Connect with us

Ekonomi

Ya Ampun, Rupiah dan IHSG BEI Kompak Melemah di Penutupan Perdagangan Akhir Pekan

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Dalam penutupan perdagangan valuta dan saham akhir pekan, Jumat (28/11/2025), nilai tukar (kurs) rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sama-sama melemah

Dalam penutupan perdagangan valuta dan saham akhir pekan, Jumat (28/11/2025), nilai tukar (kurs) rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sama-sama melemah

FAKTUAL INDONESIA: Ya ampun, rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) harus melewati akhir pekan dengan posisi melemah.

Baik nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) maupun IHSG BEI pada perdagangan valuta dan saham, Jumat (18/11/2025) sore, ditutup melemah.

Pada perdagangan terakhir pekan ini, nilai kurs rupiah sudah melemah sejak pembukaan ketika dibuka  Rp16.641 per dolar AS. Melemah lima poin atau 0,03 persen dari sebelumnya Rp16.636 per dolar AS.

Rupiah terus tertekan sehingga ditutup melemah 39 poin atau 0,23 persen menjadi terhadap dolar AS. Nilai tukar rupiah menjadi menjadi Rp16.675 per dolar AS.

Baca Juga : Rupiah Tancap Gas, Giliran IHSG BEI Tergelincir ke Zona Merah

Sementara Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga melemah di level Rp16.661 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.644 per dolar AS.

Advertisement

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyampaikan bahwa penguatan dolar kembali menekan pergerakan rupiah.

“Beberapa data ekonomi AS yang tertunda yang dirilis sejauh ini menunjukkan gambaran yang beragam akan kesehatan ekonomi AS, dengan Nonfarm Payroll (NFP) bulan September yang lebih kuat dari perkiraan, Indeks Harga Produsen (PPI) inti yang lebih lemah, dan Pesanan Barang Tahan Lama yang optimis, kontras dengan Penjualan Ritel yang lebih lemah dan peningkatan Tingkat Pengangguran,” tulis Ibrahim dalam publikasi risetnya sore ini.

Seperti dilansir indopremier.com, meskipun demikian, pelaku pasar masih optimistis The Federal Reserve bakal memangkas suku bunga acuannya pada Desember 2025. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin mencapai sekitar 85%.

Selain itu, dinamika geopolitik turut membayangi pasar. Dorongan baru AS untuk mendorong perundingan damai Ukraina-Rusia kembali mengemuka juga turut mempengaruhi pasar.

Baca Juga : Rupiah Slip di Garis Finish, IHSG Melaju Sejak Start

Dari dalam negeri, pemerintah berharap ekonomi kuartal IV-2025 masih bisa terdongkrak. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemindahan dana pemerintah dari Bank Indonesia (BI) ke bank-bank Himbara akan memberi dorongan tambahan pada aktivitas ekonomi.

Advertisement

“Kebijakan pemindahan dana ini akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi sekitar 0,2% pada kuartal IV-2025,” jelas Purbaya.

Untuk perdagangan Senin (1/12), rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak di rentang Rp16.670-Rp16.710 per dolar AS.

Menguat Saat Pembukaan

Dari bursa saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat sore ditutup melemah melemah 37,15 poin atau 0,43 persen ke posisi 8.508,71 Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 6,27 poin atau 0,74 persen ke posisi 845,76.

Ketika pembukaan perdagangan saham Jumat pagi, IHSG memberikan harapan ketika dibuka menguat 9,80 poin atau 0,11 persen ke posisi 8.555,66. Sementara, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 0,78 poin atau 0,09 persen ke posisi 851,25.

Advertisement

Namun  IHSG bergerak ke teritori negatif hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua IHSG masih betah di zona merah hingga penutupan perdagangan saham.

Baca Juga : Rupiah Masih Perkasa, IHSG BEI Malah Loyo setelah Cetak Rekor Tertinggi ATH, Kenapa?

Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak pada rentang 8.495-8.572. Total volume perdagangan saham di bursa hari ini mencapai 40,27 miliar saham dengan total nilai Rp 19,63 triliun.

Berdasarkan pengamatan terdapat 282 saham naik, 370 saham turun dan 159 saham stagnan. Enam indeks sektoral menguat, sedangkan lima indeks sektoral lainnya tergelincir ke zona merah.

Indeks sektoral dengan kenaikan terbesar adalah sektor energi yang naik 1,25%, sektor properti naik 1,02% dan sektor infrastruktur yang naik 0,62%. Sedangkan indeks sektoral dengan pelemahan terdalam adalah sektor teknologi yang turun 2,60%, sektor Kesehatan turun 0,90% dan sektor barang baku yang turun 0,59%.

Tiga emiten yang mengalami top losers pada sore hari ini adalah PT Amman Mineral Internasional tbk (AMMN) turun 5,04%. Diikuti PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) turun 4,39% dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang turun 3,29%.

Advertisement

Baca Juga : Rupiah Menguat di Akhir Pekan, IHSG BEI Malah Melemah dari Pagi Sampai Sore

Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) menjadi salah satu saham yang melemah sore ini. Saham BBRI turun 1,60% ke level Rp3.680 per saham akhir pekan ini.

Lalu saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI) juga turun 1,32% hari ini. Saham WIFI melemah ke level Rp3.730 pada hari ini. Demikian juga saham Grup Bakrie PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) yang melemah 1,02% ke level Rp975 per saham hari ini.

Saham-saham lain yang juga melemah adalah saham ANTM turun 3% ke level Rp2.910 per saham, saham BRPT melemah 0,56%.

Dikutip dari vibiznews.com, menurut Analis Vibiz Research Center dari dalam negeri, pelaku pasar menunggu data terbaru ekonomi menjelang PMI Manufaktur November minggu depan. Dan data resmi penting, termasuk inflasi November dan data perdagangan Oktober.

Baca Juga : Rupiah Masih Melemah, IHSG BEI Menguat Mulai Perdagangan Dibuka Sampai Ditutup

Sementara itu, dari global, Bursa Asia cenderung melemah dibatasi kurangnya katalis dari Wall Street Amerika Serikat yang Kamis kemarin libur Thanksgiving.

Advertisement

Pelaku pasar juga cenderung berhati-hati menjelang rilis data ekonomi di masing-masing negara pada minggu depan. Di sisi lain pelaku pasar mencermati rilis data ekonomi China.

Dengan angka PMI resmi China untuk bulan November yang akan dirilis akhir pekan ini. Angka ini menunjukkan aktivitas manufaktur menyusut selama tujuh bulan, dan sektor jasa tetap lesu.

Hal ini membuat kekhawatiran volatilitas dapat berlanjut menjelang akhir tahun. Pasar juga mencermati perkembangan hubungan diplomatik Jepang dan China yang dikhawatirkan akan memanas. ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement