Connect with us

Ekonomi

WEFAM 2022 > Menko Airlangga Sampaikan Langkah Konkret dalam Transisi Energi dan Peningkatan Perekonomian Indonesia

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto didampingi Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita pada sesi workshop dan road to G20 dalam rangkaian WEFAM 2022 di Davos, Swiss, Selasa (24/5/2022)

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto didampingi Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita pada sesi workshop dan road to G20 dalam rangkaian WEFAM 2022 di Davos, Swiss, Selasa (24/5/2022)

FAKTUAL-INDONESIA: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan tentang langkah konkret Indonesia wujudkan transisi energi yang adil dan terjangkau serta terobosan baru dalam strategi pendanaan dalam rangkaian pertemuan World Economic Forum Annual Meeting (WEFAM) 2022 di Davos, Swiss,

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan langkah konkret Indonesia wujudkan transisi energi yang adil dan terjangkau ketika menjadi panelis pada sesi workshop bertema “Financing a Just Transition in Emerging Markets”, Selasa (24/5/2022).

Pada hari yang sama dan juga di Davos Swiss, Menko Airlangga menyampaikan terobosan baru dalam strategi pendanaan dalam dialog bersama yang digelar oleh Tri Hita Karana sebagai salah satu kegiatan Road to G20.

Kurangi Bahan Bakar Fosil

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan langkah konkret Indonesia wujudkan proses transisi energi yang adil dan terjangkau ketika menjadi panelis pada sesi workshop bertema “Financing a Just Transition in Emerging Markets” dalam rangkaian pertemuan World Economic Forum Annual Meeting (WEFAM) 2022 di Davos, Swiss, Selasa (24/5/2022).

Advertisement

Workshop tersebut mengupas tentang best practices yang dapat diimplementasikan oleh Pemerintah, pelaku bisnis, dan masyarakat untuk meningkatkan pembiayaan dalam mewujudkan transisi energi yang adil dan terjangkau, khususnya di negara berkembang.

Disebutkan Menko Airlangga, Indonesia berkomitmen mengurangi penggunaan bahan bakar fosil secara bertahap demi keamanan iklim di masa depan. Komitmen tersebut terwujud dalam berbagai langkah konkret dan inovatif di antaranya, platform SDG Indonesia One yang telah mencapai USD3,2 miliar dalam waktu kurang dari 4 tahun, penerbitan Sukuk Hijau, dan rencana mekanisme penerapan carbon pricing untuk mobilisasi peralihan energi di sektor swasta.

Selain itu, ada juga program Energy Transition Mechanism (ETM) dengan Asian Development Bank, dan secara kolektif mengurangi emisi gas CO2 sebesar 200 juta ton per tahun secara bersama dengan Filipina dan Vietnam.

Lebih lanjut, Menko Airlangga juga menjelaskan bahwa Indonesia mengambil bagian dalam mencapai phase down batu bara. Untuk itu, Menko Airlangga kembali mengingatkan tugas penting generasi ini untuk mewariskan planet yang layak huni bagi generasi mendatang. Perlu dilakukan transformasi pada gaya hidup manusia, terutama di sektor energi yang mewakili 72% dari total emisi global.

Tidak hanya berfokus dengan proses transisi energi, Menko Airlangga menegaskan bahwa Pemerintah juga memikirkan lapangan pekerjaan di sektor pertambangan batu bara yang akan terdampak dari transisi energi yang dilakukan.

Advertisement

“Untuk mengatasi dilema ini, kita harus menciptakan lapangan pekerjaan yang lebih baik dan lebih ramah lingkungan, serta berinvestasi dalam pelatihan dan reskilling pekerja. Hanya dengan begitu, transisi energi ini dapat disebut adil,” kata Menko Airlangga.

Transisi energi yang adil dan terjangkau menuju ekonomi hijau dapat menghasilkan hingga USD26 triliun dalam net benefits dan 65 juta pekerjaan bernilai tinggi pada tahun 2030. Namun dibutuhkan biaya besar untuk mencapainya. Misalnya, dibutuhkan sekitar USD25 miliar untuk menurunkan 5,5 gigawatt pembangkit listrik tenaga batu bara di Indonesia secara bertahap atau setara dengan seperempat dari pendanaan iklim tahunan yang dijanjikan oleh negara maju kepada negara berkembang.

Menanggapi hal ini, Menko Airlangga menegaskan pentingnya negara-negara maju untk memenuhi komitmen dalam penyediaan dana guna mendukung transisi energi global setiap tahunnya.

Tri Hita Karana

Sementara itu dalam rangka mempererat kerja sama bilateral serta memperkokoh koordinasi menuju penyelenggaran G20, Menko  Airlangga menghadiri kegiatan dialog bersama yang digelar oleh Tri Hita Karana sebagai salah satu kegiatan Road to G20 pada Selasa (24/5/2022), di Davos, Swiss.

Advertisement

Dalam kegiatan dialog tersebut, Menko Airlangga menyampaikan adanya peningkatan perekonomian Indonesia serta  komitmen Pemerintah untuk terus mendukung dan mendorong pencapaian SDGs 17 melalui mobilisasi upaya global untuk mengakhiri kemiskinan, mendorong perdamaian, menjaga hak dan martabat semua orang, serta melindungi planet.

“Kondisi perekonomian domestik telah mengalami perbaikan ditandai dengan pertumbuhan ekonomi positif pada kuartal pertama 2022 sebesar 5,1%,” ujar Menko Airlangga.

Dengan komitmen Pemerintah dalam mendorong SDGs 17 tersebut, diharapkan mampu mendorong peran pihak swasta guna melakukan kerja sama secara komprehensif terutama terkait dengan pendanaan dan pembiayaan SDGs. Adapun terkait pembiayaan SDGs tersebut, Pemerintah Indonesia menerapkan strategi blended financing agar dapat memobilisasi dana publik dan swasta melalui struktur pembiayaan yang inovatif.

Pada akhir sambutannya, Menko Airlangga turut mendorong keterlibatan seluruh pihak baik yang berasal dari swasta maupun institusi pemerintah dalam mendukung strategi pendanaan blended financing tersebut.

“Saya juga turut mengundang seluruh mitra Forum Tri Hita Karana, institusi pemerintah, bank pembangunan multilateral, pelaku keuangan, bisnis, akademisi, lembaga swadaya masyarakat, filantropi, dan pemangku kepentingan strategis untuk bergabung dengan Global Blended Finance Alliance, sebagai salah satu terobosan baru dalam strategi pendanaan,” tutup Menko Airlangga.

Advertisement

Sebagai informasi, Tri Hita Karana Investors Unite in Diversity merupakan sebuah inisiatif yang diluncurkan di Singapura pada 13 September 2021 dan didukung oleh otoritas moneter Singapura, Kanada, dan OECD. Inisiasi tersebut dalam bentuk sebuah aksi Blended Billion for Planetary Health yang dalam agenda KTT G20 di Bali pada November 2022 mendatang, akan diadakan forum Tri Hita Karana bersama- sama dengan B20, World Economic Forum, Bloomberg, dan mitra lainnya untuk pendanaan atau investasi dengan target sebesar US$30-50 miliar. ***

Lanjutkan Membaca
Advertisement