Ekonomi
Rupiah Perkasa, IHSG BEI Melesat Tajam, Awas Ancaman Mengintai

Kabar gembira menyelimuti nilai tukar (kurs) rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) setelah sama-sama dibuka dan ditutup menguat pada perdagangan valuta dan saham Rabu (11/2/2026)
FAKTUAL INDONESIA: Dapat dikatakan rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berpesta pada perdagangan valuta dan saham Rabu (11/2/2026).
Nilai tukar (kurs) rupiah menunjukkan taringnya dengan tampil perkasa menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sejak pembukaan hingga penutupan perdagangan. Kali rupiah tidak mau tergelincir seperti sehari sebelumnya ketika melemah di penutupan meskipun sudah menguat saat pembukaan perdagangan.
Sementara itu IHSG BEI melanjutkan tren positif terus berada di zona hijau sejak pembukaan hingga penutupan perdagangan saham Rabu. Bahkan IHSG terbang menguat nyari 2%.
Baca Juga : IHSG BEI Bangkit Perkasa Tembus Level 8.100, Rupiah Tergelincir Digoyang Dolar
Meskipun demikian, baik rupiah maupun IHSG BEI tetap harus waspada terhadap ancaman yang mengintai pada perdagangan berikutnya. Ada faktor-faktor internal maupun eksternal yang bisa menggoyang rupiah maupun IHSG ke zona merah.
Rupiah Tancap Gas!
Rupaih sukses menutup hari dengan performa impresif, menguat di tengah lesunya indeks dolar AS dan optimisme pasar terhadap ekonomi domestik.
Berdasarkan data pasar spot, rupiah perkasa dengan kenaikan 25 poin atau 0,15% ke level Rp16.786 per dolar AS, dibandingkan penutupan hari sebelumnya di posisi Rp16.811.
Baca Juga : IHSG BEI Rebound Fantastis, Rupiah Menguat Pimpin Mayoritan Mata Uang Asia
Sejak pembukaan pagi tadi, rupiah memang sudah menunjukkan tren positif dengan bergerak konsisten di zona hijau. Rupiah bergerak menguat 36 poin atau 0,21 persen menjadi Rp16.775 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.811 per dolar AS.
Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan bergerak menguat 25 poin atau 0,15 persen menjadi Rp16.786 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.811 per dolar AS.
Sejumlah analis menilai penguatan ini dipicu oleh kombinasi sentimen eksternal dan internal. Untuk eksternal dipicu oleh layunya ekonomi AS. Data penjualan ritel AS yang stagnan (0,0% mtm) memicu kekhawatiran melambatnya ekonomi di Negeri Paman Sam. Kondisi ini membuat investor bertaruh bahwa Bank Sentral AS (The Fed) akan lebih melunak dalam kebijakan suku bunganya tahun ini.
Sentimen regional juga mendukung sehingga rupiah tidak sendirian. Mayoritas mata uang Asia juga terpantau menguat, dipimpin oleh Yen Jepang dan Won Korea, seiring melemahnya indeks dolar AS ke level 96,59.
Baca Juga : Nilai Tukar Rupiah dan IHSG BEI Sama-sama Melemah Sejak Pembukaan hingga Penutupan Perdagangan Jumat
Dari dalam negeri, rilis Paket Stimulus Ekonomi Kuartal I oleh pemerintah memberikan suntikan kepercayaan bagi pelaku pasar. Stabilitas inflasi dan proyeksi pertumbuhan kredit perbankan yang solid di kisaran 10-12% turut mempertebal optimisme investor.
“Data penjualan ritel AS untuk bulan Desember lebih lemah dari yang diperkirakan. Angka tersebut menunjukkan bahwa pengeluaran konsumen secara luas di ekonomi terbesar dunia sedang mendingin di tengah inflasi yang tinggi dan tekanan pada pasar tenaga kerja. Kelemahan yang berkelanjutan dalam pengeluaran dapat menghadirkan prospek yang lebih lemah bagi perekonomian,” tulis Pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi dalam publikasi risetnya sore ini.
Baca Juga : IHSG Berpotensi Terus Menguat, Rupiah Belum Bisa Lepas dari Ketegangan Amerika – Iran
Meski hari ini rupiah berjaya, para pelaku pasar diimbau untuk tetap waspada. Fokus investor kini tertuju pada rilis data ketenagakerjaan AS (Non-Farm Payroll) yang akan keluar akhir pekan ini. Data tersebut diprediksi akan menjadi penentu arah pergerakan mata uang global selanjutnya.
Untuk besok, rupiah diperkirakan masih akan bergerak stabil di rentang Rp16.750 hingga Rp16.850 per dolar AS.
Presiden Komisioner HFX International Berjangka, Sutopo Widodo mengatakan, pelaku pasar tetap perlu mewaspadai sejumlah sentimen krusial yang dapat membatasi apresiasi rupiah. Dia menjelaskan, faktor utama yang harus dicermati adalah perkembangan rencana sanksi Uni Eropa terhadap Pelabuhan Karimun, yang berisiko mengganggu aliran perdagangan dan memicu kekhawatiran terkait posisi geopolitik Indonesia.
Baca Juga : Skenario Terburuk IHSG BEI setelah Ambruk Hampir 5 Persen, Rupiah Tergelincir Tertekan Keputusan Trump
Selain itu, pasar akan sangat sensitif terhadap data ketenagakerjaan AS (Non-Farm Payrolls) yang segera dirilis. Jika hasil laporan menunjukkan ketahanan tenaga kerja yang melampaui ekspektasi, dolar AS berpotensi melakukan rebound mendadak yang akan memberikan tekanan balik bagi mata uang Garuda.
“Proyeksi nilai tukar rupiah untuk esok hari, Kamis, 12 Februari 2026, diperkirakan akan bergerak dalam rentang konsolidasi dengan kecenderungan menguat tipis di kisaran Rp 16.750 hingga Rp 16.820 per dolar AS,” ucap Sutopo seperti dilansir kontan.
IHSG Tembus Level 8.290
Pasar modal Indonesia berpesta pora pada perdagangan Rabu (11/2/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) tampil sangat impresif dengan melesat tajam dan ditutup mendekati level tertingginya hari ini.
IHSG sukses parkir di level 8.290,97, melonjak 159,23 poin atau naik 1,96% dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Sepanjang hari, indeks bergerak sangat dinamis dengan level terendah di 8.118,16 dan sempat menyentuh puncaknya di 8.290,97 tepat menjelang bel penutupan.
Baca Juga : IHSG Benar-benar Pulih dan Menguat Setelah Dirut BEI Mundur, Rupiah Ditekan Sentimen Global
Penguatan hari ini didominasi oleh warna hijau di hampir seluruh sektor. Sektor energi menjadi bintang panggung dengan kenaikan fantastis sebesar 5,95%. Saham-saham tambang dan minyak menjadi motor utama penggerak indeks.
Tercatat sebanyak 570 saham menguat, sementara hanya 168 saham yang melemah, dan 220 saham lainnya stagnan.
Antusiasme investor terlihat dari nilai transaksi yang mencapai Rp29,68 triliun dengan volume perdagangan mencapai 58,23 miliar lembar saham.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim mengatakan penguatan IHSG ditopang oleh sejumlah faktor, mulai dari optimisme investor, laporan kinerja keuangan emiten, hingga faktor teknikal. Seperti dilansir liputan6.com, selain itu, penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turut memberikan sentimen positif.
“Penguatan IHSG antara lain didorong oleh meningkatnya optimisme investor akan pasar modal Indonesia, laporan kinerja keuangan emiten, serta faktor teknikal. Rupiah juga berlanjut menguat terhadap dolar AS,” ujar Ratna Lim.
Ratna memproyeksikan tren penguatan masih berlanjut pada perdagangan Kamis (12/2/2026). Menurutnya, IHSG berpeluang menguji area resistance di kisaran 8.350 hingga 8.400.
Baca Juga : IHSG Pulih Namun Masih Melemah, Rupiah Terpukul Sentimen Negatif Intern
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, mengatakan penguatan IHSG ditopang kombinasi sentimen global dan domestik.
“Sektor energi menjadi yang terkuat dengan kenaikan 5,95%, sementara sektor financials menjadi satu-satunya yang melemah sebesar 0,49%,” ujar Nico kepada Kontan, Rabu (11/2/2026).
Secara teknikal, Nico melihat pergerakan IHSG berada dalam rentang 8.170 hingga 8.350. Dengan posisi tersebut, ia memproyeksikan IHSG masih berpotensi melanjutkan penguatan pada perdagangan Kamis (12/2/2026).
Dengan momentum penguatan yang kuat hari ini, IHSG berpotensi menguji level resistance berikutnya di angka 8.350. Namun, investor tetap disarankan waspada terhadap potensi profit taking (aksi ambil untung) jangka pendek setelah reli besar hari ini. ***














