Opini
Catatan Bulutangkis: Sejak Kecil Cinta Bulutangkis Berbuah Medali Emas Olimpiade Tokyo 2020
Oleh : Bert Toar Polii

Bert Toar Polii- pemain nasional bridge yang mendapat Satya Lencana olahraga dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) merangkap pelatih, jurnalis dan di PB Gabsi sebagai Ketua Bidang Humas.
FAKTUALid – Dua putri asal Sulawesi mencatat prestasi spektakuler pada cabang bulutangkis Olympiade Tokyo 2020. Greysia Polii yang berasal dari Sulawesi Utara atau tepatnya Tomohon berpasangan dengan Apriyani Rahayu yang berasal dari Sulawesi Tenggara tepatnya di Konawe berhasil merebut satu-satunya medali emas Indonesi di Olympaide Tokyo 2020.
Mereka yang sebenarnya tidak terlalu diunggulkan untuk meraih medali emas mengingat peringkat dunia mereka hanya bertengger di peringkat keenam berhasil memutar balikan keadaan dengan menang di partai final melawan ganda putri China Chen/Jia peringkat tiga dunia.
Keberhasilan keduanya ini bukan pekerjaan mudah tapi melalui Latihan yang sangat keras sejak mereka masih anak-anak.
Kita mulai dari perjuangan Apriyani Rahayu. Apriyani Rahayu lahir di Konawe 29 April 1998.
Ani panggilan akrabnya adalah putri keempat pasangan Ameruddin dan mendiang Sitti Jauhar.
Ia mencintai olah raga tepok bulu itu sejak belia. Saat usia tiga tahun, Ani sering melihat ibu dan bapaknya bermain bulutangkis di pekarangan rumah mereka. Selanjutnya Ani dibuatkan raket dari kayu dan jerami. Dari sini awal mulanya kemudian tahun 2005 ia mulai ikut turnamen bulutangkis antar kecamatan lanjut Kabupaten dan berkat bakatnya ia melejit ke tingkat Provinsi.
Demi terus mengasah kemampuannya menjadi pebulutangkis, pada tahun 2011 silam, Ani hijrah ke Jakarta bergabung di Klub PB Pelita Bakrie binaan legenda bulu tangkis, Icuk Sugiarto. Ia nyaris saja ditolak, tapi dengan usaha seorang pencari bakat bernama Pa Akib, Icuk akhirnya mau menerima. “Saya dicoba tiga bulan, dan ternyata ada perkembangan. Saya akhirnya bisa gratis latihan,” kenang Ani.
Kisah Ani mirip dengan perjalanan karier Greysia, kedua merangkak dari bawah dengan susah payah tapi dukungan keluarga yang menjadi pendorong.
Greysia Polii besar di Tomohon kemudian untuk mengejar cita-cita sebagai atlet badminton mereka pindah ke Jakarta. Ia lahir lahir tanggal 11 Agustus 1987 dari Willy Polii sang ayah dan ibu Evie Pakasi.
Sejak kecil Greysia Polii memang sudah menunjukkan bakatnya dalam permainan bulutangkis.
Keluarga Greysia Polii memang menggemari olahraga jadi tidak heran kalau Greysia Polii sudah familiar dengan badminton semenjak berusia tiga atau empat tahun.
Saat tinggal di Manado, Greysia Polii melihat anak-anak yang bermain badminton di lapangan terbua dekat rumahnya.
Meski awalnya hanya menggunakan raket yang terbuat dari kayu dan papan triplek, bakat alami Greysia Polii mulai terlihat.
Di Jakarta, Greysia Polii awalnya masuk ke klub Jaya Raya Jakarta dan kemudian bergabung dengan Pelatnas pada 2003.
Mengenai arti Namanya, dalam unggahannya di Instagram, Greysia menuliskan asal nama Greysia yang dibuat oleh sang ayah.
Nama ‘Grey’ yang diberikan orang tuanya terinspirasi dari ‘grey’ yang berarti abu-abu karena ketika melahirkan Greysia, kedua orangtuanya sudah mencapai usia yang tua.
Kemudian nama ‘sia’ yang terinspirasi dari Indone’sia’, ditambahkan menjadi ‘Greysia’.
Dari kisah diatas, untuk mencapai hasil tidak ada jalan instan, semua harus bertahap disertai pengorbanan untuk berlatih secara keras dan berkesinambungan. Beruntung kedua putri berbakat ini selain dukungan keluarga mereka juga berhasil mendarat di Klub besar dengan fasilitas yang lengkat dan pelatih hebat. Terakhir mereka bisa ditempa di Pelatnas.
Sekarang balik mengenai kenapa mereka berhasil meraih medali emas di Olympiade Tokyo 2020 padahal dari sisi peringkat mereka berdua kalah.
Penulis tidak akan membahas dari sisi teknik karena jelas ketika sudah berada di peringkat 10 besar dunia berarti dari segi Teknik sudah tidak diragukan kemampuannya.
Kunci keberhasilan mereka lebih kepada sisi non tehnis. Kedua pemain yang berbeda usia 10 tahun, Greysia 33 tahun dan Apri 23 tahun sejak dijodohkan tahun 2017 telah menjalin hubungan yang harmonis.
Greysia Polii sebagai sang senior mampu memberikan petuah lewat contoh dan teladan. Ia sangat gigih, bersemangat untuk Latihan dan punya keinginan kuat untuk juara dan yang jauh lebih penting ia mampu meredam ego pribadi. Ini yang ia tularkan kepada rekannya Apri yang masih junior.
Greysia tidak menganggap dirinya lebih baik daripada Apri yang masih junior dan sebaliknya juga ia berharap Apri juga mentang-mentang masih muda menganggap dirinya lebih kuat.
Greysia berharap dan memberikan contoh bagaimana harus bersikap untuk saling menerima baik kelemahan maupun kekuatan pasangannya.
Dengan cara demikian terbinalah ikatan bathin antar mereka karena disertai ketulusan dari kedua belah pihak. Greysia berbuat seperti kakak buat Greysia yang terlihat ketika penerimann medali. Greysia yang mengambilkan medali mengalungkan ke Apri dilanjutkan dengan pelukan mesra. Selanjutnya Greysia juga mengambilkan kembang dan mengajarkan Apri untuk menggigit medali saat akan di foto.
Apri juga memperlakukan Greysia sebagai kakak, dalam salah satu foto terlihat Apri melakukan salam takzim dengan mencium tangan Greysia,
Selanjutnya penulis ingin membagikan sekilas laporan pandangan mata partai final : Walaupun hanya menonton lewat komputer ikut merasa ketegangan di arena pertandingan. Namun dari awal menonton sudah yakin Greys dan Apri bisa memenuhi harapan bangsa Indonesia yang tertumpu kepada mereka berdua. Keyakinan saya muncul melihat penampilan mereka yangg sangat tenang, banyak senyum tanpa terlihat ada beban sama sekali. Sungguh berbeda dengan lawannya. Selain tegang ada juga selingan lucunya ketika Greys ditengah pertandingan sempat-sempatnyanya keluar lapangan untuk mengganti raket. Untung saja Apri sigap dan mampu mencetak point. Tapi yang paling mengharukan adalah ketika menonton penyerahan medali dimana bendera merah putih dikibarkan dan lagu kebangsaan Indonesia Raya di kumandangkan. Suasana kemudian menjadi gembira selesai penyerahan medali yang membuat kedua atlet kita sempat mencucurkan airmata gembira. Didepan kamera , Greys memamerkan medali emasnya dan berkata, ini buat kalian semua diringi senyum yg selalu menhiasi wajahnya.

Dua putri Sulawesi Gresyia Polii dan Apriyani Rahayu sejarah menyumbang medali emas ganda putri bulutangkis Olimpiade 2020 Tokyo
Selamat kepada Greysia Polii/Apriyani Rahayu yang telah memberikan hadiah indah untuk HUT RI ke 76 dengan satu-satunya medali emas sekaligus mencatatkan diri sebagai peraih medali emas pertama dari nomor ganda putri.
Inilah daftar peraih medali emas Olympiade sejak cabang olahraga bulutangkis dipertandingkan.
Susi Susanti – Olimpiade Barcelona 1992 (bulu tangkis, tunggal putri)
Alan Budikusuma – Olimpiade Barcelona 1992 (bulu tangkis, tunggal putra)
Rexy Mainaky/Ricky Subagja – Olimpiade Atlanta 1996 (bulu tangkis, ganda putra)
Tony Gunawan/Candra Wijaya – Olimpiade Sydney 2000 (bulu tangkis, ganda putra)
Taufik Hidayat – Olimpiade Athena 2004 (bulu tangkis, tunggal putra)
Hendra Setiawan/Markis Kido – Olimpiade Beijing 2008 (bulu tangkis, ganda putra)
Liliyana Natsir/Tontowi Ahmad – Olimpiade Rio de Janeiro 2016 (bulu tangkis, ganda campuran)
dan hari ini Gresyia Polii/Apriyani Rahayu (bulutangkis, ganda putri) Olympiade Tokyo 2020. ***
- Bert Toar Polii- pemain nasional bridge yang mendapat Satya Lencana olahraga dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) merangkap pelatih, jurnalis dan di PB Gabsi sebagai Ketua Bidang Humas.















Adolf Sangeroki
2 Agustus 2021 at 18:32
Selamat buat keke Minahasa