Ekonomi
Rupiah Senin 11 Mei 2026: Semakin Loyo namun Keyakinan Masyarakat Tetap Terjaga, Besok Bagaimana?

Nilai tukar (kurs) rupiah bikin menggigil karena melemah dan melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai dari pembukaan hingga penutupan perdagangan valuta asing Senin (11/5/2026). (Ist)
FAKTUAL INDONESIA: Penampilan rupiah pada perdagangan valuta asing semakin loyo terhadap dolar Amerika Serikat (AS), Senin (11/5/2026), bukan saja sudah di atas Rp14.400 namun kembali mengarah ke posisi terlemah sepanjang masa, Rp14.424.
Meskipun demikian kepercayaan masyarakat tetap terjaga terhadap kondisi ekonomi nasional sehingga menjadi pertanyaan bagaimana dengan nasib rupiah esok hari, Selasa (12/5/2026)?
Yang jelas rupiah terus mendapat tekanan hebat pada perdagangan awal pekan ini. Rupiah sudah memasuki zone merah ketika dibuka melemah 4 poin atau 0,02 persen menjadi Rp17.386 dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.382 per dolar AS.
Rupiah semakin loyo saat penutupan perdagangan, Senin sore, ketika ditutup makin melemah menjadi 32 poin atau 0,18 persen menjadi Rp17.414 per dolar AS. Angka yang dikhawatirkan makin mengarah ke posisi terlemah sepanjang masa Rp14.424 yang dicatat Selasa (5/5/2026) lalu.
Sementara itu Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Senin ini juga bergerak melemah ke level Rp17.415 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.375 per dolar AS.
Pelemahan rupiah sejalan dengan rontoknya mayoritas mata uang Asia lainnya, di mana Peso Filipina dan Rupee India juga mencatatkan koreksi tajam.
Sentimen ‘Panas’ Timur Tengah
Analis menilai pelemahan rupiah hari ini dipicu oleh faktor eksternal yang cukup dominan, di antaranya:
- Tensi AS-Iran Memanas: Penolakan keras Donald Trump terhadap proposal perdamaian dari Iran menciptakan ketidakpastian tinggi di pasar global. Hal ini memicu investor untuk mengalihkan aset mereka ke dolar AS yang dianggap lebih aman (safe haven).
- Lonjakan Harga Minyak: Meningkatnya risiko geopolitik di Selat Hormuz turut mengerek harga minyak dunia, yang secara tidak langsung memberikan tekanan tambahan bagi neraca perdagangan Indonesia sebagai importir minyak.
- Menanti Data Inflasi AS: Pelaku pasar saat ini tengah bersikap waspada menjelang rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat yang diprediksi akan menentukan arah kebijakan suku bunga The Fed selanjutnya.
Meski ditekan sentimen global, Bank Indonesia mencatat bahwa optimisme konsumen domestik sebenarnya masih terjaga. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) per April 2026 tetap berada di zona positif pada level 123,0. Namun, derasnya arus modal keluar akibat sentimen global tampaknya lebih dominan mengendalikan arah gerak rupiah sore ini.
“Kombinasi antara tekanan geopolitik dan musiman permintaan valas untuk dividen membuat depresiasi rupiah terasa lebih berat di bulan Mei ini,” ungkap pengamat pasar uang.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebut rupiah bergerak tertekan sepanjang perdagangan hari ini. Dari sisi eksternal, tekanan datang dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Investor kini masih mencermati perkembangan di Selat Hormuz yang menjadi jalur strategis energi global, di tengah kekhawatiran potensi gangguan pasokan.
Seperti dilansir periskop, Ibrahim menekankan, ketegangan ini juga terjadi menjelang agenda diplomatik pekan ini, termasuk rencana kunjungan Trump ke China dan pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing. Pertemuan tersebut diperkirakan membahas isu perdagangan, Taiwan, hingga konflik Iran, dengan China dipandang sebagai aktor diplomatik penting.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia mencatat keyakinan konsumen pada April 2026 tetap berada di zona optimistis.
Survei Konsumen Bank Indonesia menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) berada di level 123,0, naik tipis dari 122,9 pada Maret 2026. Level di atas 100 menandakan konsumen masih optimistis terhadap kondisi ekonomi. Kenaikan IKK terutama ditopang oleh Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang meningkat menjadi 116,5 dari sebelumnya 115,4.
“Kenaikan IKE menunjukkan persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini, termasuk ketersediaan lapangan kerja, penghasilan, dan daya beli, mengalami perbaikan dibandingkan bulan sebelumnya,” kata Ibrahim.
Sementara itu, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) tetap berada di zona optimistis sebesar 129,6, meski sedikit turun dari 130,4 pada Maret 2026. Penurunan tipis ini menunjukkan konsumen masih percaya pada prospek ekonomi ke depan, namun dengan tingkat optimisme yang sedikit lebih moderat.
“Level indeks di atas 100 mencerminkan konsumen masih memiliki optimisme terhadap kondisi ekonomi,” ungkap dia.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, berpandangan pelemahan rupiah hari ini sejalan dengan tekanan yang juga dialami mayoritas mata uang regional Asia terhadap dolar AS.
Katanya, sentimen utama yang membebani pasar berasal dari memudarnya harapan perdamaian antara AS dan Iran yang kembali memicu lonjakan harga minyak mentah dunia.
“Rupiah dan mata uang regional umumnya melemah terhadap dolar AS oleh menurunnya harapan perdamaian antara AS-Iran, yang kembali memicu kenaikan harga minyak mentah dunia kembali di level US$ 100,” ujar Lukman kepada Kontan, Senin (11/5/2026).
Ia menambahkan, sentimen domestik juga masih cenderung lemah di tengah aksi jual investor asing di pasar saham Indonesia.
Kemudian arus keluar dana asing dari saham-saham di Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turut menekan pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini.
Prediksi Selasa Esok
Rupiah juga diprediksi kembali melemah imbas perhatian pasar pada rilis data inflasi AS bulan April, termasuk Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI) AS.
“Minggu ini, perhatian pasar akan tertuju pada rilis data inflasi AS bulan April, termasuk Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI). Bersamaan dengan itu, data Penjualan Ritel dan pidato para pejabat Federal Reserve juga akan menjadi perhatian pasar,” ujar Ibrahim.
Dia memperkirakan rupiah esok bergerak fluktuatif dengan cendrung melemah. “Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.410 – Rp 17.460,” ungkap Ibrahim.
Sedangkan Lukman untuk perdagangan Selasa (12/5/2026), menilai pelaku pasar akan mencermati rilis data inflasi AS yang dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed).
Selain itu, perhatian investor juga akan tertuju pada agenda pertemuan Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis dan Jumat pekan ini.
“Rupiah bisa menguat maupun melemah, tergantung pada sentimen pasar dari hasil pertemuan tersebut,” lanjutnya.
Ia pun memproyeksikan pergerakan rupiah pada Selasa (12/5/2026) akan berada di kisaran Rp 17.350 hingga Rp 17.450 per dolar AS.
Pergerakan nilai tukar diperkirakan masih akan fluktuatif hingga tengah pekan ini. Tetap waspada terhadap dampak kenaikan harga barang impor akibat pelemahan ini. ***














