Internasional
Mojtaba Khamenei Peringatkan Perang Psikologis di Tengah Ketegangan Iran dengan AS-Israel

Motjaba Khemeine ingatkan soal perang psikologi terharap Iran dan AS. (Foto : istimewa)
FAKTUAL-INDONESIA : Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, mengingatkan masyarakat mengenai meningkatnya perang psikologis yang disebut dilancarkan oleh pihak-pihak yang memusuhi Teheran, di tengah konflik yang masih berlangsung dengan Amerika Serikat dan Israel.
Dalam pernyataannya yang disampaikan melalui media sosial, Mojtaba menyoroti adanya operasi media yang menargetkan persatuan nasional Iran. Ia menilai upaya tersebut bertujuan melemahkan moral masyarakat serta mengganggu stabilitas keamanan dalam negeri.
Baca Juga : Berita Terbaru: Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei Kritis dan Tidak Sadar, Sedang Dirawat di Qom
“Operasi media musuh menargetkan pikiran dan jiwa rakyat untuk merusak persatuan dan keamanan nasional,” ujarnya, seraya mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap strategi tersebut.
Ia menambahkan bahwa persatuan masyarakat Iran justru menjadi faktor yang memperlemah posisi pihak lawan. Menurutnya, solidaritas yang kuat di dalam negeri telah memicu perpecahan di kalangan musuh.
“Persatuan yang luar biasa di antara rakyat Iran telah menyebabkan keretakan di pihak musuh,” kata Mojtaba.
Pernyataan tersebut muncul setelah polemik terkait komentar Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyebut Iran terpecah menjadi dua kelompok, yakni kubu garis keras dan moderat. Trump bahkan mempertanyakan kepemimpinan di negara tersebut.
Menanggapi hal itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian bersama pimpinan lembaga legislatif dan yudikatif mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam komentar tersebut sebagai provokasi yang tidak berdasar.
Baca Juga : Mojtaba Khamenei Tegaskan Israel Memainkan Trik untuk Menciptakan Perpecahan antara Iran dan Negara-negara Tetangga
Di tengah situasi tersebut, konflik antara Iran dan blok AS-Israel masih diwarnai dinamika gencatan senjata. Sebelumnya, gencatan senjata sempat diberlakukan selama dua pekan sejak awal April. Namun, perpanjangan gencatan senjata yang diumumkan secara sepihak oleh pihak AS tidak sepenuhnya direspons positif oleh Iran.
Penasihat parlemen Iran, Mahdi Mohammadi, menegaskan bahwa perpanjangan tersebut tidak memiliki arti bagi Teheran. Ia juga mengkritik kebijakan AS yang tetap melanjutkan tekanan ekonomi, termasuk pembatasan terhadap pelabuhan Iran.
Menurutnya, langkah tersebut menunjukkan inkonsistensi dan dinilai lebih tepat direspons melalui pendekatan militer dibandingkan jalur diplomasi.
Situasi ini menunjukkan bahwa ketegangan geopolitik di kawasan masih jauh dari mereda, dengan perang informasi dan narasi publik menjadi salah satu instrumen utama dalam konflik yang berlangsung.***














