Nusantara
Kue Keranjang Khas Imlek Ternyata Membuatnya Sampai 12 Jam Lho

Produsen kue Keranjang di Solo, Ratna Anggraeni memperlihatkan kue khas Imlek produksinya. (Foto: Istimewa)
FAKTUAL-INDONESIA: Perayaan tahun baru Imlek tak akan lengkap jika tidak ada kue Keranjang. Kue bertekstur seperti dodol dan rasanya manis tersebut selalu menjadi pelengkap setiap Imlek tiba.
Tak terkecuali pada perayaan Imlek tahun ini, permintaan kue berbahan tepung ketan tersebut juga banyak dicari terutama dari kalangan Tionghoa.
“Sudah mulai banyak pesanan sejak pertengahan bulan lalu dan biasanya akan meningkat menjelang Imlek. Tetapi sejak pandemi Covid-19 dua tahun lalu, permintaan tidak terlalu banyak makanya tahun ini saya juga agak kurang antusias untuk memproduksi banyak-banyak,” jelas salah satu produsen kue Keranjang di kawasan Sangkrah, Pasar Kliwon Solo, Ratna Anggraeni Setyawan, Sabtu (29/1/2022).
Menurut Ratna jika sebelum pandemi dirinya memproduksi kue Keranjang sampai 7 ton. Tetapi dua tahun terakhir, dirinya tidak berani memproduksi sebanyak itu karena pandemi Covid-19 menyebabkan permintaan kue Keranjang juga menurun.
“Tahun ini saya juga cuma menyiapkan sedikit ya, meskipun perayaan Imlek sudah dilakukan lagi di Kota Solo tetapi kan tidak seramai tahun-tahun lalu sebelum pandemi,” jelasnya lagi.
Untuk membuat kue Keranjang, membutuhkan waktu dan proses yang mencapai 12 jam. Di tempat produksinya, dia masih tetap mempertahankan penggunaan cara-cara tradisional dalam memasak kue Keranjang.
“Saya menggunakan tepung ketan yang digiling sendiri, tidak membeli tepung instan yang dijual di pasaran. karena kita kan gak tahu kandungannya ada apa saja, makanya kami tetap menggiling sendiri ketan yang kita beli dari petani langsung,” paparnya.
Hal tersebut dilakukan untuk menjaga kualitas kue Keranjang produksinya. Selain itu, gula yang digunakan juga telah disiapkan sebelumnya karena membuat kue Keranjang tidak bisa menggunakan cairan gula yang masih panas.
Cairan gula dibuat sebelumnya dalam sejumlah ember besar. Sehingga saat akan membuat kue Keranjang, cairan gula tersebut bisa langsung digunakan.
Setelah semua bahah siap, baru lah selanjutnya untuk menyiapkan donan dengan mencampurkan seluruh bahan. Untuk memasak adonan tersebut juga masih mempertahankan cara lama yakni dengan menggunakan tungku, selain itu cara mengaduknya juga masih manual.
“Terus kita masak selama 12 jam lah minimal itu 12 jam. Itu dari putih bener-bener masak berubah coklat itu benar-benar masak. Jadi kita punya itu mateng sampai dalam,” ujarnya.
Menurut Ratna, jika dulu membuat kue Keranjang menggunakan cetakan menggunakan keranjang dengan alas daun pisang maka saat ini sudah berkembang dengan menggunakan cetakan sehingga lebih praktis.
“Kalau produksi saya juga menggunakan madu ini tetap kami pertahankan,”katanya.
Dalam sekali produksi bisa menggunakan bahan baku sebannyak 150 kilogram tepung ketan. Dengan bahan sebanyak itu bisa menghasilkan kue Keranjang sebanyak 600 buah berukuran kecil.
Karena masih tetap menjaga kualitas maka kue Keranjang produksinya lebih mahal dibandingkan yang lain. Untuk satu kg seharga Rp42.000.
“Hanya naik Rp2.000 saja dibandingkan tahun lalu, kami terpaksa menaikkan harga karena harga bahan bakunya juga naik, ketan naik, gula juga naik,”katanya lagi.
Ratna mengaku saat ini sudah banyak permintaan kue Keranjang dari sejumlah daerah. Seperti Bali, Jakarta, Yogyakarta dan Kota Solo sendiri. ***














