Connect with us

Ekonomi

Ya Ampun…. Rupiah Terhempas Rp17.503 Perdolar AS, Rekor Baru Terlemah Sepanjang Masa

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Waduh..... nilai tukar (kurs) rupiah terus loyo dan terhempas terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sehingga Selasa (12/5/2026) siang ini sudah melewati Rp17.500 perdolar AS. Tanda apa ini? (Ist)

Waduh….. nilai tukar (kurs) rupiah terus loyo dan terhempas terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sehingga Selasa (12/5/2026) siang ini sudah melewati Rp17.500 perdolar AS. Tanda apa ini? (Ist)

FAKTUAL INDONESIA:  Rupiah kini benar-benar berada dalam  tekanan hebat. Pada perdagangan Selasa (12/5/2026), nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau melampaui level psikologis baru dan menyentuh angka Rp17.503. Posisi ini menandai salah satu titik terlemah rupiah dalam sejarah. Rekor baru terlemah sepanjang masa rupiah terhadap dolar AS seiring dengan meningkatnya sentimen negatif dari pasar global dan domestik.

Tanda-tanda anjloknya rupiah sudah terlihat saat pembukaan perdagangan valuta asing ketika dibuka  melemah 69 poin atau 0,40 persen menjadi Rp17.483 dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.414 per dolar AS.

Rupiah terus berada dalam tekanan bahkan begitu hebat sehingga anjlok kembali keposisi Rp17.503 per dolar AS.

Sentimen Geopolitik dan Domestik

Pelemahan signifikan ini dipicu oleh kombinasi faktor luar negeri yang kompleks. Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah diskusi de-eskalasi antara Amerika Serikat dan Iran tidak menunjukkan kemajuan. Penolakan AS terhadap proposal perdamaian yang dimediasi oleh Pakistan dan Qatar memicu kekhawatiran baru akan gangguan pasokan energi di kawasan Selat Hormuz.

Advertisement

Kondisi tersebut berdampak langsung pada:

  • Lonjakan Harga Minyak Dunia: Ketidakpastian di Timur Tengah mendorong kenaikan harga energi secara global.
  • Keperkasaan Indeks Dolar AS: Ketegangan geopolitik membuat investor beralih ke aset aman (safe haven), yang memperkuat posisi Dolar AS terhadap mayoritas mata uang dunia.
  • Kebijakan Suku Bunga: Kekhawatiran inflasi akibat harga minyak membuat pasar berekspektasi bahwa suku bunga bank sentral akan tetap tinggi untuk waktu yang lebih lama (higher for longer).

Dari dalam negeri, nilai tukar rupiah juga dibayangi oleh sentimen negatif terkait posisi pasar saham Indonesia di indeks MSCI. Kekhawatiran investor terhadap rebalancing indeks tersebut memicu arus modal keluar (capital outflow), yang menambah beban bagi mata uang domestik.

Selain itu, permintaan valuta asing (valas) yang tinggi untuk kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri terus memberikan tekanan musiman pada stabilitas kurs sejak awal tahun.

Seperti dilansir inews, Pengamat Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi memprediksi tekanan terhadap mata uang Garuda masih akan berlanjut dalam waktu dekat. Ibrahim menilai pelemahan signifikan ini dipicu oleh kombinasi sentimen negatif, baik dari kancah geopolitik global maupun kondisi fundamental ekonomi domestik yang tengah menghadapi tantangan besar.

“Hari ini rupiah terus mengalami pelemahan. Ya, sudah menyentuh di level Rp17.500 yang kemungkinan besar akan kembali menuju di Rp17.550-an. Angka Rp17.550 kemungkinan besar akan tercapai dalam minggu ini,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (12/5/2026).

Dari sisi eksternal, ketegangan di Timur Tengah kembali menjadi motor penguatan indeks Dolar AS. Penolakan Amerika Serikat terhadap proposal damai Iran serta serangan yang masih terjadi di Selat Hormuz memicu kekhawatiran pasar global.

Advertisement

Ibrahim juga menyoroti adanya serangan terhadap kilang minyak di Pulau Lavan, Iran, yang melibatkan dinamika negara-negara eks anggota OPEC.

Kondisi ini secara langsung mendongkrak harga minyak mentah dunia (Brent crude oil) yang berdampak pada lonjakan biaya transportasi global.

Meski pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 tercatat cukup tinggi di angka 5,61 persen, Ibrahim menilai hal tersebut tidak cukup kuat untuk menyokong rupiah. Pasalnya, pertumbuhan tersebut lebih banyak ditopang oleh konsumsi dan belanja negara, bukan investasi produktif.

Ia juga menyoroti ancaman nyata di sektor riil, yakni gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang mulai masif.

“Sejak di bulan Januari sampai bulan April tahun 2026 sudah 40 ribu buruh baik di padat karya seperti manufaktur, tekstil dan garmen serta elektronik ini sudah terkena PHK. Ada kemungkinan besar bahwa beberapa bulan ke depan PHK akan kembali meningkat yang cukup signifikan,” paparnya.

Advertisement

Struktur tenaga kerja Indonesia yang didominasi oleh 87,74 juta pekerja sektor informal juga menambah kerentanan ekonomi.

Selain itu, pasar saat ini tengah mengantisipasi pengumuman dari MSCI terkait kemungkinan penurunan peringkat saham dan indeks Indonesia dalam tiga hari ke depan.

Melampaui Asumsi APBN

Level Rp17.500 ini telah melampaui asumsi nilai tukar dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026 yang sebelumnya dipatok pada angka Rp16.500 per dolar AS. Para ahli menilai posisi Rupiah saat ini sudah berada di bawah nilai wajarnya (undervalued) akibat pembengkakan premi risiko dan persepsi pasar terhadap kedisiplinan fiskal negara.

Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) terus memantau dinamika ini secara ketat untuk menyiapkan langkah antisipasi guna merespons gejolak pasar global dan memastikan stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga di tengah tingginya ketidakpastian. ***

Advertisement

Lanjutkan Membaca
Advertisement