Connect with us

Ekonomi

Sehari Jelang Libur Panjang, IHSG Anjlok, Rupiah Nyaris Tembus 17.000

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Tertekan oleh kombinasi panasnya tensi geopolitik global dan sentimen fiskal domestik membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dan nilai tukar rupiah kompak melemah Senin (16/3/2026). (AI/Ist)

Tertekan oleh kombinasi panasnya tensi geopolitik global dan sentimen fiskal domestik membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dan nilai tukar rupiah kompak melemah Senin (16/3/2026). (AI/Ist)

FAKTUAL INDONESIA: Pasar keuangan Indonesia mengawali pekan ini dengan rapor merah yang cukup pekat. Pada penutupan perdagangan Senin (16/3/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dan nilai tukar rupiah kompak melemah, tertekan oleh kombinasi panasnya tensi geopolitik global dan sentimen fiskal domestik.

IHSG Tergelincir dari Level Psikologis

Sempat memberikan perlawanan di awal sesi, IHSG akhirnya menyerah dan ditutup anjlok 1,61% ke level 7.022,29.

Indeks komposit bahkan sempat “senam jantung” dengan menyentuh level terendah harian di 6.917,32 sebelum akhirnya berhasil sedikit merangkak naik menjelang bel penutupan.

Membuka perdagangan IHSG pada Senin pagi dibuka melemah 21,76 poin atau 0,30 persen ke posisi 7.115,45. Sementara, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 3,38 poin atau 0,46 persen ke posisi 724,95.

Advertisement

Sore harinya, IHSG ditutup melemah 114,92 poin atau 1,61 persen ke posisi 7.022,29. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 14,60 poin atau 2,01 persen ke posisi 713,72.

Tekanan jual mendominasi pasar dengan 569 saham terkoreksi, sementara hanya 189 saham yang mampu bertahan di zona hijau.

Sektor energi menjadi korban utama akibat fluktuasi harga komoditas global, disusul oleh sektor teknologi dan properti.

Namun di tengah kejatuhan indeks, investor asing justru tercatat melakukan aksi beli bersih (net buy) senilai Rp 1,02 triliun. Saham seperti PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) menjadi incaran utama.

Rupiah Dekati Ambang Batas 17.000

Advertisement

Setali tiga uang, mata uang rupiah juga tampak lunglai di hadapan dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda ditutup melemah di level Rp 16.997 per dolar AS atau melemah sekitar 0,23% dari penutupan sebelumnya yang tercatat Rp16.958 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp16.990 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.934 per dolar AS.

Angka ini menempatkan rupiah pada posisi yang sangat kritis, hanya selangkah lagi menyentuh level psikologis baru di angka Rp 17.000.

Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan Senin pagi, bergerak melemah 12 poin atau 0,07 persen menjadi Rp16.970 per dolar AS dari penutupan sebelumnya yang tercatat Rp16.958 per dolar AS.

Beberapa faktor utama yang menjadi pemicu pelemahan hari ini antara lain:

Advertisement
  • Konflik AS-Iran: Eskalasi ketegangan di Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak mentah dunia yang kembali menembus 100 dollar AS per barel. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran inflasi energi global.
  • Efek “Mudik” & Libur Panjang: Menjelang libur panjang Nyepi dan Idul Fitri, volume perdagangan cenderung terbatas. Banyak investor ritel yang menarik dana (profit taking) untuk kebutuhan likuiditas menjelang hari raya.
  • Kekhawatiran Fiskal: Pasar mencermati langkah pemerintah dalam menjaga defisit APBN di bawah 3%, yang mendorong investor mengambil posisi aman (risk-off).

Analis memprediksi pasar masih akan volatil pada perdagangan Selasa (17/3/2026), mengingat ini adalah hari perdagangan terakhir sebelum memasuki masa libur panjang. Level 7.000 akan menjadi area pertahanan krusial bagi IHSG. ***

Lanjutkan Membaca
Advertisement