Ekonomi
Program Inovasi Listrik Sang Naga Masuk Top 99 Sinovik
Kebun buah naga milik petani Banyuwangi. (Foto: Istimewa)FAKTUALid – Program Binaan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) bernama Listrik Untuk Sang Naga masuk Top 99 Kompetisi Sistem Inovasi Pelayanan Publik (Sinovik) yang digelar oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia (Kemenpan RB). Program inovasi dengan judul Penggunaan Lampu Tingkatkan Produksi Buah Naga telah mulai memasuki tahap penjurian Top 99 Sinovik.
Menurut Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Jatim, Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Banyuwangi, Krisantus H Setyawan, inovasi itu merupakan teknologi tepat guna penggunaan lampu di kebun buah naga pada malam hari, untuk merangsang pembungaan. “Kami mendorong petani buah naga menggunakan listrik untuk mendorong produktivitasnya, kami juga menjaga keandalan pasokannya,” ujarnya, Selasa (27/7/2021).
Kerjasama PLN dengan Dinas Pertahanan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Banyuwang ini dilakukan untuk meningkatkan perekonomian petani. Saat ini pelanggan petani buah naga mereka mencapai 12.743 pelanggan.
Pengecekan lapangan kompetisi ini dilakukan langsung dari lahan buah naga milik petani buah naga, Edi Purwoko di Dusun Tambakrejo, Desa Bulurejo, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi. Secara bergantian, para juri Sinovik melakukan tanya jawab secara langsung.
Dia menjelaskan, para petani buah naga yang menggunakan inovasi ini, bisa panen buah naga di luar musim atau off season. Saat ini dari total luasan lahan buah naga Banyuwangi sebanyak 3.132 hektar, yang 2.608 hektar diantaranya menggunakan lampu.
Elektrifikasi buah naga ini, diklaim telah mendorong peningkatan perekonomian petani. Karena panen dapat dilakukan sepanjang tahun dan setiap hektar lahan yang menggunakan penyinaran, dapat menghasilkan buah naga hingga 77 ton setiap tahunnya.
Para petani menjual hasil panen itu dengan harga Rp4.000 hingga Rp30.000 per kilogram. Pihaknya mencatat ada sekitar 1.362 hektar lahan buah naga yang tersebar di daerah Pesanggaran, Siliragung, Tegaldlimo, Bangunrejo dan Purwoharjo yanjg sudah teraliri listrik.
Menurut petani buah naga tersebut, Edi Purwoko, sebelum menggunakan listrik, buah naga hanya bisa dipanen satu musim saja dengan harga jual per musim panen hanya Rp2.000 – Rp3.000 saja. Sekarang ini, permintaan buah naga dari luar Banyuwangi sudah meningkat pesat.
Bahkan pandemi Covid-19 yang terjadi sekarang tidak berdampak terhadap proses produksi dan permintaan pasar. Pengiriman buah tetap berjalan lancar. “Kami sampai mempekerjakan tenaga kerja dari wilayah di luar Banyuwangi,” ujarnya.***














