Connect with us

Ekonomi

Rupiah Tancap Gas Menguat Tajam, IHSG Malah Loyo Memerah

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Pasar keuangan Indonesia hari ini, Kamis (26/2/2026), menyuguhkan drama rupiah berhasil menunjukkan taringnya, namun di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI)  justru harus tergelincir memerah.

Pasar keuangan Indonesia hari ini, Kamis (26/2/2026), menyuguhkan drama rupiah berhasil menunjukkan taringnya, namun di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) justru harus tergelincir memerah.

FAKTUAL INDONESIA: Hari ini, Kamis (26/2/2026), pasar keuangan Indonesia menyuguhkan drama yang kontras. Di satu sisi, rupiah berhasil menunjukkan taringnya, namun di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI)  justru harus “babak belur” akibat tekanan jual yang masif.

Dinamika yang berlawanan (divergent) ini menunjukkan bahwa investor saat ini sedang melakukan strategi rebalancing. Penguatan rupiah didorong oleh ekspektasi stabilitas makro dan politik luar negeri.

Sementara pelemahan IHSG lebih mencerminkan aksi ambil untung (profit taking) dan kekhawatiran spesifik pada emiten sektor riil yang terdampak biaya operasional tinggi.

Rupiah Terbang Lebih Tinggi

Kabar baik datang dari pasar uang pagi ini. Mata uang rupiah sukses “tancap gas” dan terbang lebih tinggi meninggalkan tekanan hari-hari sebelumnya.

Advertisement

Setelah sempat loyo pada awal pekan, nilai tukar rupiah akhirnya menunjukkan taringnya. Pada perdagangan Kamis (26/2/2026) pagi, rupiah dibuka menguat tajam sebesar 51 poin atau 0,30% ke level Rp16.749 per dolar Amerika Serikat (AS).

Sepanjang hari, mata uang Garuda bergerak perkasa di rentang Rp16.700 – Rp16.800. Penguatan ini menjadi oase di tengah fluktuasi pasar global yang masih dihantui oleh ketidakpastian kebijakan ekonomi dari Paman Sam.

Rupiah menguat hari ini ditunjang oleh beberapa faktor kunci. Diantaranya, komitmen tarif trump dimana investor merespons positif pernyataan terbaru terkait kebijakan tarif AS yang mendorong pasar mengalihkan aset dari dolar ke mata uang emerging markets, termasuk rupiah.

Setelah itu faktor aksi borong asing yang menunjukkan kepercayaan investor global mulai pulih, terlihat dari arus modal masuk (net foreign buy) yang cukup masif di pasar keuangan domestik.

Tidak bisa dilupakan sentimen kawasan di mana rupiah menguat sejalan dengan mayoritas mata uang di Asia yang juga sedang dalam tren positif terhadap Greenback.

Advertisement

Meskipun hari ini rupiah berhasil “perkasa,” para analis mengingatkan agar tetap waspada. Untuk perdagangan esok hari, rupiah diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif di kisaran Rp16.750 – Rp16.780.

Faktor eksternal seperti pidato pejabat bank sentral AS (The Fed) masih menjadi radar utama yang bisa mengubah arah angin sewaktu-waktu.

IHSG Tergelincir ke Zona Merah

IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) menutup perdagangan hari ini dengan langkah gontai. Sempat memberikan harapan di pagi hari, indeks justru tergelincir ke zona merah hingga akhir bel penutupan.

IHSG resmi ditutup melemah signifikan sebesar 86,97 poin atau 1,04% ke level 8.235,26. Padahal, pada pembukaan pagi tadi, indeks sempat tampil percaya diri di level 8.351 dan bahkan menyentuh posisi tertinggi hariannya di 8.358.Sayangnya, memasuki sesi kedua, tekanan jual yang deras membuat indeks terus merosot hingga sempat menyentuh level terendahnya di 8.139.

Advertisement

Beberapa sentimen “awan hitam” menjadi penyebab utama lesunya lantai bursa:

  • Pelebaran Defisit APBN: Pasar bereaksi negatif terhadap pengumuman pemerintah mengenai kenaikan target defisit anggaran 2026 menjadi 2,68%. Hal ini memicu kekhawatiran terkait ruang fiskal dan beban utang negara.
  • Tensi Geopolitik: Ketegangan di Timur Tengah (AS-Iran) yang berisiko mengganggu jalur perdagangan minyak di Selat Hormuz membuat investor global cenderung bermain aman (risk-off) dan menarik dana dari pasar negara berkembang.
  • Aksi Ambil Untung: Sejumlah investor memanfaatkan momentum untuk melakukan profit taking setelah indeks sempat berada di level yang cukup tinggi pada beberapa sesi sebelumnya.

Statistik Pasar & Sektor yang Tertekan (26 Feb 2026)

Pelemahan hari ini bersifat menyeluruh, di mana sebanyak 594 saham parkir di zona merah.

Sektor / Indeks            Pergerakan      Keterangan

Sektor Transportasi     ⬇️ -4,54%      Penurunan terdalam hari ini

Sektor Infrastruktur    ⬇️ -2,41%      Tertekan sentimen kenaikan biaya

Advertisement

Sektor Perbankan        ⬇️ -0,52%      BBCA, BBRI, dan BBNI kompak melemah

Indeks LQ45                 ⬇️ -0,61%      Bertahan di level 837,89

Meski IHSG tumbang, investor asing justru tercatat melakukan beli bersih (net buy) tipis sebesar Rp341,26 miliar. Saham seperti NCKL (Trimegah Bangun Persada) dan IMPC (Impack Pratama) menjadi buruan asing di tengah kejatuhan harga.

Melihat penutupan hari ini yang berada di bawah level psikologis 8.300, para analis memperkirakan IHSG masih akan bergerak fluktuatif pada perdagangan Jumat. Jika sentimen global terkait harga minyak dan geopolitik belum mereda, indeks kemungkinan akan menguji level support kuat di kisaran 8.150 – 8.200. ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement