Connect with us

Internasional

Isu Greenland Memanas, Trump Disebut Minta Opsi Militer Disiapkan

Diterbitkan

pada

Isu Greenland Memanas, Trump Disebut Minta Opsi Militer Disiapkan

Presiden Trump rencanakan invasi ke Greenland. (Foto : istimewa)

FAKTUAL-INDONESIA : Ketegangan geopolitik kembali mencuat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan meminta militer AS menyiapkan rencana invasi ke Greenland. Informasi tersebut diungkap media Inggris Daily Mail yang mengutip sejumlah sumber internal, dan langsung memicu kekhawatiran di Eropa, khususnya Denmark.

Menurut laporan tersebut, Trump disebut telah memerintahkan para panglima operasi khusus Amerika Serikat untuk menyusun skenario pengambilalihan Greenland.

Baca Juga : Unjuk Rasa Nasional setelah Penembakan Fatal ICE, Walikota Minneapolis Peringatkan Para Aktivis Menghindari Umpan Trump

Langkah ini disebut menuai penolakan dari sebagian perwira senior militer AS. Meski demikian, penasihat kebijakan Trump, Stephen Miller, dikabarkan menjadi sosok utama yang mendorong gagasan tersebut.

Kekhawatiran juga muncul di kalangan pejabat Eropa yang menilai Trump berpotensi mempercepat realisasi rencana itu menjelang pemilihan paruh waktu Kongres AS pada November mendatang. Situasi ini dinilai dapat memperkeruh stabilitas kawasan Arktik yang selama ini relatif tenang.

Isu Greenland semakin menguat setelah pada Desember lalu Trump menunjuk Gubernur Louisiana, Jeff Landry, sebagai utusan khusus AS untuk wilayah tersebut.

Advertisement

Baca Juga : Trump Menegaskan Greenland jadi Milik Amerika atau Dicaplok Rusia dan China

Landry secara terbuka menyatakan bahwa Washington memiliki rencana untuk menjadikan Greenland sebagai bagian dari wilayah Amerika Serikat, pernyataan yang langsung menuai reaksi keras dari Denmark.

Menteri Luar Negeri Denmark, Lars Lokke Rasmussen, menyampaikan kemarahannya atas klaim tersebut dan menyatakan akan memanggil Duta Besar AS di Kopenhagen untuk meminta klarifikasi resmi.

Sementara itu, Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen bersama Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen mengeluarkan pernyataan bersama yang menegaskan bahwa kedaulatan Greenland tidak bisa diganggu gugat.

Baca Juga : Ini Lima Target Potensial Trump Berikutnya setelah Serbu Venezuela, dari Greenland hingga Iran

“Kami menekankan pentingnya penghormatan terhadap integritas teritorial dan kedaulatan bersama,” bunyi pernyataan kedua pemimpin tersebut, sembari memperingatkan Amerika Serikat agar tidak mengambil langkah sepihak.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan kesiapannya untuk bertemu dengan otoritas Denmark pada pekan depan guna membahas situasi Greenland.

Advertisement

Pernyataan itu disampaikan Rubio saat menjawab pertanyaan wartawan terkait sikap AS yang dinilai enggan merespons tawaran dialog dari Denmark serta spekulasi mengenai kemungkinan intervensi militer.

Trump sendiri berulang kali menyatakan bahwa Greenland seharusnya berada di bawah kendali Amerika Serikat dengan alasan strategis, terutama terkait keamanan nasional dan perlindungan terhadap apa yang ia sebut sebagai “dunia yang bebas”.

Baca Juga : Terbaru, Trump Ancam Lancarkan Operasi Militer ke Kolombia setelah Serang Venezuela dan Incar Kuba

Namun, ia juga menolak memberikan jaminan bahwa AS tidak akan menggunakan kekuatan militer untuk mencapai tujuan tersebut.

Mantan Perdana Menteri Greenland, Mute Egede, merespons tegas dengan menegaskan bahwa pulau tersebut tidak untuk dijual dan tidak akan pernah dijual. Penegasan itu mencerminkan sikap mayoritas masyarakat Greenland yang menolak gagasan aneksasi.

Sebagai catatan, Greenland merupakan bekas koloni Denmark hingga 1953 dan hingga kini masih menjadi bagian dari Kerajaan Denmark. Meski demikian, sejak 2009 wilayah itu memperoleh status otonomi luas, termasuk kewenangan mengatur pemerintahan dan kebijakan domestik.

Advertisement

Selain letaknya yang strategis, Greenland juga dikenal kaya akan mineral tanah jarang serta diperkirakan memiliki cadangan energi fosil yang besar, faktor yang dinilai memperkuat kepentingan global terhadap wilayah tersebut.***

Lanjutkan Membaca