Nasional
STABN Raden Wijaya Wonogiri Kembangkan Sentra Ekoteologi, Menag Nasaruddin: Alam Memiliki Hak untuk Lestari

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menanam pohon sebagai simbol penguatan ekoteologi dan menandatangani prasasti peresmian tiga gedung baru Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri (STABN) Raden Wijaya Wonogiri, Jawa Tengah, Sabtu (10/1/2026). (Kemenag)
FAKTUAL INDONESIA: Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar dalam menguraikan filosofi mendalam mengenai hubungan manusia dan alam, mengingatkan, alam semesta tidak boleh diposisikan semata-mata sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai mitra kehidupan yang harus dijaga kelestariannya.
“Filosofinya, manusia dan alam memiliki keterikatan yang kuat. Kita tidak boleh memperlakukan alam secara semena-mena. Alam semesta beserta seluruh isinya memiliki hak untuk lestari, dan manusia memiliki kewajiban moral untuk memuliakannya, bukan mendzaliminya,” kata Menag Nasaruddin Umar di Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri (STABN) Raden Wijaya Wonogiri, Jawa Tengah, Sabtu (10/1/2026), yang mengembangkan sentra ekoteologi.
Baca Juga : Menag Nasaruddin Tegaskan di Tengah Dunia yang Penuh Kebencian, Tuhan Tidak Pernah Jauh dari Manusia
Sebagai bentuk dukungan, Menag Nasaruddin menanam pohon Alpukat didampingi Dirjen Bimas Buddha Supriyadi dan Wakil Bupati Wonogiri.
Nasaruddin juga meresmikan tiga gedung pendidikan baru STABN Raden Wijaya. Tiga gedung yang diresmikan meliputi Gedung Layanan Pendidikan Adinata, Gedung Fakultas Dharmaduta Hayam Wuruk, dan Laboratorium Keagamaan Manjushri.
Melalui simbolisasi penanaman pohon alpukat itu, Menag berharap tumbuh suburnya tanaman tersebut menjadi saksi komitmen STABN Raden Wijaya dalam merawat bumi. Fasilitas ini diharapkan mampu mencetak lulusan yang tidak hanya saleh secara ritual, tetapi juga saleh secara ekologis, siap menjaga harmoni kehidupan yang berkelanjutan.
Nasaruddin menekankan pentingnya membangun kesadaran kolektif untuk tidak terjebak pada orientasi materi yang berlebihan hingga mengabaikan keseimbangan ekosistem. Oleh karena itu, Sentra Ekoteologi ini diharapkan hadir sebagai laboratorium kesadaran bagi mahasiswa. Di tempat ini, civitas akademika tidak hanya memperdalam ilmu agama, tetapi juga mempraktikkan etika terhadap bumi (eco-ethics).
Baca Juga : Peringatan HAB ke-80 Kemenag Dilaksanakan Sederhana, Menag Nasaruddin: Solidaritas Terhadap Saudara-saudara di Sumatra
“Kita perlu memperluas cakupan akhlak. Tidak hanya akhlak kepada Sang Pencipta dan sesama manusia, tetapi juga akhlak terhadap lingkungan, tumbuhan, dan hewan. Spiritualitas yang inklusif adalah yang membawa rahmat bagi semesta alam, sejalan dengan doa universal ‘Semoga Semua Makhluk Berbahagia’,” imbuhnya seperti dilansir laman kemenag.
STABN Raden Wijaya kembangkan sentra ekoteologi dalam nengimplementasikan salah satu dari delapan program prioritas (asta protas) Menteri Agama Nasaruddin Umar. Sentra ekoteologi ini bahkan nenjadi fasilitas unggulan kampus.
Kawasan ini didesain unik dengan mengintegrasikan tempat ibadah di dalam area konservasi alam. Konsep ini membawa pesan kuat bahwa aktivitas spiritual dan upaya pelestarian lingkungan adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan dalam praktik keagamaan.
Ketua STABN Raden Wijaya, Dr. Sulaiman, menjelaskan bahwa Sentra Ekoteologi ini mengusung semangat inovasi dengan tagline “Mengubah Sampah Menjadi Emas, Mengubah Emas Menjadi Berkah”. Salah satu implementasinya adalah pengolahan limbah menjadi energi terbarukan. Keberadaan tempat ibadah di area ini menjadi pengingat bahwa menjaga kesucian lingkungan adalah bagian integral dari menjaga kesucian batin.
Baca Juga : Terima Dubes Palestina, Menag Nasaruddin Tegaskan Dukungan Indonesia Terus Diperkuat Melalui Jalur Kemanusiaan
Resmikan Tiga Gedung Baru
Menteri Agama Nasaruddin Umar, meresmikan tiga gedung pendidikan baru di Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri (STABN) Raden Wijaya, Wonogiri, Jawa Tengah, Sabtu (10/1/2026). Tiga gedung yang diresmikan meliputi Gedung Layanan Pendidikan Adinata, Gedung Fakultas Dharmaduta Hayam Wuruk, dan Laboratorium Keagamaan Manjushri. Kehadiran fasilitas ini diharapkan menjadi katalisator kemajuan pendidikan keagamaan Buddha di Indonesia.
Menag menyoroti makna filosofis di balik nama gedung “Adinata” yang bermakna Adi Utama atau yang paling unggul. Nasaruddin menegaskan bahwa estetika dan kemegahan fisik bangunan harus berbanding lurus dengan kualitas sumber daya manusianya. Ia menekankan agar kampus tidak hanya megah secara infrastruktur, namun juga kokoh dalam nilai-nilai kemanusiaan.
“Kami berharap, keindahan dan kualitas bangunan ini sejalan dengan kualitas pemikiran dan karakter civitas akademikanya. Output pendidikan dari kampus ini haruslah individu yang tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga kejernihan hati dan karakter yang luhur. Harapan kami, fasilitas ini mampu melahirkan manusia paripurna yang senantiasa membawa pencerahan bagi masyarakat luas,” ujar Nasaruddin kepada awak media usai peresmian.
Baca Juga : Menag Nasaruddin Tegaskan Ramadan Harus Tetap Menjadi Ruang Penguatan Spiritual Masyarakat Meskipun Sedang Menghadapi Bencana
Nasaruddin menambahkan bahwa kehadiran fasilitas baru ini harus memberikan dampak positif yang nyata bagi ekosistem sosial di sekitarnya. Ia turut mengapresiasi Kabupaten Wonogiri yang dinilai berhasil merawat nilai-nilai toleransi. Sinergi dan partisipasi aktif masyarakat dari berbagai latar belakang agama dalam mendukung pengembangan kampus ini, menurut Menag, adalah bukti konkret soliditas persatuan di wilayah tersebut.
Lebih lanjut, Nasaruddin menggarisbawahi visi STABN Raden Wijaya untuk tidak sekadar mencetak kader yang berilmu, melainkan kader cendekiawan. Dalam pandangannya, cendekiawan adalah sosok yang mengintegrasikan kecerdasan akademik dengan kepekaan sosial, sehingga mampu hadir sebagai pemberi solusi atas berbagai persoalan bangsa.
Peresmian ini ditandai dengan penandatanganan prasasti dan prosesi simbolis penancapan Pedang Manjushri sebagai lambang kebijaksanaan. Turut hadir mendampingi Menag dalam agenda tersebut, Wakil Bupati Wonogiri, Dirjen Bimas Buddha, serta Ketua STABN Raden Wijaya. Kesuksesan pembangunan fasilitas megah ini tidak lepas dari sinergi produktif antara pemerintah pusat dan daerah, salah satunya melalui hibah lahan seluas 8,4 hektar.
Menutup keterangannya, Nasaruddin mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga amanah pembangunan ini sebagai mercusuar kerukunan.
Baca Juga : Disambut Ribuan Jemaat GRII, Menag Nasaruddin: Keberagaman dalam Bingkai NKRI jadikan Indonesia Model Toleransi Dunia
“Mari kita jadikan harmoni di Wonogiri ini sebagai referensi dan inspirasi bagi daerah lain dalam merawat kerukunan. Melalui dukungan fasilitas pendidikan yang memadai ini, kita bertekad mencetak generasi unggul yang senantiasa membawa pesan damai dan persatuan bagi Indonesia,” ujarnya.
Dukung STABN Menjadi Institut
Menteri Agama Nasaruddin Umar mendukung rencana transfornasi Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri (STABN) Raden Wijaya Wonogiri menjadi institut. Hal ini disampaikan Menag merespons aspirasi civitas academica STABN Raden Wijaya di Wonogiri, Sabtu (10/1/2026).
Namun demikian, Menag memberikan catatan agar proses transformasi kelembagaan dilakukan dengan prinsip kehati-hatian dan kematangan substansi. Menag mengibaratkan alih status sebagai proses menapaki anak tangga yang harus dilalui secara bertahap untuk memastikan fondasi institusi yang kokoh.
Baca Juga : Muhasabah Malam Akhir 2025 dan Awal 2026, Menag Nasaruddin: Syukur Sejati Mendorong untuk Berbagi Kepada Sesama
“Kami mendukung transformasi ini, namun prosesnya harus berjalan secara alamiah, prosedural, dan matang. Kami menghindari percepatan instan yang tidak didasari kesiapan substansial. Transformasi harus dilakukan secara terukur agar institusi ini memiliki daya tahan jangka panjang dan kualitas mutu yang terjaga,” jelas Nasaruddin.
Dia juga menekankan pentingnya efisiensi dalam tata kelola akademik serta mendorong mahasiswa untuk memiliki daya saing di kancah global. Menag meminta agar masa studi mahasiswa dapat dioptimalkan sesuai kurikulum yang berlaku. Ia mendorong terciptanya budaya akademik yang disiplin dan produktif, sehingga lulusan dapat segera berkontribusi bagi masyarakat.
“Kami mendorong efisiensi dalam pelaksanaan pendidikan. Jika kurikulum menetapkan masa studi empat tahun, maksimalkan waktu tersebut dengan disiplin. Kami juga mendukung penuh peluang mobilitas global bagi mahasiswa, terutama jika dapat dilakukan melalui skema pembiayaan yang efisien dan tidak memberatkan,” tegasnya.
Baca Juga : Resmikan Peta Jalan Pendidikan Islam, Menag Nasaruddin Tegaskan Kurikulum Sangat Menentukan Karakter Generasi Masa Depan
Apresiasi turut disampaikan Nasaruddin atas langkah progresif kampus yang berhasil menjalin kemitraan strategis dengan mitra mancanegara. Capaian ini dinilai sebagai bukti bahwa STABN Raden Wijaya memiliki jejaring internasional yang kuat, memberikan akses pendidikan berkualitas yang inklusif. Hal ini selaras dengan visi Kementerian Agama untuk mencetak kader bangsa yang memiliki wawasan global.
Selain aspek akademik, Nasaruddin juga berpesan kepada mahasiswa untuk senantiasa menjaga integritas moral di tengah masyarakat. Mahasiswa diminta menjadi agen perubahan yang membawa ketenangan, serta menghindari perilaku yang kontraproduktif terhadap citra pendidikan. Dia berharap kehadiran civitas akademika dapat menjadikan Wonogiri sebagai wilayah percontohan yang harmonis.
Menag juga mengapresiasi kinerja jajaran Ditjen Bimas Buddha dan Pimpinan STABN Raden Wijaya yang dinilai berhasil melakukan manajemen kelembagaan yang sehat. Ia optimis, dengan perencanaan yang matang dan tidak tergesa-gesa, STABN Raden Wijaya akan tumbuh menjadi perguruan tinggi yang kredibel, bonafide, dan berkelas dunia. ***














