Internasional
Rudah Jelajah Jarak Jauh Baru Korut mampu Menghantam Wilayah Jepang

Akademi Ilmu Pertahanan Nasional melakukan uji coba rudal jelajah jarak jauh di Korea Utara
FAKTUAL-INDONESIA: Korea Utara menguji coba rudal jelajah jarak jauh baru yang mampu menghantam sebagian besar wilayah Jepang.
Menurut keterangan media pemerintah, kata kantor berita resmi KCNA, Senin, tes akhir pekan melihat rudal melakukan perjalanan hingga 1.500 km (930 mil).
Ini menunjukkan Korea Utara masih mampu mengembangkan senjata meskipun kekurangan pangan dan krisis ekonomi.
Militer AS mengatakan tes terbaru menimbulkan ancaman bagi masyarakat internasional, dan negara tetangga Jepang mengatakan memiliki keprihatinan yang signifikan.
Sebuah gambar di surat kabar Korea Utara Rodong Sinmun menunjukkan sebuah rudal ditembakkan dari kendaraan peluncuran, sementara yang lain terlihat dalam penerbangan horizontal.
Rudal itu adalah senjata strategis yang sangat penting, kata badan KCNA.
Tes dilakukan pada hari Sabtu dan Minggu, tambahnya, dengan rudal mengenai target mereka sebelum jatuh ke perairan teritorial Korea Utara.
Ini adalah rudal jelajah jarak jauh pertama di negara itu yang mungkin bisa membawa hulu ledak nuklir, menurut analis Korea Utara Ankit Panda.
Sanksi Dewan Keamanan PBB melarang Korea Utara menguji coba rudal balistik, tetapi bukan rudal jelajah seperti ini.
Dewan menganggap rudal balistik lebih mengancam daripada rudal jelajah karena mereka dapat membawa muatan yang lebih besar dan lebih kuat, memiliki jangkauan yang lebih jauh, dan dapat terbang lebih cepat.
Rudal balistik ditenagai oleh roket dan mengikuti lintasan seperti busur, sementara rudal jelajah ditenagai oleh mesin jet dan terbang pada ketinggian yang lebih rendah.
Joseph Dempsey, peneliti pertahanan di Institut Internasional untuk Studi Strategis, mengatakan pengembangan rudal jelajah masih menjadi perhatian.
Pengembangan rudal jelajah jarak jauh dapat menimbulkan tantangan tambahan bagi pertahanan rudal Korea Selatan.
“Sebuah rudal jelajah tidak harus mengikuti lintasan lurus. Rencana penerbangannya mungkin diprogram untuk menghindari pertahanan atau menggunakan medan untuk mengurangi deteksi, tetapi kami masih tidak tahu persis bagaimana versi Korea Utara menavigasi.” ***














