Connect with us

Ibu Kota

Syukur di Balik Jerit Tukang Tambal Ban di Masa Pandemi Covid-19

Diterbitkan

pada

 

Arianto, tukang tambal ban, yang selalu berusaha untuk bertahan hidup . (Farhanzuhdi)

FAKTUALid – Profesi tukang tambal ban bisa jadi dianggap sepele oleh sebagian orang. Tapi bagi yang melakoninya Ariato
tukang tambal ban di bilangan Tebet, Jakarta Selatan, punya banyak arti karena dirinya mampu menghidupi istri dan anak-anaknya tanpa harus merepotkan orang lain.

“Saya menekuni profesi tukang tambal ban sejak tahun 1998, dimulai dengan modal kecil-kecilan,” kata Arianto menceritakan awal mula dirinya ketika ditemui di tempat ‘prakteknya’ disela-sela hawa dingin usai hujan deras melanda ibukota. ” Alhamdulillah, walau profesi tukang tambal ban kelihatan sepele tapi saya bisa menghidupi keluarga. Saya bisa makan sehari-hari dan bahkan menyisihkan uang untuk membayar kontrakan,” tambah Arianto dengan mimik penuh keyakinan.

Diakuinya, penghasilan tukang tambal ban memang tidak menentu. Apalagi setelah muncul pandemi Covid-19, penghasilan Arianto pun ikut terpangkas atau drop.

“Sebelum pandemi penghasilan yang saya dapat bisa mendapatkan Rp 200 ribu per harinya. Kini sejak pandemi pendapat tersebut terpangkas hanya mungkin separuhnya saja. Tapi ya syukuri dan jalani saja, nggak bagus kalau rejeki dari Allah SWT terus kita mengeluh. Yang penting masih bisa buat makan, biaya anak sekolah dan juga bayar kontrakan,” sambungnya.

Advertisement

Arianto menceritakan dirinya cukup senang menekuni profesi tukang tambal ban. “Senang bisa menolong orang yang mengalami ban kempes di tengah jalan. Meski tak jarak juga dapat omelan dari mungkin ada orang yang mau buru-buru mau kerja atau jumpa rekannya untuk urusan kerjaan,” lanjut Arianto seakan menceritakan sedikit suka duka menjadi tukang tambal ban.

Di masa pandemi dan terlebih saat pemerintah menerapkan kebijakan lockdown, seiring itulah penghasilan Arianto mlai turun. “Sebelum ada lockdown saya masih dapat penghasilan lumayan untuk menyambung hidup di kota metropolitan Jakarta ini. Tapi pendapatan itu susut hingga tinggal Rp 100 ribu per hari sesudah pemerintah menerapkan kebijakan lockdown di masa pandemi. Ya mau gimana lagi, kita mah ikuti kebijakan pemerintah dan seraya terus berdoa agar pandemi Covid-19 segera berakhir,” imbuh Arianto.

Setelah penghasilannya berkurang, kata Arianto, dirinya melakukan terobosan kecil-kecilan dengan membuka usaha menjual bensin eceran. “Penghasilannya cukup lumayan untuk menopang pendpatan tukang tambal ban,” aku Ariantoa. “Di masa pandemi, kita benar-bener diuji untuk terus berinovasi agar dapat bertahan hidup dan tidak berharap dengan uluran atau bantuan orang,” jelas Arianto.

Dituturkan Arianto, sejak pandemi Covid-19 melanda negara-negara di dunia, termasuk Indonesia, orang seperti dirinya memang menghadapi kehidupan cukup memprihatikan. Ia mendengar dan melihat berita banyak usaha-usaha gulur tikar, tapi tak sedikit juga banyak yang mensiatatinya dengan berbagai cara hingga bisa bertahan.

“Kita mah ikut aja ada PSBB, lockdown ya kita ikutin aturan pemerintah. Walaupun jadi sepi tapi ya udahlah yang penting masih dapet uang buat hidupin anak istri,” ujar Arianto. “Habis mau apalagi, terlebih orang kecil seperti saya ini, bisanya ya nurut saja,” tambah Arianto.

Advertisement

Hanya Arianto seidikt mengusulkan pemerintah sudi turun tangan meringankan jeritan tukang tambal ban dan sejenisnya melalui program UMKM . “Denger-denger di berita ada program bantuan untuk pelaku UMKM. Ya kalo bisa orang seperti saya ini bisa diikutkan bantuan untuk mendapatkan bantuan UMKM itu. Tapi jujur saya bingung juga gimana cara mendapatkan atau masuk menjadi peserta atau pengusaha binaan UMKM itu,” pungkas Arianto. (Farhanzuhdi)

Lanjutkan Membaca
Klik Untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *