Politik
Hasil Survei LSJ Menunjukkan 7,2 Persen Responden Menolak Penundaan Pemilu 2024

FAKTUAL-INDONESIA: Pernyataan Menko Maritim dan investasi (Marves) Luhut Binsar Panjaitan bahwa 110 juta netizen mendukung penundaan Pemilu 2024 bertolak belakang dengan hasil survei yang dilakukan Lembaga Survei Jakarta (LSJ).
Berdasarkan hasil survei LSJ, 7,2 persen responden menolak penundaan Pemilu dan perpanjangan masa jabatan presiden. Ini menunjukkan bahwa akurasi data yang diomongin Luhut perlu dipertanyakan.
“Berdasarkan temuan survei LSJ, sebanyak 71,2 persen responden menyatakan tidak setuju terhadap usulan penundaan Pemilu 2024 dan sekaligus perpanjangan masa jabatan Presiden Jokowi dengan alasan apapun,” kata peneliti LSJ Fetra Ardianto dalam keterangannya di Jakarta, Senin (14/3/2022).
Menurut dia, hanya 18,6 persen responden yang mengaku setuju dengan penundaan pemilu dan sebanyak 10,2 persen responden menjawab tidak tahu atau tidak dapat memberikan tanggapan.
Survei LSJ menemukan bahwa mayoritas publik atau 67,4 persen mengaku puas terhadap kinerja pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi dan sangat diapresiasi publik luas.
“Namun tingginya tingkat kepuasan terhadap kinerja Presiden Jokowi ini ternyata tidak bisa dijadikan pembenaran atau justifikasi untuk memperpanjang masa jabatan Presiden melalui penundaan Pemilu 2024 sebagaimana diusulkan Airlangga Hartarto, Muhaimin Iskandar, dan Zulkifli Hasan,” ujarnya.
Fetra menjelaskan, ada beberapa alasan mengapa mayoritas publik menolak usulan penundaan Pemilu 2024 dan memperpanjang masa jabatan Presiden.
Pertama, ide tersebut merupakan pelanggaran konstitusi. Kedua menurut dia, penundaan pemilu dan perpanjangan masa jabatan Presiden Jokowi dapat memicu munculnya kerusuhan sosial seperti yang terjadi pada akhir kepemimpinan Presiden Soeharto.
“Ketiga, penundaan pemilu dan memperpanjang masa jabatan presiden, akan mencoreng ‘legacy‘ dan nama harum Presiden Jokowi di mata publik,” katanya.
Keempat, penundaan pemilu dan memperpanjang jabatan presiden dapat menghambat sirkulasi kepemimpinan nasional secara periodik yang sudah menjadi kesepakatan nasional pasca-reformasi.
Survei LSJ dilakukan pada 18-28 Februari 2022 di 34 provinsi di seluruh Indonesia dengan sampel survei LSJ kali ini adalah 1.225 responden yang diperoleh melalui teknik pengambilan sampel secara acak bertingkat atau multi-stage random sampling.
Margin of error survei LSJ tersebut adalah +/- 2,8 persen dengan tingkat kepercayaan sebesar 95 persen. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik wawancara tatap muka responden dengan bantuan kuesioner. ***














