalan dengan kondisi bursa di kawasan Asia. “Mayoritas indeks di bursa kawasan Asia ditutup melemah, di tengah ketidakpastian penyelesaian konflik di Timur Tengah,” ujar Ratna dalam kajiannya di Jakarta, Selasa.

Seperti dilansir mediaindonesia, sentimen negatif datang dari ketidakpastian sikap Presiden AS Donald Trump terhadap tawaran Iran untuk membuka Selat Hormuz dengan syarat pencabutan blokade. Selain faktor geopolitik, pelaku pasar cenderung bersikap wait and see menantikan hasil pertemuan The Federal Open Market Committee (FOMC) serta pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell yang dijadwalkan pada Rabu (29/4) waktu AS.

Di sisi lain, Bank of Japan (BoJ) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 0,75% pada pertemuan April 2026. Meski demikian, BoJ menaikkan proyeksi inflasi inti tahun fiskal 2026 menjadi 2,8% secara tahunan (yoy) akibat kenaikan harga energi global.

Advertisement

Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana melihat, IHSG ditutup terkoreksi, yang mana pergerakannya sejalan dengan pergerakan mayoritas bursa Asia yang juga terkoreksi.

Dari sisi sentimen, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) juga masih melemah.

“Selain itu juga adanya pertemuan antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan MSCI terkait permintaan beberapa waktu lalu,” ujarnya kepada Kontan, Selasa.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda menjelaskan, penurunan IHSG mendapat tekanan utama yang berasal dari aksi net foreign sell sebesar Rp1,24 triliun, khususnya pada saham-saham perbankan.

Pelemahan ini dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global, terutama terkait konflik di Timur Tengah. Pasar masih mencermati perkembangan proposal Iran kepada AS terkait pembukaan Selat Hormuz, yang hingga kini belum menemui kejelasan.

Advertisement

”Secara umum, pergerakan IHSG masih cenderung terbatas karena pelaku pasar menunggu kepastian arah kebijakan The Fed,” ungkapnya.

Untuk perdagangan esok hari (29/4), Herditya memperkirakan IHSG berpeluang menguat terbatas dengan support 7.022 dan resistance 7.106. “Ada peluang technical rebound di tengah koreksi yang dapat dikatakan sudah cukup dalam,” ungkapnya.

Herditya pun menyarankan investor untuk mencermati saham BRIS dengan target harga Rp 1.830 – Rp 1.925 per saham, EMAS Rp 10.325 – Rp 10.775 per saham, dan INET Rp 346 – Rp 402 per saham.

Sedangkan Reza memprediksi  IHSG pada perdagangan Rabu masih bergerak terbatas dengan kecenderungan menguji area gap di level psikologis 7.000. Selama IHSG mampu bertahan di atas level tersebut dan terjadi technical rebound, maka peluang penguatan menuju resistance di kisaran 7.160 – 7.230 masih terbuka.

Reza merekomendasikan buy on weakness untuk MBMA dengan target harga Rp 735 – Rp 780 per saham. Rekomendasi beli disematkan untuk PANI dan BNBR dengan target harga masing-masing Rp 224 – Rp 242 per saham dan Rp 224 – Rp 232 per saham. ***

Advertisement

Lanjutkan Membaca
Advertisement