Connect with us

Opini

Bercermin dari Muktamar Ke-34 NU

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Oleh: Gungde Ariwangsa SH

FAKTUAL-INDONESIA: Tatkala pandemi menyerang. Ketika kegaduhan menyeruak dan menggempita. Manakala beban hidup rakyat makin berat menerpa. Di saat itulah Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama (NU) berlangsung di Lampung dari 22 – 24 Desember 2021.  Gelaran yang membahas berbagai isu penting dan strategis termasuk genting seperti pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar NU. Namun semua mampu dilalui dengan lancar, sukses, dan menyejukan. Pantas  dijadikan wadah  bercermin para pemimpin dan rakyat untuk menghadirkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang sejuk dan beretika.

Muktamar dibuka secara resmi oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Pondok Pesantren Darussa’adah, Lampung Tengah pada Rabu (22/12/2021) pagi. Acara pembukaan  dihadiri Wakil Presiden, KH Ma’ruf Amin yang juga merupakan mustasyar PBNU. Wapres kemudian menutup Muktamar pada Jumat (24/12/2021).

Dihadiri ribuan muktamirin (peserta) dan muhibbin (pecinta muktamar) dari PBNU, PWNU, PCNU, dan PCINU seluruh Tanah Air, Muktamar menerapkan protokol kesehatan yang ketat mengingat pandemi virus corona (Covid-19) masih mengancam. Bahkan varian barunya, Omicron memunculkan kekhawatiran baru. Upaya Panitia Nasional Muktamar membuat berbagai langkah kesehatan masyarakat dan tindakan sosial yang mesti diperhatikan oleh para muktamirin (peserta muktamar) membuahkan hasil dalam mencegah munculnya kasus positif dalam perhelatan ini.

Ketua Steering Committee (SC) Muktamar Ke-34 NU, Prof M Nuh melaporkan bahwa selama pergelaran forum permusyawaratan tertinggi NU ini, tidak terjadi atau tidak ditemukan kasus penyebaran Covid-19. Tidak ada laporan alias nol persen kasus terkait dengan Covid-19 setelah  panitia melakukan pengecekan dan pengetesan melalui 1.600 antigen dan 600 PCR kepada peserta.

Advertisement

Sebuah capaian yang patut diapresiasi dan disyukuri mengingat saat ini kondisi pandemi Covid-19 di Indonesia belum juga usai. Selain itu waktu persiapan pelaksanaan Muktamar juga cukup singkat. Keberhasilan menghadirkan hasil nol persen positif Covid-19 ini bisa menjadi petitih bagi pihak-pihak dalam melaksanak perhelatan dengan melibatkan ribuan peserta saat pandemi.

Hal lain yang pantas menjadi langgam melaksanakan kegiatan organisasi, partai atau komunitas, tentunya  semua kegiatan Muktamar seperti rapat-rapat, berjalan dengan lancar. Walaupun terkesan alot, menurut M Nuh, namun proses permusyawaratan dapat berjalan dengan sangat beradab dan bermartabat. Kesuksesan ini juga berkat kondisi masyarakat Lampung yang menurutnya sangat bersahabat dan akrab selama pelaksanaan muktamar.

Dari proses permusyawaratan yang beradab dan bermartabat itu Muktamar menelorkan berbagai hasil seperti meminta Pemerintah Jadikan Penguatan Moderasi Beragama sebagai Gerakan Sosial, Terbitkan Regulasi Pembatasan Kepemilikan Tanah, Tegaskan Hak Rakyat atas Tanah, Fokus Pulihkan Ekonomi dan Kesejahteraan Masyarakat, Atasi Ketimpangan Akses Pendidikan, Penegak Hukum Tegas Berantas Korupsi, Pengesahan RUU PPRT dan Tetapkan Badan Hukum Sebagai Subjek Hukum.

Musyawarah dan Voting Menyejukan

Melalui musyawarah yang dilakukan dengan penuh keakraban, kekeluargaan, keadaban, sopan santun, dan akhlak,  sembilan Anggota Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) menetapkan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) 2021-2026. Sembilan ulama tersebut adalah (1) KH Dimyati Rois, (2) KH Ahmad Mustofa Bisri, (3) KH Ma’ruf Amin, (4) KH Anwar Manshur, (5) TGH Turmudzi Badaruddin, (6) KH MIftachul Akhyar, (7) KH Nurul Huda Jazuli, (8) KH Ali Akbar Marbun, dan (9) KH Zainal Abidin.

Advertisement

Sedangkan untuk acara puncak, pemilihan Ketua Umum PB NU masa bakti 2021 – 2026, tidak melalui musyawarah melainkan pemungutan suara. Namun acara ini berlangsung dengan lancar tanpa kegaduhan apalagi kerusuhan. Bahkan pemilihan berakhir dengan menyejukan dan mengharukan.

Pada Rapat Pleno V itu berlangsung di Gedung Serbaguna (GSG) Universitas Lampung, Bandarlampung, Jumat (24/12/2021), KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya akhirnya terpilih sebagai nakhoda baru PBNU. Berdasarkan penghitungan panitia, Gus Yahya memperoleh 337 suara, dan KH Said Aqil Siroj memperoleh 210 suara.

Usai pengumuman hasil pemungutan suara suasana diliputi rasa haru. Gus Yahya dan Kiai Said berdiri saling menghampiri. Gus Yahya segera mendahului mencium tangan Kiai Said lalu disambut saling berangkulan dan saling mendoakan. Gemuruh tepuk tangan dan lantunan Shalawat Badar oleh muktamirin pun memenuhi Gedung Serba Guna Unila.

Dalam sambutan pertamanya setelah terpilih Gus Yahya mengucapkan terima kasih pertama kali kepada KH Said Aqil Siroj, Ketua Umum PBNU 2010-2021. Ia menyebut sosok Kiai Said sebagai seorang guru yang memberikan pendidikan hingga ujian, membesarkan dan juga membukakan jalan untuk dirinya. Bahkan dia menegaskan,  tidak tahu apakah dirinya  akan cukup umur a untuk membalas jasa Said Aqil Siroj.

Ketika diwawancarai awak media, Gus Yahya akan tetap melibatkan KH Said Aqil Siroj di kepengurusan PBNU periode 2021-2026. Namun, pihaknya masih perlu berbicara dulu dengan Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar. Selain itu, dia  juga masih perlu berbicara juga dengan tim formatur, seperti perwakilan dari Pengurus Wilayah NU (PWNU) di wilayah Indonesia Barat, Timur, dan Indonesia Tengah.

Advertisement

Bagaimana nanti susunan kepengerusan PBNU 2021 – 2026 memang masih menarik untuk dinantikan. Namun yang jelas Muktamar ke-34 NU di Lampung ini bukan saja memberikan modal berharga bagi NU sendiri sebagai persiapan menyongsong satu abad NU namun bisa menjadi cermin bagi para pemimpin dan masyarakat bagaimana bermusyawarah dan bersikap kesatria dalam menerima suatu hasil.

Tidak mentang-mentang ketika menang dan tetap bersikap legowo menerima kekalahan. Tidak pula menjelekan dan memfitnah untuk menjatuhkan saingan serta menutupi kelemahan sendiri. Hanya tokoh yang matang, iklas dan tidak mementingkan jabatan bisa melakoninya.

Sikap yang bukan saja harus tetap dijaga namun terus ditanamkan  untuk menghindari munculnya kegaduhan, kerusuhan dan perpecahan organisasi yang bisa berdampak pada kegaduhan dan terganggunya persatuan bangsa. Apalagi dalam kondisi bangsa  kerap gaduh oleh tindakan orang dan pihak-pihak yang tidak mengerti makna toleransi, keakraban, kekeluargaan, keadaban, sopan santun, dan akhlak. Marilah bercermin pada Muktamar ke-34 NU. ***

  • Gungde Ariwangsa SH – wartawan pemegang kartu UKW Utama, Ketua Siwo PWI Pusat

Lanjutkan Membaca
Advertisement