Opini
#Arti Fam Orang Minahasa
## Sejarah, Makna, Perubahan Ejaan, dan Jejak Identitas Leluhur

Ketika kita menyebut sebuah fam, sesungguhnya kita sedang menyebut sepotong sejarah manusia. (Foto: Istimewa)
Oleh: Bert Toar Polii
FAKTUAL INDONESIA: Nama keluarga atau fam merupakan salah satu penanda identitas yang sangat kuat dalam kehidupan masyarakat Minahasa. Dalam percakapan sehari-hari Melayu Manado, istilah fam lazim digunakan untuk menyebut nama keluarga atau marga.
Namun, fam sebenarnya bukan sekadar nama yang diletakkan di belakang nama seseorang.
Di balik sebuah fam dapat tersimpan cerita mengenai leluhur, sifat seseorang, pekerjaan, tempat tinggal, pengalaman hidup, hubungan kekerabatan, bahkan perubahan administrasi yang terjadi dari satu zaman ke zaman berikutnya.
Karena itu, ketika kita menyebut sebuah fam seperti Watuseke, Sarapung, Korengkeng, Turang, Sondakh, Dotulong, Polii dan masih banyak lagi, sesungguhnya kita sedang menyebut bagian dari sejarah sebuah keluarga.
Tulisan ini saya susun berdasarkan berbagai sumber dan catatan mengenai fam orang Minahasa yang saya kumpulkan. Di antaranya terdapat tulisan yang mengutip pemikiran sosiolog asal Manado FS Watuseke, serta catatan pemerhati budaya Minahasa Boeng Dotulong, pengarang Kamus Melayu Manado-Indonesia-Toundano. Karena merupakan kompilasi, tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai penelitian tunggal atau sebagai kamus definitif mengenai arti setiap fam.
—
## Dari Nama Panggilan Menjadi Fam
Perkembangan penggunaan fam di Minahasa tidak berlangsung sekaligus.
Menurut bahan yang saya kumpulkan, penggunaan nama keluarga secara lebih luas di Minahasa berkembang sekitar abad ke-19. Sebelumnya memang sudah ada orang-orang yang menggunakan nama keluarga. Misalnya Bastian Saway telah menggunakan fam sejak akhir abad ke-17, sedangkan Pedro Ranty tercatat pada abad ke-18. Pada awal abad ke-19 juga sudah ditemukan nama seperti Matinus Dotulong, Hendrik Dotulong, Frederik Lumingkewas dan Abraham Lotulong.
Perkembangan berikutnya tidak dapat dilepaskan dari kedatangan dua penginjil Protestan, J.F. Riedel dan J.F. Schwarz, di Langowan pada tahun 1831.
Pada masa itu, orang yang dibaptis biasanya memperoleh nama Alkitab atau nama Eropa, seperti Daniel, Jan, Piet, Frans dan sebagainya. Dalam proses tersebut digunakan pula nama keluarga atau fam. Nama ayah atau nama leluhur dari garis laki-laki dapat menjadi bagian penting dari identitas tersebut.
Nama asli Minahasa seperti Watuseke, Sarapung, Korengkeng, Turang dan Sondakh kemudian hidup berdampingan dengan nama baptis yang berasal dari Alkitab atau lingkungan Eropa.
Dengan demikian, terbentuk pola nama yang kemudian menjadi sangat umum di Minahasa: nama baptis atau nama panggilan diikuti fam yang menunjukkan garis keluarga.
—
## Dari Ciri Fisik hingga Sifat Seseorang
Sebelum sistem nama keluarga berkembang seperti sekarang, identifikasi seseorang dalam masyarakat tidak selalu sederhana.
Jika beberapa orang mempunyai nama panggilan yang sama, diperlukan penanda lain untuk membedakan mereka. Penanda tersebut dapat berupa ciri fisik, sifat, kebiasaan, tempat tinggal atau sesuatu yang khas pada orang tersebut.
Dalam catatan yang dikutip dari FS Watuseke, misalnya, seseorang dapat dikenali berdasarkan kondisi fisiknya. Ada nama yang berkaitan dengan pincang, bentuk kepala, atau kondisi mata.
Nama juga dapat menggambarkan sifat seseorang.
Orang yang pemberani, misalnya, dapat dikaitkan dengan nama Mamuaya, dari kata yang berhubungan dengan keberanian. Demikian pula nama dapat lahir dari kebiasaan seseorang. Dalam catatan tersebut disebutkan Mama’it atau Ma’it untuk orang yang selalu memasak agak terlalu banyak garam.
Artinya, sebuah nama pada masa lalu bisa menjadi semacam keterangan singkat mengenai seseorang.
—
## Fam yang Berasal dari Pekerjaan dan Tempat Tinggal
Nama keluarga juga dapat berkaitan dengan pekerjaan atau lingkungan tempat seseorang hidup.
Dalam catatan FS Watuseke yang saya kumpulkan, seseorang yang pekerjaannya menebang pohon disebut Pele.
Orang yang tinggal di daerah yang sering mengalami kebakaran akibat kilat disebut Pongilatan. Orang yang tinggal di bukit atau gunung disebut Wuntu, sedangkan orang yang hendak naik bukit atau gunung disebut Mawuntu.
Nama Kawilaran dikaitkan dengan sesuatu yang serong atau miring. Sumanti berkaitan dengan pekerjaan memotong menggunakan parang. Dalam bahasa Tombulu, kata tersebut juga memiliki arti lain, sedangkan dalam bahasa Tondano disebut Panimbe.
Dari contoh-contoh ini terlihat bahwa proses terbentuknya nama sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Pekerjaan, lingkungan, karakter dan pengalaman hidup dapat meninggalkan jejak dalam sebuah nama.
—
# Ketika Nama Panggilan Menjadi Fam
Catatan Boeng Dotulong memberikan perspektif lain mengenai perkembangan fam.
Menurut catatan yang saya kumpulkan, terdapat keputusan pemerintah Belanda tanggal 4 Oktober 1864, yang dimuat dalam Staatsblad No. 142 dan berkaitan dengan kewajiban pendaftaran nama pada kantor catatan sipil.
Dengan adanya ketentuan tersebut, nama yang sebelumnya sudah digunakan dapat ditambah dengan nama ayah atau opa untuk membedakan orang-orang yang memiliki nama sama. Nama terakhir yang digunakan kemudian dapat menjadi nama keluarga.
Proses tersebut ternyata dapat menghasilkan keadaan yang cukup menarik.
Nama yang sebelumnya hanya merupakan nama panggilan dapat berubah menjadi fam.
Bahkan, menurut catatan Boeng Dotulong, hal itu dapat menyebabkan kakak dan adik mempunyai fam yang berbeda.
Salah satu contoh yang dicatat adalah Erungan/Gerungan dan adiknya Awilarang/Kawilarang yang kemudian menjadi dua keluarga berbeda. Contoh lainnya adalah Walewangko dan adiknya Palar, yang disebut sebagai Kepala Walak Sonder Tua.
Ini menunjukkan bahwa sejarah fam Minahasa tidak selalu sesederhana sebuah nama yang diwariskan secara lurus dari ayah kepada anak.
Ada proses sosial dan administratif yang ikut membentuknya.
—
# Kesalahan Penulisan Fam: Ketika Satu Nama Memiliki Banyak Ejaan
Ada satu persoalan lain yang menarik sekaligus penting: kesalahan atau perubahan penulisan fam.
Dalam dokumen lama maupun dokumen modern, kita dapat menemukan nama keluarga yang mempunyai beberapa bentuk ejaan.
Salah satu contoh yang secara langsung dicatat dalam bahan Boeng Dotulong adalah:
Ratumbuijasang – Ratumbuysang – Ratumbuisang.
Catatan tersebut juga memberikan contoh seorang teman penulis bernama Deny Sacul. Menurut catatan itu, fam yang seharusnya digunakan adalah Sakul, tetapi ketika membuat paspor pertama kali terjadi kesalahan pengetikan. Karena proses untuk memperbaikinya dianggap merepotkan, bentuk Sacul akhirnya tetap digunakan.
Contoh ini memperlihatkan sesuatu yang sangat manusiawi: sebuah kesalahan dalam satu dokumen dapat bertahan dan kemudian menjadi bagian dari identitas resmi seseorang.
—
## Bagaimana Kesalahan Itu Bisa Terjadi?
Pada masa lalu, pencatatan nama dilakukan secara manual. Petugas menulis berdasarkan informasi yang mereka terima secara lisan atau berdasarkan dokumen yang tersedia.
Dalam keadaan seperti itu, sangat mungkin terjadi perbedaan antara nama yang diucapkan, nama yang didengar dan nama yang ditulis.
Satu huruf dapat berubah.
Satu bunyi dapat ditafsirkan berbeda.
Sebuah nama yang menggunakan ejaan tertentu dapat ditulis dengan cara yang berbeda oleh petugas atau oleh orang yang membuat dokumen berikutnya.
Kondisi tersebut semakin mungkin terjadi ketika masyarakat belum terbiasa dengan konsep ejaan baku atau belum menganggap perbedaan satu-dua huruf sebagai persoalan penting.
Yang terpenting saat itu adalah nama tersebut dapat digunakan.
Masalah baru muncul ketika dokumen administratif semakin banyak dan nama yang sudah tercatat harus digunakan secara konsisten.
—
# Ketika Kesalahan Administratif Menjadi Identitas
Bayangkan sebuah nama yang salah ditulis pada akta kelahiran.
Nama tersebut kemudian digunakan untuk membuat dokumen lain.
Dokumen berikutnya menggunakan dokumen sebelumnya sebagai dasar.
Kemudian nama yang sama muncul dalam Kartu Keluarga, ijazah, KTP, paspor dan dokumen lainnya.
Akhirnya, sebuah kesalahan yang pada awalnya mungkin hanya berupa kesalahan penulisan menjadi nama resmi seseorang.
Ketika orang tersebut mempunyai anak, nama yang tercatat dalam dokumen orang tua dapat kembali menjadi dasar bagi pencatatan generasi berikutnya.
Dengan demikian, variasi ejaan dapat bertahan selama beberapa generasi.
Inilah sebabnya sebuah keluarga dapat menemukan beberapa bentuk penulisan fam yang secara bunyi maupun sejarah tampaknya berdekatan.
—
# Fam Berbeda Belum Tentu Leluhur Berbeda
Di sinilah kita perlu berhati-hati.
Jika dua orang mempunyai ejaan fam yang berbeda, kita tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa mereka pasti berasal dari keluarga yang berbeda.
Sebaliknya, kita juga tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa semua nama yang mirip pasti berasal dari satu leluhur.
Kemiripan nama adalah petunjuk, bukan bukti tunggal.
Untuk mengetahui hubungan kekerabatan, perlu dilihat pula sejarah keluarga, nama leluhur, tempat asal, hubungan perkawinan, dokumen lama, serta cerita yang diwariskan dalam keluarga.
Karena itu, penelitian mengenai fam sebaiknya berjalan bersama dengan penelitian mengenai silsilah atau pohon keluarga.
—
# Jangan Sampai Satu Huruf Memutus Silsilah
Persoalan ini menjadi semakin penting bagi generasi muda Minahasa.
Ketika seseorang melihat dokumen lama dengan ejaan yang berbeda dari fam yang digunakannya sekarang, mungkin muncul anggapan bahwa nama tersebut tidak ada hubungannya dengan keluarganya.
Padahal, bisa saja perbedaan itu merupakan hasil dari perubahan ejaan atau pencatatan administratif.
Karena itu, dokumen lama sangat berharga.
Akta kelahiran, surat baptis, surat nikah, arsip keluarga, dokumen kolonial, batu nisan, surat-surat pribadi, bahkan cerita dari orang tua dan opa-oma dapat menjadi petunjuk penting untuk menyusun kembali hubungan keluarga.
Jangan sampai satu huruf memutus sejarah sebuah keluarga.
—
# Fam dan Garis Keturunan
Dalam catatan yang saya kumpulkan, fam pada akhirnya digunakan sebagai bagian dari identitas keluarga dan secara khusus mengikuti garis keturunan orang tua laki-laki.
Hal ini membuat fam menjadi sangat penting dalam memahami hubungan genealogis masyarakat Minahasa.
Namun, kita juga perlu menyadari bahwa sistem tersebut berkembang melalui perjalanan sejarah yang panjang.
Ada nama yang berasal dari leluhur.
Ada yang berasal dari nama panggilan.
Ada yang berasal dari sifat.
Ada yang berkaitan dengan pekerjaan.
Ada yang berhubungan dengan tempat tinggal.
Ada yang muncul karena pengalaman tertentu.
Dan ada pula yang kemudian terbentuk atau berubah akibat proses pencatatan administratif.
Semua itu membuat sejarah sebuah fam menjadi jauh lebih menarik daripada sekadar mencari arti satu kata.
—
# Fam sebagai Memori Kolektif
Bagi saya, inilah alasan mengapa arti fam perlu didokumentasikan.
Ketika seseorang bertanya, “Apa arti fam saya?”, pertanyaan tersebut sebenarnya dapat berkembang menjadi pertanyaan yang jauh lebih besar:
Siapa leluhur saya?
Dari mana keluarga saya berasal?
Mengapa leluhur saya mendapatkan nama tersebut?
Apakah nama itu berkaitan dengan pekerjaan, sifat atau tempat tinggal?
Mengapa ejaan fam saya berbeda dengan yang terdapat dalam dokumen lama?
Dan akhirnya:
Cerita apa yang sebenarnya dibawa oleh fam tersebut?
Dengan demikian, sebuah fam dapat menjadi pintu masuk untuk mempelajari sejarah keluarga dan sejarah Minahasa.
—
# Dari Fam Menuju Pelestarian Bahasa
Ada satu hal lain yang tidak kalah penting.
Banyak arti fam yang kita temukan berkaitan erat dengan kosakata bahasa-bahasa Minahasa.
Satu kata mungkin mempunyai arti berbeda dalam bahasa Tombulu, Tondano, Tonsea atau bahasa Minahasa lainnya. Bahkan sebuah nama dapat mempunyai beberapa bentuk ejaan karena perubahan pengucapan atau pencatatan.
Karena itu, mendokumentasikan arti fam juga berarti mendokumentasikan sebagian dari kekayaan bahasa Minahasa.
Ketika sebuah kata lama tidak lagi dipahami oleh generasi muda, arti sebuah fam pun dapat ikut hilang.
Padahal, nama keluarga mungkin tetap bertahan ratusan tahun.
Kita masih menggunakan namanya, tetapi tidak lagi mengetahui maknanya.
Di sinilah pentingnya dokumentasi.
—
# Sebuah Kompilasi yang Masih Terbuka
Daftar arti fam yang saya kumpulkan dalam tulisan ini berasal dari berbagai sumber dan telah beredar dalam berbagai tulisan maupun situs. Selain daftar utama, terdapat pula tambahan dari Boeng Dotulong yang memuat bentuk kata, variasi ejaan, serta arti yang dalam beberapa kasus berbeda atau lebih luas.
Karena itu, saya tidak bermaksud mengatakan bahwa setiap arti yang tercantum di sini merupakan arti yang mutlak dan tidak dapat diperdebatkan.
Sebaliknya, perbedaan justru perlu dicatat.
Jika satu sumber memberikan satu arti dan sumber lain memberikan arti berbeda, keduanya dapat menjadi bahan untuk penelitian lebih lanjut.
Apalagi bahasa adalah sesuatu yang hidup. Arti kata dapat berubah, pengucapan dapat berkembang, dan sebuah nama dapat mengalami perubahan ketika berpindah dari satu lingkungan bahasa ke lingkungan lainnya.
Karena itu, daftar ini sebaiknya dipandang sebagai kompilasi dokumentasi, bukan kamus resmi.
Bahkan dalam naskah sumber disebutkan secara terbuka bahwa daftar tersebut belum sempurna dan masih banyak nama yang belum tercantum.
—
# Mengapa Kita Perlu Terus Melengkapinya?
Saya percaya pekerjaan mendokumentasikan fam Minahasa tidak mungkin selesai hanya dengan satu tulisan.
Masih banyak keluarga yang mengetahui cerita mengenai asal-usul fam mereka.
Masih banyak dokumen keluarga yang belum dibuka.
Masih banyak nama tua yang mungkin hanya diketahui oleh opa dan oma.
Masih banyak kata dalam bahasa Minahasa yang belum terdokumentasi dengan baik.
Dan masih banyak variasi ejaan yang perlu ditelusuri.
Karena itu, tulisan ini saya anggap sebagai ajakan untuk melengkapi bersama.
Jika sebuah keluarga mengetahui arti atau sejarah fam mereka, informasi tersebut dapat menjadi bagian dari dokumentasi yang lebih besar.
Jika terdapat kesalahan, tentu perlu diperbaiki.
Jika terdapat perbedaan pendapat, justru perlu didiskusikan.
Yang penting adalah jangan sampai pengetahuan tersebut hilang bersama generasi yang terakhir mengetahuinya.
—
# Fam Bukan Sekadar Nama
Pada akhirnya, sebuah fam mungkin hanya terdiri dari beberapa huruf.
Tetapi di balik beberapa huruf itu bisa terdapat perjalanan panjang sebuah keluarga.
Ada leluhur yang hidup ratusan tahun lalu.
Ada pekerjaan yang mereka lakukan.
Ada tempat yang mereka tinggali.
Ada sifat yang membuat mereka dikenal.
Ada perjuangan yang mereka jalani.
Ada hubungan keluarga yang mereka bangun.
Ada bahasa yang mereka gunakan.
Dan mungkin ada pula kesalahan administrasi yang kemudian mengubah cara nama tersebut ditulis.
Karena itu, ketika kita menyebut sebuah fam, sesungguhnya kita sedang menyebut sepotong sejarah manusia.
Jangan melihat fam hanya sebagai nama belakang.
Lihatlah ia sebagai jejak leluhur.
—
# Penutup
Kita boleh hidup di Jakarta, Surabaya, Bandung, Manado, Tondano, Amerika, Belanda, Australia atau di belahan dunia mana pun.
Kita boleh menggunakan teknologi paling modern.
Kita boleh hidup jauh dari kampung halaman leluhur.
Tetapi sebuah fam tetap dapat menjadi salah satu benang yang menghubungkan kita dengan masa lalu.
Karena itu, pertanyaan sederhana “Apa arti fam saya?” sebenarnya dapat menjadi awal perjalanan yang sangat panjang.
Perjalanan untuk mengenal leluhur.
Perjalanan untuk memahami bahasa.
Perjalanan untuk membaca kembali sejarah keluarga.
Dan pada akhirnya, perjalanan untuk memahami siapa diri kita.
Sebab fam bukan sekadar nama.
Fam adalah bagian dari ingatan keluarga.
Fam adalah salah satu jejak sejarah Minahasa.
Dan selama kita masih mau mencari, mencatat, membandingkan dan mewariskannya, cerita yang tersimpan di balik sebuah fam tidak akan hilang.
—
### Catatan Sumber
Tulisan ini merupakan kompilasi dari berbagai sumber dan catatan mengenai fam orang Minahasa yang dikumpulkan oleh Bert Toar Polii.
Di antara bahan yang digunakan terdapat:
- Catatan mengenai arti dan asal-usul fam yang mengutip pemikiran FS Watuseke.
- Catatan Boeng Dotulong, pemerhati budaya Minahasa dan pengarang Kamus Melayu Manado-Indonesia-Toundano.
- Daftar arti fam Minahasa yang telah beredar dalam berbagai situs dan tulisan.
- Catatan mengenai variasi ejaan dan pengalaman pencatatan nama keluarga.
Karena berasal dari berbagai sumber, perbedaan arti, ejaan dan penjelasan tidak selalu diseragamkan. Perbedaan tersebut dipertahankan sebagai bagian dari dokumentasi dan dapat menjadi bahan penelitian lebih lanjut.
Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai kamus resmi maupun sebagai penetapan definitif mengenai arti setiap fam.
Daftar lengkap arti fam dari berbagai sumber disajikan dalam lampiran khusus: “Kompilasi Arti Fam Orang Minahasa”. ***














