Ekonomi
5 Negara yang Diprediksi Lolos dari Resesi 2023, Ada Indonesia?

Foto Ilustrasi (Istimewa)
FAKTUAL-INDONESIA: Dunia sedang dihadapkan dengan ancaman resesi. Sinyal resesi global 2023 kian terasa kuat jelang akhir 2022. Hal ini karena nantinya suku bunga acuan bank sentral di sejumlah negara semakin tinggi. Meski begitu, ada sejumlah negara yang mampu lolos resesi 2023.
Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati memperkirakan bahwa di tahun 2023, ekonomi dunia akan mengalami resesi. Resesi ini dipicu oleh banyak bank sentral negara di dunia yang secara bersamaan menaikkan suku bunga secara ekstrim.
Sri Mulyani menegaskan kebijakan bank sentral tersebut akan berdampak bagi pertumbuhan ekonomi dunia. Bahkan, negara berkembang pun ikut merasakan efeknya. Kendati demikian, tak semua negara dihantui oleh resesi.
Beberapa negara dianggap mampu lolos dari resesi dan bahkan diramal mencatat pertumbuhan yang baik. Lantas, mana saja negara yang mampu lolos resesi 2023?
Baca juga: IMF Sebut Jerman dan Italia akan Tergelincir Resesi 2023
Berikut beberapa negara yang mampu lolos resesi 2023, yang telah faktualid.com rangkum dari berbagai sumber.
Daftar isi
1. Swiss

Foto Ilustrasi (Istimewa)
Negara yang mampu lolos resesi 2023, yang pertama yaitu Swiss. Kepala Ekonom Swiss, Eric Scheidegger mengatakan, perekonomian negara tersebut berada di kondisi yang baik kendati di tengah ancaman inflasi serta krisis pasokan energi.
Meski ada krisis, ia tidak melihat krisis ekonomi yang serius mengarah ke Swiss. Scheidegger justru mengatakan Swiss dinilai akan lolos dari bayang-bayang resesi meskipun adanya ancaman dari tekanan pasokan energi.
Perekonomian Swiss tidak terpengaruh pada harga energi dibandingkan dengan negara Eropa lainnya. Penggunaan gas di Swiss hanya 5 persen dari total konsumsi energi. Dalam skenario terburuk, Swiss memperkirakan pertumbuhan nol untuk 2023.
Inflasi di Swiss sejauh ini masih berada 3,4 persen, yang mana angka tersebut terbilang rendah dibanding negara Eropa lainnya.
2. Belanda
Masih di Eropa, Belanda merupakan negara yang mampu lolos resesi 2023. Dibandingkan dengan negara Eropa lain, dkonomi di negara tersebut masih dalam kondisi yang lebih baik.
Ekonomi Belanda menunjukkan pemulihan yang kuat dari pandemi Covid-19, dengan pertumbuhan tidak kurang dari 5 persen pada 2021. Namun pada 2022-2023 tampaknya akan menjadi tahun yang sulit secara ekonomi.
Baca juga: 6 Cara Menghadapi Resesi 2023, Tetap Berinvestasi dan Pandai Kelola Keuangan!
Belanda akan mengalami kontraksi ekonomi pada kuartal terakhir 2022 dan memasuki awal 2023. Kendati demikian, resesi yang mereka prediksi pada pertumbuhan untuk 2022 harus menjadi 4,7 persen. Belanda memperkirakan angka itu akan melemah menjadi 0,5 persen pada 2023 dan dinilai bakal lolos dari resesi.
3. Vietnam

Ilustrasi Vietnam (Foto: Istimewa)
Negara yang mampu lolos resesi 2023 berikutnya yaitu Vietnam. Bank Pembangunan Asia, ADB memperkirakan pertumbuhan ekonomi Vietnam akan tumbuh 6,7 persen di tahun 2023. Hal itu menandakan bahwa perekonomian negara di Asia Tenggara ini memiliki kinerja cukup baik di tengah ketidakpastian ekonomi global.
“Rantai pasokan pangan global yang dipulihkan akan meningkatkan produksi pertanian tahun ini, tetapi biaya input yang tinggi masih akan menghambat pemulihan sektor pertanian,” tulis laporan ADB.
Lebih lanjut, melemahnya permintaan global telah memperlambat manufaktur Vietnam. Namun, prospek sektor ini tetap bullish mengingat investasi asing langsung yang kuat di sektor ini.
4. Filipina
Pada 2021, ekonomi Filipina mulai tumbuh sebesar 5,6 persen. Dalam Asian Development Outlook 2022, PDB Filipina diproyeksikan tumbuh sebesar 6 persen. Menurut Country Director ADB Filipina Kelly Bird, hampir semua indikator menunjukkan pertumbuhan yang tinggi untuk Filipina pada 2022 dan pada 2023.
Baca juga: Kabar Buruk, Sri Mulyani Perkiraan Dunia Resesi di 2023
Namun terdapat pengecualian terhadap dampak faktor eksternal dari ketegangan geopolitik yang menghambat pertumbuhan secara global. ADB memperkirakan inflasi Filipina akan meningkat 4,2 persen pada 2022 yang disebabkan melonjaknya harga minyak serta komoditas global.
Tapi tahun depan, inflasi diproyeksi melambat menjadi 3,5 persen. Hal tersebut membuat Filipina diprediksi menjadi salah satu negara yang mampu lolos resesi 2023. Itu terlihat dari pemulihan di Filipina seperti mobilitas masyarakat yang pulih hingga kasus Covid-19 yang mengalami penurunan.
5. Malaysia

Ilustrasi Twin Tower Malaysia (Foto: Istimewa)
Menurut Ketua Bursa Malaysia Tan Sri Abdul Wahid Omar, Malaysia diprediksi lolos dari bayang-bayang resesi. Di Malaysia, sektor pertanian serta pertambangan menyumbang 14 persen dari PDB (Produk Domestik Bruto), sektor jasa menyumbang 57 persen, sektor manufaktur menyumbang 24,3 persen.
Faktor yang berkontribusi pada ketahanan Malaysia merupakan kekuatan serta stabilitas sistem keuangan. Tan Sri Abdul Wahid Omar mengatakan, bank Malaysia dikapitalisasi, dikelola dengan baik, diatur, serta diawasi oleh Bank Negara Malaysia.
Selain itu, sistem keuangan Malaysia dilengkapi dengan pasar modal utang serta ekuitas yang baik. Per Juni 2022, pasar modal utang menyumbang RM1,8 triliun, pasar modal ekuitas menyumbang RM1,7 triliun. Tak heran bila Malaysia digolongkan ke dalam negara yang mampu lolos resesi 2023.
Baca juga: Di Tengah Isu Resesi, Menteri Bahlil: Ekonomi Global 2023 Diramalkan Gelap
Bagimana dengan Indonesia?
Ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh 5 persen pada tahun 2023, terpangkas dari proyeksi sebelumnya 5,2 persen. Hal ini sejalan dengan kondisi eksternal yang penuh ketidakpastian.
Kondisi ini, menurut ADB, bisa mempengaruhi kinerja ekspor Indonesia. Kendati demikian, ADB menilai pemulihan ekonomi Indonesia masih sesuai dengan jalurnya.
Menurut Sri Mulyani, perekonomian Indonesia masih cukup sehat dan aman dari ancaman resesi. Namun, disisi lain Indonesia masih memiliki risiko resesi ekonomi yang dialami Indonesia, yakni sebesar 3 persen.
Itulah beberapa negara yang mampu lolos resesi 2023. Meski dikatakan aman, negara diatas juga perlu waspda mengingat dunia dibayang-bayangi ketidakpastian ekonomi global.***













