Ekonomi
Bisnis Perhotelan Kian Moncer di Januari-Maret 2023

Salah satu hotel yang cukup laris paska pandemi, Hotel Four Points. (ist)
FAKTUAL-INDONESIA : Usai perbatasan Pandemi Covid-19 dibuka, bisnis perhotelan di Indonesia mulai pulih. Pada Januari-Maret 2023, bisnis ini makin moncer dibanding periode yang sama tahun lalu.
Hal ini karena melejitnya kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) hingga 508,9%. Demikian pula perjalanan bisnis dari luar negeri juga semakin meningkat.
Menurut Julien Naouri, seniorvice president Investment Sales Asia JLL Hotels & Hospitality Group, Indonesia telah melihat peningkatan yang signifikan dalam hal kedatangan wisman pada kuartal pertama tahun 2023.
“Bersamaan dengan tren positif ini, sektor perhotelan telah menunjukkan kinerja yang kuat, dengan peningkatan tingkat hunian dan pendapatan per kamar yang tersedia,” papar dia dalam keterangan tertulis, Rabu (3/5/2023).
Data Badan Pusat Statistik (BPS) sepanjang Januari-Maret 2023, memperlihatkan bahwa kunjungan wisman tercatat melonjak 508,9%, yaknidari 369.180 orang menjadi 2.247.837 orang. “Jumlah kunjungan wisman terus mengalami peningkatan sejak tahun lalu.Tetapi, kalau kita bandingkan sebelum pandemi, kondisi di tahun 2023ini belum kembali ke level sebelum pandemi,” ujar KepalaBPS Margo Yuwono dalam konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta, Selasa (2/5/2023).
Dia menegaskan, tren kunjungan wisman mengalami peningkatan terus-menerus. “Hal ini menciptakan lingkungan investasi yang menguntungkan, karena investor terus menyadari potensi jangka panjang dari industri pariwisata Indonesia,” kata Julien Naori.
Terkait investasi di bisnis hotel dan restoran, data KementerianInvestasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memperlihatkan adanya pertumbuhan pada kuartal I/2023. BKPM menyebutkan bahwa dilini hotel dan restoran, tumbuh sekitar 11%, dari semula Rp 7,23triliun menjadi sekitar Rp 8 triliun. Investasi itu mencakup penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan penanaman modalasing (PMA). Khusus PMA, laju investasi melejit sekitar 28%, yakni dari Rp 2,23 triliun menjadi Rp 2,86 triliun.
Menurut Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, tingkat okupansi hotel di Jakarta pada awal 2023 menyentuh angka 65%. Banyaknya event yang diadakan lebih awal (di awal tahun) membantumeningkatkan okupansi.Banyaknya aktivitas offline (misal konser musik dan pertandingan olahraga) selama kuartal I-2023 juga membantu meningkatkan tingkat hunian di beberapa wilayah.
“Dengan meningkatnya tingkat hunian, angka tarif harian rata-rata bulanan juga perlahan meningkat,” ujar Ferry.
Pendapatan Meningkat
Seiring membaiknya tingkat kunjungan wisman dan pulihnya tingkat hunian hotel ikut andil mengerek pendapatan para pelaku bisnis hotel. Sejumlah pengembang properti yang bermain di bisnis hotel mencatat adanyapeningkatan pendapatan. Salah satunya adalah PT Lippo Karawaci Tbk(Lippo).
Mengutip laporan keuangan Lippo, terlihat bahwa dilini bisnis segmen gaya hidup, yang terdiri atas bisnis mal dan hotel, terus menunjukkan pemulihan yang kuat dengan meningkatnyapendapatan sebesar 19% yearon year(YoY) menjadi Rp 296 miliar.
“Kami sangat senang melihat LPKR dan semua unit bisnis terus bekerja dengan sangat optimal. Kami akanterus menciptakan nilai bagi semua pemangku kepentingan kami,” kata Group Chief Executive Officer(CEO) Lippo Karawaci, John Riady dalam siaran pers, Selasa (2/5/2023).
Lalu, PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSD) juga membukukan kenaikan dari lini hotel. Bila per akhir Maret 2022 baru sekitar Rp 3,53 miliar, kini menyentuh Rp 5,27 miliar.
Hal serupa ditorehkan oleh PT Agung Podomoro Land Tbk (APL). Bahkan,mengutip laporan keuangan kuartal I-2023 emiten berkode saham APLN itu, terlihat bahwa pendapatan dari bisnis hotel APL melonjak sekitar 72% per dibandingkan dengan periode yang sama, yakni dari Rp 115,40 miliar menjadi Rp 197,92 miliar.
Kini, APL memiliki dan mengoperasikan sejumlah hotel premiumseperti Pullman Vimala Hills Ciawi, Pullman Grand Central Bandung,dan Indigo Seminyak Bali.Kenaikan signifikan dari bisnis hotel juga dibukukan oleh PT Summarecon AgungTbk (Summarecon).
Per akhir Maret 2023, Summarecon mengantongipendapatan hotel sebesar Rp 87,79 miliar. Angka itu melejit sekitar 100% karena pada periode sama 2022 baru berada di level Rp 43,81miliar.
PT Pakuwon Jati Tbk (Pakuwon) juga berhasil mendongrak pendapatan hotel sekitar 61%, yaitu dari Rp 151,50 miliar menjadi Rp 243,53 miliar.
Menggutiplaman Pakuwon Jati, hotel dan service apartment yang dimiliki emiten berkode saham PWON itu mencakup Sheraton Grand Jakarta Gandaria City dan Somerset Berlian Jakarta. Lalu, Sheraton Surabaya Hotel & Towers, Ascott Waterplace Surabaya,dan Four Points By Sheraton Surabaya. Selain itu, The WestinSurabaya, Four Points By SheratonSurabaya Pakuwon Indah, dan Marriott Hotel Yogyakarta.
Untuk yang sedang tahap rencana pembangunan adalah Fairfield by Marriott &Four Points by Sheraton Bekasi, Jawa Barat.
WongBoon Siew Ivy, direktur PT Pakuwon Jati Tbk pernah mengatakan, tahun 2023, bisnis hotel tumbuh didukung oleh perjalanan domestik dan asing serta kegiatan pemerintah. “Hal itu juga didukung oleh hadirnyajalan tol Trans Jawa yang sudah bagus,” kata dia.
Pemain lainnya, yakni PT Ciputra Development Tbk (Ciputra) mengerekpendapatan hotel sebesar 39% sepanjang tiga bulan pertama tahun ini, yaitu dari Rp 87,72 miliar menjadi Rp 121,70 miliar.
Sekalipun mayoritas emiten properti berhasil mengerek pendapatan hotel, adapula yang harus puas membukukan penurunan. Salah satunya adalah PT Modernland Realty Tbk yang per akhir Maret 2023 harus puas mengantongi Rp 15,89 miliar, padahal sebelumnya sebesar Rp 17,36 miliar.***














