Ekonomi
Harga Telur Anjlok Karena Produknya Melimpah

Suasana Dialog Interaktif Dinamika Jawa Timur secara virtual. (Foto: Istimewa)
FAKTUAL-INDONESIA: Kondisi peternak dirasakan semakin berat sejak adanya Covid-19 pada 2020 lalu. Selain harga produksi telur yang tidak stabil dan cenderung sering jatuh, harga pakan justru melambung tinggi, mulai dari konsentrat, pakan pabrikan hingga jagung.
Menurut Ketua Peternak Unggas Sejahtera (Putera) Blitar, Sukarman, ditambah adanya PPKM, penyerapan telur menjadi semakin kurang lancar, meski sebetulnya hasil produksi di tingkat peternak cenderung stabil. “Peternak mencari jalan keluar dengan meminta kepada pemerintah untuk pemulihan harga pakan terutama jagung dan agar harga telur bisa naik,” ujarnya, Senin (4/10/2021).
Saat ini, kata dia, harga telur sudah sangat murah bahkan sudah dibawah harga Permendag yang Rp19.000 dan harga batas atasnya Rp21.000, sedangkan harga telur di Blitar akhir–akhir ini hanya di kisaran Rp13.500 hingga Rp16.000 perkilo.
Menurut Kasi Pemasaran Hasil Paternakan Dinas Peternakan Prov Jatim, Tri Yatmini, dalam dialog interaktif Dinamika Jawa Timur, menyebutkan bahwa penurunan harga telur disebabkan peternakan petelur di Jawa Timur yang sudah melimpah. Sedangkan pemasaran keluar provinsi sudah banyak yang tertutup apalagi dengan kondisi pandemi.
Pada 2021, produksi telur di Jawa Timur diprediksi mencapai 572 Ribu ton, sedangkan kebutuhannya sekitar 559 ribu ton. Dalam kodisi normal diperkirakan surplusnya 13.090 ton. “Tapi pada saat ini karena penyerapan juga rendah, otomatis surplusnya lebih besar yang tidak terserap oleh pasar, Akibatnya harga semakin anjlok,” ujarnya.
Upaya konkrit yang sudah dilakukan Pemprov Jatim adalah melalui BPBD sudah melakukan pembagian telur kepada ponpes dan lembaga kesejahteraan sosial sebanyak 93 ton. Untuk harga mengacu pada Kemendag No 7 Tahun 2020 yang Rp21.000 perkilogram.
Sementara Dinas Peternakan Jatim mengaku sudah melakukan edukasi dan sosialisasi untuk melakukan gemar minum susu dan protein hewani terutama telur yang diharapkan akan meningkatkan penyerapan telur yang ada di pasar. Para PNS juga dihimbau untuk melakukan pembelian telur. Pada awal pandemi, di Jawa Timur juga ada lumbung pangan, yang berfungsi mendekatkan produsen telur ke lumbung pangan yang selanjutnya melakukan pemasaran secara online.
Sementara Wakil Direktur II Sekolah Pasca Sarjana Unair, Sri Pantja Madyawati, menyatakan bahwa polemik anjloknya harga telur di pasaran karena tidak adanya keseimbangan antara produksi yang melimpah dengan permintaan pasar karena faktor pandemi. “ADa efek domino yang berurutan mulai dari peternak, harga pakan, bibit ayam, biaya produksi, biaya pemeliharaan dan menurunnya daya beli masyarakat,” ujarnya.***














