Connect with us

Olahraga

Peserta Tertua M Bambang Hartono (86) dan Termuda Jonathan Wahyu (17 ) Tarung di Ernst Gultom Invitational Online Bridge Tournament

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Peserta Tertua M Bambang Hartono (86) dan Termuda Jonathan Wahyu (17 ) Tarung di Ernst Gultom Invitational Online Bridge Tournament

Jonathan Wahyu (kaos hitam) menjadi peserta termuda Ernst Gultom Invitational Online Bridge Tournament yang digelar secara online melalui BBO – Bridge Base Online. (Foto : Istimewa)

Oleh : Bert Toar Polii

FAKTUAL INDONESIA: Bridge adalah salah satu “olahraga otak” yang unik karena dapat dimainkan oleh semua umur, mulai dari anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga lansia. Keunggulan utamanya terletak pada stimulasi mental yang kompleks dan interaksi sosial, tanpa memerlukan aktivitas fisik berat.

Berikut adalah kelebihan bridge karena bisa dimainkan oleh semua umur:

Baca Juga : Ernst Gultom Invitational Online Bridge Tournament Diikuti Philippina

  1. Manfaat untuk Berbagai Usia (Lintas Generasi)
  • Anak-anak & Remaja: Mempelajari bridge sejak dini membantu meningkatkan kemampuan matematika, logika, deduksi, dan fokus. Studi menunjukkan siswa yang bermain bridge memiliki nilai ujian lebih tinggi dan melatih karakter unggul.
  • Orang Dewasa: Menjadi sarana melepas stres (refresing) yang produktif, meningkatkan kemampuan pengambilan keputusan, dan kerja sama tim.
  • Lansia: Berfungsi sebagai latihan mental yang sangat baik untuk menjaga ketajaman otak, menunda penurunan kognitif (pikun), dan mencegah Alzheimer.
  1. Stimulasi Mental Komprehensif

Bridge merangsang berbagai aspek kognitif, seperti logika, pemecahan masalah, perencanaan, dan visualisasi. Permainan ini menggunakan kedua belahan otak secara seimbang, yang jarang ditemukan pada aktivitas rekreasi lainnya.

Baca Juga : Bridge Indonesia Kembali Kehilangan Pemain Nasional, Stefanus Supeno Dari Djarum Bridge Club Berpulang

  1. Peningkatan Keterampilan Sosial dan Emosional

Karena dimainkan secara berpasangan (4 orang), bridge melatih komunikasi, kepercayaan, dan empati antara pasangan main. Ini membantu mempererat hubungan antar-generasi (lansia dan muda) dan mengurangi rasa kesepian.

  1. Mengasah Memori dan Daya Tahan Tubuh

Pemain dituntut mengingat kartu yang sudah dimainkan dan menganalisis strategi. Penelitian bahkan menunjukkan bahwa bermain bridge dapat menstimulasi sistem kekebalan tubuh.

Baca Juga : Hadiah HUT Gabsi, Susah dan Senangnya Menerbitkan Modern Bridge Conventions

  1. Fleksibilitas Akses

Bridge dapat dimainkan secara offline maupun online (misalnya melalui BBO – Bridge Base Online), membuatnya mudah diakses oleh semua kalangan usia di mana saja.

Dengan kerumitan strateginya, bridge jarang membuat pemain bosan dan seringkali menjadi hobi seumur hidup yang menjembatani perbedaan usia.

Kenyataan ini langsung bisa dilihat pada peserta Ernst Gultom  Invitational Online Bridge Tournament yang digelar secara online melalui BBO – Bridge Base Online,

Peserta tertua Michael Bambang Hartono 86 tahun seorang bergelar Senior International Master dari World Bridge Federation. Selain itu, beliau adalah Presiden South East Asia Bridge Federation dan Wakil Presiden Asia Pacific Bridge Federation. Berkali-kali mewakili tim nasional senior Indonesia dan sudah bermain bridge sejak masih berusia 6 tahun. Ia juga meraih medali perunggu dari nomor super mixed di Asian Games 2018.

Advertisement

Di nomor senior telah meraih medali perak dan perunggu di Kejuaraan Dunia Senior.

Baca Juga : Tahun 2026, PB Gabsi Menghadapi Dua Kejuaraan Dunia, Asia Bridge Cup & SEABF Championship

M Bambang Hartono akan bermain untuk tim Djarum Super (senior). Ia Menerima WBF Gold Medal dari World Bridge Federation pada Mei 2017.

Jika kebetulan bertemu Mekadata maka kemungkinan akan bertemu melawan peserta termuda di event ini Jonathan Wahyu Chritia Nada yang baru berusia 17 tahun.

Jonathan Wahyu Chritia Nanta. Mulai main bridge saat SMP di kecamatan Wlingi Blitar. Masuk SMAN 1 Kota Blitar melalui jalur prestasi bridge. Tahun 2025 Jojo (panggilan dari jonathan wahyu) diterima di Prodi Teknik Industri Universitas Surabaya (Ubaya) melalui jalur beasiswa prestasi atlet. Jojo mendapat beasiswa sebesar 100% uang masuk dan uang kuliah sampai lulus di Ubaya pada masa studi normal (maks. 4 tahun).

Dengan demikian ia mulai main bridge sekitar umur 13 tahun dan sekarang sudah memasuki tahun keempat.

Advertisement

Keunikan lain dari olahraga bridge, tim Jonathan Wahyu bisa saja  menang dari tim Pak M Bambang Hartono saat berhadapan. Ini hamper tidak mungkin terjadi di cabang olahraga otak lainnya ketika seorang pemain bergelar master nasional bertemu pemain pemula. ***

Lanjutkan Membaca
Advertisement