Connect with us

Ekonomi

IHSG Kamis 30 April 2026: Terpeleset ke Zona Merah, Waspada, Berpotensi Sideways Cenderung Melemah

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Ekonomi (BEI) menjelang libur panjang dan Hari Buruh kembali mendapat tekanan sehingga terpeleset ke zona merah Kamis (30/4/2026), (AI/Ist)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Ekonomi (BEI) menjelang libur panjang dan Hari Buruh kembali mendapat tekanan sehingga terpeleset ke zona merah Kamis (30/4/2026), (AI/Ist)

FAKTUAL INDONESIA: Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Ekonomi (BEI) gagal mempertahankan kekuatannya dan terpaksa ditutup melemah signifikan pada perdagangan Kamis (30/4/2026). Sentimen negatif dari pasar global dan fluktuasi ekonomi domestik menjadi beban berat bagi indeks hari ini.

Berdasarkan data perdagangan BEI, IHSG ditutup terkoreksi tajam sebesar 2% ke level 6.956. Untuk kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 14,80 poin atau 2,16 persen ke posisi 669,34, indeks JII turun 1,87 persen 462, indeks IDX30 turun 1,74 persen ke 372 dan indeks MNC36 turun 2,10 persen ke 291.

Padahal, IHSG sempat menghadirkan harapan ketika dibuka menguat 2,03 poin atau 0,03 persen ke posisi 7.103,26. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 0,50 poin atau 0,07 persen ke posisi 683,64.

Penurunan ini selaras dengan kondisi pasar keuangan yang sedang mengalami tekanan hebat akibat faktor eksternal dan internal.

Kondisi Sektoral

Advertisement

Hampir seluruh sektor saham mengalami koreksi, dengan sektor teknologi dan infrastruktur memimpin pelemahan.

Sepanjang perdagangan tercatat 146 saham menguat, 600 saham melemah dan 213 saham lainnya stagnan. Transaksi perdagangan mencapai Rp21,7 triliun dari 46,2 miliar saham yang diperdagangkan.

Adapun seluruh sektor terpental ke zona merah yakni energi, keuangan industri, konsumer siklikal, konsumer non siklikal, teknologi, kesehatan, properti, bahan baku, hingga transportasi.

Jajaran saham yang masuk top gainers antara lain, PT Sidomulyo Selaras Tbk (SDMU) naik 28,57 persen ke Rp126, PT DFI Retail Nusantara Tbk (HERO) naik 24,74 persen ke Rp474, dan saham PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) naik 16,48 persen ke Rp212.

Adapun saham-saham yang masuk top losers meliputi PT Formosa Ingredient Factory Tbk (BOBA) turun 14,91 persen ke Rp274, PT Perdana Bangun Pusaka Tbk (KONI) turun 14,53 persen ke Rp2.530 dan PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN) turun 14,50 persen di Rp855.

Advertisement

“Pelemahan IHSG hari ini dipicu kombinasi sentimen global risk off dan tekanan domestik. Dari global, penguatan dolar AS dan ketidakpastian suku bunga mendorong capital outflow. Dari domestik, isu free float, HSC, dan rebalancing indeks memperdalam koreksi,” ujar pengamat pasar modal Reydi Octa seperti dilansir mediaindonesia, Kamis.

Reydi mengatakan, sikap investor khususnya asing, saat ini cenderung defensif dan melakukan net sell (aksi jual) di pasar saham Indonesia. Ia melanjutkan, saat ini investor menantikan kejelasan arah kebijakan suku bunga acuan global, stabilisasi nilai tukar rupiah, serta kepastian regulasi pasar domestik agar tidak menimbulkan keraguan investor untuk keputusan berinvestasi ke depan.

Mendatar Cendrung Melemah

Dalam jangka pendek, Reydi memproyeksikan IHSG berpotensi masih akan sideways (mendatar) cenderung melemah, namun tetap terdapat peluang technical rebound.

Praktisi pasar modal sekaligus Founder WH-Project, William Hartanto, menilai peluang IHSG untuk melanjutkan penurunan masih cukup besar. Secara teknikal, upaya rebound belum mampu menembus resistance MA5, yang mengindikasikan tren turun masih dominan.

Advertisement

Memasuki Mei 2026, William melihat IHSG masih berpotensi mengalami pelemahan. Oleh karena itu, William menyarankan investor untuk mengantisipasi skenario terburuk, di mana indeks berisiko semakin menjauh dari level psikologis 7.000, seiring tekanan yang masih berlanjut pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar.

“Sentimen pendorong mungkin datang dari earning season namun efeknya tidak signifikan,” kata William kepada Kontan, Kamis (30/4/2026). 

Dalam kondisi ini, investor disarankan untuk bersikap wait and see. Meski begitu, saham-saham berbasis crude palm oil (CPO) seperti TAPG, DSNG, dan STAA dinilai menarik untuk dicermati dengan strategi buy on weakness.

Sementara itu, Head Investment Specialist Bahana Sekuritas, Chisty Maryani melihat IHSG masih bergerak dalam fase bearish yang kuat, dengan area support terdekat di level 6.800.

Dari perspektif teknikal, potensi penguatan baru akan muncul apabila indeks berhasil menembus level 7.300 sebagai resistance kunci.

Advertisement

“Saya melihatnya IHSG masih lebih cenderung ke arah tertekan dibanding reversal,” kata Chisty kepada Kontan, Kamis (30/4/2026).

Jadi, investor terlihat cenderung melakukan aksi ambil untung (profit taking) di tengah ketidakpastian transisi kepemimpinan The Fed dan memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah.

Para analis menyarankan investor untuk tetap waspada dan mencermati perkembangan rilis data ekonomi kuartal pertama yang akan segera keluar. IHSG diprediksi masih akan mengalami fase konsolidasi untuk menguji level psikologis 6.900 pada pembukaan perdagangan pekan depan.

Sejumlah faktor krusial menjadi penyebab utama rontoknya indeks pada akhir bulan ini:

  • Sentimen Suku Bunga Global: Pernyataan hawkish dari pejabat bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang mempertahankan suku bunga tinggi membuat investor cenderung menarik modal dari pasar berkembang (emerging markets).
  • Kenaikan Harga BBM: Di dalam negeri, melesatnya harga BBM nonsubsidi menjadi sentimen pemberat karena dikhawatirkan akan memicu kenaikan biaya logistik dan inflasi.
  • Pelemahan Rupiah: Tekanan pada nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.353 per dolar AS ikut memberikan dampak negatif bagi kepercayaan investor di lantai bursa. ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement