Ekonomi
Pemprov dan APPBI Genjot Transaksi Imlek–Ramadan, Targetkan Rp10 Triliun di 98 Mal Jakarta

Suasana Imlek mulai terasa di sejumlah mall Jakarta. (Foto : istimewa)
FAKTUAL-INDONESIA : Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta bersama Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DKI Jakarta mendorong perayaan Imlek 2026 dan momentum menjelang Ramadan sebagai penggerak konsumsi rumah tangga dan sektor ritel. Melalui rangkaian festival, hiburan, dan program promosi di 98 pusat perbelanjaan, pelaku usaha menargetkan nilai transaksi tembus Rp10 triliun.
Sekretaris Daerah (Sekda) Jakarta Uus Kuswanto mengatakan pusat perbelanjaan menjadi salah satu variabel penting dalam menjaga akselerasi ekonomi Ibu Kota. Saat membuka Jakarta Lunar New Year Festival 2026, Minggu (8/2/2026), Uus menyebut pertumbuhan ekonomi Jakarta pada 2025 mencapai 5,21 persen, melampaui rata-rata nasional, tak lepas dari kolaborasi lintas pelaku usaha.
Baca Juga : Imlek Nasional 2026 Angkat Harmoni Budaya dan Aksi Sosial Berkelanjutan
“Pak Gubernur menyampaikan kenapa pertumbuhan ekonomi Jakarta meningkatnya cukup luar biasa? Ternyata ada beberapa program yang dikolaborasikan dengan seluruh pelaku ekonomi yang ada di Jakarta,” kata Uus.
Ia menambahkan, capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama berbagai pemangku kepentingan. “Apa yang terjadi ini tidak lepas dari ikhtiar berbagai macam stakeholder. Pemprov Jakarta mengajak seluruh pelaku ekonomi untuk bersama-sama meningkatkan ekonomi di Jakarta,” ujarnya.
Ketua APPBI DKI Jakarta Mualim Wijoyo menilai Imlek sebagai momentum strategis yang tidak hanya memperkuat kebersamaan, tetapi juga memulihkan kinerja ritel dan pariwisata. Berbagai program disiapkan untuk menarik kunjungan, mulai dari pertunjukan barongsai dan liong, dekorasi tematik, atraksi budaya, hingga aktivitas interaktif bagi keluarga.
Baca Juga : Permintaan Lampion Raksasa Meningkat Jelang Imlek 2026, Bengkel Dekorasi di Tangerang Kebanjiran Orde
“Kami ingin menghadirkan suasana perayaan yang meriah bagi masyarakat sekaligus meningkatkan kunjungan dan transaksi di mal,” kata Mualim.
Menurut dia, Imlek memiliki daya tarik serupa dengan Ramadan, terutama karena berdekatan dalam kalender tahun ini. “Imlek adalah momen yang selalu dinantikan dan sehari setelah Imlek sudah memasuki Ramadan. Pastinya memiliki dampak positif bagi industri ritel,” ujarnya.
APPBI mematok target transaksi Rp10 triliun selama periode perayaan. Angka itu dinilai realistis mengingat transaksi pada momen Natal dan Tahun Baru sebelumnya mencapai Rp15,25 triliun, terutama dari sektor perhotelan, pusat belanja, dan UMKM. “Sekarang ekonomi Jakarta sudah membaik. Yang dahulu ada istilah rojali, rombongan jarang beli, sekarang rojali, rombongan jadi beli. Kali ini kita target transaksinya tembus Rp10 triliun, tetapi itu target, bisa saja melampaui,” kata Mualim.
Baca Juga : Jelang Ramadan, Pemerintah Tetapkan Aturan Belajar di Sekolah
Ia menegaskan, daya beli masyarakat sangat dipengaruhi oleh daya tarik pusat perbelanjaan. Karena itu, penyelenggaraan event skala besar dan diskon musiman menjadi instrumen penting mendorong konsumsi. “Biasanya di akhir tahun atau hari-hari besar nasional mal sudah otomatis memberikan diskon-diskon,” tuturnya.
Selain menggenjot transaksi, Pemprov dan APPBI juga mendorong partisipasi UMKM melalui tenant pop-up dan bazar tematik agar efek pengganda ekonomi lebih luas. Dengan kombinasi hiburan, promosi, dan momentum keagamaan, Jakarta berharap konsumsi domestik tetap solid pada kuartal pertama 2026 sekaligus menjaga tren pertumbuhan di atas lima persen.***













