Connect with us

Ekonomi

Rupiah Rabu 6 Mei 2026: Perkasa Dibuka dan Ditutup Menguat Tajam Tapi Awas Volatilitas Global

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Pergerakan positif menguatnya nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), Rabu (6/5/2026),  dipicu oleh kombinasi sentimen internal yang solid serta sedikit meredanya ketidakpastian di pasar global. (AI/Ist)

Pergerakan positif menguatnya nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), Rabu (6/5/2026), dipicu oleh kombinasi sentimen internal yang solid serta sedikit meredanya ketidakpastian di pasar global. (AI/Ist)

FAKTUAL INDONESIA: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan taji pada penutupan perdagangan hari ini, Rabu (6/5/2026). Mata uang Garuda berhasil parkir di zona hijau sejak pembukaan hingga penutupan. Apa sebab?

Yang jelas keperkasaan rupiah memberikan angin segar bagi pasar keuangan domestik di tengah dinamika ekonomi global.

Berdasarkan data pasar spot, rupiah ditutup menguat signifikan dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Pergerakan positif ini dipicu oleh kombinasi sentimen internal yang solid serta sedikit meredanya ketidakpastian di pasar global.

Tanda-tanda menguatnya nilai tukar (kurs) rupiah sudah tampak pada pembukaan perdagangan Rabu pagi. Rupiah dibuka menguat 34 poin atau 0,20 persen menjadi Rp17.390 dari  penutupan sebelumnya di level Rp17.424 per dolar AS.

Meskipun terus mendapat tekanan namun  rupiah tetap ditutup  menguat pada penutupan perdagangan sebesar 37 poin atau 0,21 persen menjadi Rp17.387 per dolar AS.

Advertisement

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Rabu ini juga bergerak menguat ke level Rp17.405 dari sebelumnya Rp17.425 per dolar AS.

Faktor Pendorong Penguatan Rupiah

Beberapa analis menilai penguatan rupiah hari ini didorong oleh beberapa faktor kunci:

  • Rilis Data Ekonomi Domestik: Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap resilien menjadi magnet bagi investor asing. Konsumsi rumah tangga yang stabil dan terkendalinya angka inflasi nasional memberikan kepercayaan diri bagi pasar bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih sangat kokoh.
  • Meredanya Tensi Global: Kabar mengenai sedikit meredanya konflik geopolitik di Timur Tengah memberikan ruang bagi mata uang emerging markets, termasuk rupiah, untuk bernapas lega setelah sempat tertekan dalam beberapa pekan terakhir.
  • Aliran Modal Asing (Inflow): Terpantau adanya aliran modal masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan pasar saham, yang secara langsung meningkatkan permintaan terhadap mata uang rupiah.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, dari eksternal, pasar merespons positif pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengindikasikan peluang tercapainya kesepakatan damai dengan Iran. Pernyataan tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap konflik yang sebelumnya mengganggu jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz.

Sentimen ini berdampak pada melemahnya dolar AS, sehingga memberikan ruang penguatan bagi mata uang emerging market, termasuk rupiah.

Menurut Ibrahim seperti dilansir periskop, dari dalam negeri, sentimen positif datang dari kinerja ekonomi Indonesia yang menunjukkan percepatan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut pertumbuhan ekonomi kuartal I/2026 mencapai 5,61%, mengindikasikan tren pemulihan yang semakin kuat.

Advertisement

Pemerintah juga berkomitmen menjaga momentum tersebut melalui kebijakan lanjutan dan koordinasi erat dengan Bank Indonesia, terutama dalam menjaga likuiditas sistem keuangan.

Namun demikian, pelaku pasar masih mencermati sejumlah indikator yang belum sepenuhnya solid, seperti penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Maret 2026 yang turun ke level 122,9 dari sebelumnya 127,0.

Sementara itu Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, menjelaskan bahwa penguatan ini mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang tetap solid. Ia mengutip pernyataan Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, yang menyebut posisi rupiah saat ini masih berada dalam kategori undervalued.

“Rupiah memiliki potensi untuk terus menguat didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang berada di angka 5,61 persen, tingkat inflasi yang rendah, pertumbuhan kredit yang positif, serta cadangan devisa yang kuat,” ujar Amru di Jakarta, Rabu, seperti dilansir mediaindonesia.

Meskipun menguat, Amru mencatat bahwa rupiah sempat mengalami tekanan dalam beberapa hari terakhir. Namun, ia menegaskan bahwa faktor-faktor tersebut bersifat temporer dan bukan berasal dari kelemahan fundamental domestik.

Advertisement

Masih Rentan Melemah

Meski ditutup menguat hari ini, para pelaku pasar tetap dihimbau untuk waspada terhadap volatilitas global yang masih tinggi. Fokus pasar selanjutnya akan tertuju pada kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed) serta rilis data neraca perdagangan Indonesia yang akan datang.

Kinerja apik rupiah pada Rabu ini diharapkan menjadi katalis positif bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan stabilitas harga komoditas dalam negeri di sisa pekan ini.

Amru mengungkapkan di sisi lain, penguatan rupiah masih dibayangi oleh sentimen global, termasuk tingginya suku bunga global dan kenaikan yield US Treasury yang mencapai kisaran 4,47 persen. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga memicu sentimen risk-off, yakni investor cenderung beralih ke aset aman (safe haven).

“Kombinasi harga minyak yang tinggi juga meningkatkan kebutuhan dolar untuk impor. Ini secara otomatis memberikan tekanan pada mata uang emerging markets, termasuk rupiah,” tambah Amru.

Advertisement

Ibrahim Assuaibi mengingatkan, dari sisi eksternal, rupiah dinilai masih rentan melemah meski pasar merespon dengan positif terhadap sinyal kesepakatan perdamaian antara AS dan Iran yang dikeluarkan melalui pernyataan Donald Trump.

Sedang dari sisi internal, rupiah diprediksi kembali melemah meski perekonomian Indonesia telah mencatat kinerja positif pada kuartal I/2026, dengan pertumbuhan di level 5,61%.

“Percepatan ini belum sepenuhnya dipahami oleh pelaku pasar, yang justru masih menunjukkan kekhawatiran dan cenderung menarik dana dari pasar modal. Oleh karena itu, pemerintah akan menjaga momentum pertumbuhan ini pada kuartal berikutnya melalui berbagai kebijakan lanjutan. Koordinasi dengan Bank Indonesia juga terus diperkuat, khususnya dalam menjaga likuiditas sistem keuangan,” paparnya.

“Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang  Rp 17.380 – Rp 17.420,” ungkap Ibrahim. ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement