Connect with us

Politik

Persenjataan Tempur Indonesia Terancam Bila Rusia Menginvasi Ukraina

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Jet tempur Sukhoi SU-27 dan tank canggih buatan Rusia

Jet tempur Sukhoi SU-27 dan tank canggih buatan Rusia

FAKTUAL-INDONESIA: Indonesia perlu terus mewaspadai dan bahkan menyiapkan langkah-langkah antisipasi bila ketegangan antara Rusia dan Ukraina berbah menjadi konflik bersenjata.

Pasalnya, bila Rusia menginvasi Ukraina maka akan mengancam persenjataan tempur Indonesia terutama yang buatan Rusia.

Pengamat Pertahanan Binus University Curie Maharani Savitri menyampaikan Indonesia merupakan salah satu pengguna senjata buatan Rusia sehingga konflik itu dapat mempengaruhi pengadaan senjata sekaligus perawatan dan pemeliharaannya.

“Krisis akan berlangsung lama dan itu mempengaruhi pengadaan, terutama spare part senjata,” kata Curie saat acara diskusi yang disiarkan oleh kanal Youtube Semar Sentinel di Jakarta, Selasa.

Pengamat lainnya, yang merupakan salah satu pendiri Jakarta Defence Studies (JDS) Ade Marboen menyampaikan sejumlah senjata buatan Rusia yang dimiliki Indonesia di antaranya mencakup kendaraan tempur, pesawat tempur, artileri, helikopter serbu, dan peluru kendali.

Advertisement

“Yang paling terkenal itu tentu Sukhoi,” kata Marboen saat acara diskusi yang dipantau antaranews.com.

Marboen menilai ketegangan antara Rusia dan Ukraina dapat menghambat pemeliharaan dan perawatan sistem persenjataan Indonesia terutama yang dibuat oleh Rusia.

Oleh karena itu, ia mengusulkan pemerintah menjalin komunikasi dengan negara sesama pengguna senjata Rusia terutama untuk memikirkan langkah-langkah mengantisipasi dampak krisis.

“Harus ada pendekatan ke sana, kita dapat mencoba jalur-jalur diplomatik pertahanan maupun diplomasi negara untuk bisa istilahnya menitip perawatan Sukhoi ke sana (Rusia.),” terang Marboen.

Ia menegaskan hambatan dan tantangan yang mungkin terjadi jika konflik Rusia dan Ukraina memanas itu perlu segera diantisipasi oleh pemerintah.

Advertisement

“Ini artinya harus ada upaya lebih untuk membiayai semua tantangan dan hambatan ini serta kerja sama yang baik dari wakil rakyat di DPR serta komunikasi publik yang baik,” tambah dia.

Hasil analisis Binus University terhadap 12 negara menunjukkan India, Vietnam, dan Bangladesh merupakan pengguna terbanyak senjata Rusia.

Dari 12 negara yang diteliti itu, ada 9 negara meningkatkan ketergantungannya pada Rusia selama periode 2008-2020, dan tiga di antaranya yaitu India, Vietnam, dan Thailand, sebut Curie saat menyampaikan hasil kajian.

Sementara itu, Indonesia jadi satu dari tiga negara yang paling banyak mengurangi ketergantungannya pada Rusia. Di samping Indonesia, ada Bangladesh dan Malaysia.

Curie menyampaikan pada 2008 kendaraan tempur buatan Rusia di Indonesia mencapai 38 persen dari total unit yang ada. Namun, jumlah itu berkurang jadi 20 persen pada 2020.

Advertisement

“Untuk artileri 2008 Indonesia punya 16 persen dari Rusia, sekarang 8 persen. Helikopter serbu yang sebelumnya 100 persen, sekarang turun jadi hanya 36 persen,” sebut Curie.

Evakuasi WNI

Anggota Komisi I DPR RI Hasby Anshory meminta Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) untuk mengevakuasi Warga Negara Indonesia (WNI) di Ukraina apabila situasi antara Pemerintah Rusia dan Ukraina memanas.

“Segera tinggalkan Ukraina jika situasi kurang baik,” kata Hasby dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Selasa.

Anggota Fraksi Partai NasDem itu meminta KBRI di Ukraina benar-benar melakukan monitor keadaan WNI.

Advertisement

“Jangan sampai monitor yang dilakukan tidak akurat karena akan membahayakan WNI di Ukraina. Jiwa warga Indonesia sangat berharga karenanya harus benar-benar dilindungi,” kata Hasby.

Sementara itu, Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai NasDem Bidang Hubungan Luar Negeri Martin Manurung meminta Kemenlu untuk mengantisipasi ketegangan yang terjadi di Ukraina dan Rusia.

“Harus dipikirkan langkah-langkahnya dengan segera. Jika perlu memang dilakukan evakuasi WNI di sana (Ukraina),” ujar Martin.

Dengan memburuknya komunikasi di Ukraina, Martin mengusulkan Pemerintah Indonesia agar perlu memainkan perannya dalam kancah dunia. Indonesia dengan politik internasioalnya yang bebas aktif untuk melakukan komunikasi, baik kepada Presiden Rusia Vladimir Putin maupun Presiden AS Joe Biden.

“Setahu saya kedua presiden ini sangat menghormati Indonesia dan Presiden Jokowi,” harapnya.

Advertisement

Apalagi saat ini Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan G20 sehingga menjadi lebih strategis untuk melakukan peran-peran diplomasi atau menjalin komunikasi dengan negara yang menjadi aliansi NATO maupun Rusia guna menghindari ketegangan dan tingginya eskalasi yang terjadi di Ukraina.

Sebelumnya diberitakan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengatakan dirinya sangat khawatir soal peningkatan ketegangan soal Ukraina dan “spekulasi yang meningkat” bahwa konflik militer akan terjadi.

Ia mendesak para pemimpin dunia untuk menggencarkan diplomasi guna menenangkan keadaan.

“Bahkan kemungkinan tentang konfrontasi yang membawa bencana seperti itu tidak bisa kita terima,” kata Guterres kepada pers Senin (14/2), setelah makan siang dengan para duta besar negara-negara anggota Dewan Keamanan PBB.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy, Senin, mengatakan ia mendengar kabar bahwa Rusia akan melakukan serangan pada Rabu (16/2).

Advertisement

Amerika Serikat mengatakan Moskow sedang meningkatkan kekuatan militernya.

Rusia, sementara itu, telah memberi isyarat untuk terus melakukan dialog dengan negara-negara Barat dalam upaya meredakan krisis keamanan.

“Sekarang adalah waktunya untuk menurunkan ketegangan dan mengurangi pergerakan di lapangan. Tidak ada tempat bagi retorika panas. Pernyataan terbuka harus ditujukan untuk menurunkan ketegangan, bukan untuk mengobarkan,” ujar Guterres. ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement