Ekonomi
Rupiah Hari Senin 31 Agustus 2026: Senasib dengan Bath Tertekan ke Rp17.722, Ada Peluang Rebound Tipis

Rupiah mengalami nasib yang sama dengan bath Thailand yang tertekan oleh keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan valuta asing Senin (31/8/2026). (Foto: Istimewa)
FAKTUAL INDONESIA: Rupiah menutup bulan Agustus 2026 dengan catatan merah setelah tertekan melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), Senin (31/8/2026). Nasib rupiah ini sama dengan mata uang bath Thailand yang juga tertekan oleh dolar AS di pasar valuta asing kawasan Asia yang hari ini didominasi penguatan.
Berdasarkan data pasar uang pada Senin sore, mata uang Garuda terkoreksi sebesar 29 poin atau melemah 0,16 persen dan bertengger di level Rp17.722 per dolar AS.
Pelemahan ini memutus tren konsolidasi tipis yang sempat bertahan di akhir pekan lalu di kisaran Rp17.693 per dolar AS.
Hari ini rupiah mengawali perdagangan dengan posisi melemah ketika dibuka merosot 57 poin atau 0,32 persen menjadi Rp17.750 dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.693 per dolar AS.
Seiring dengan itu pada Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia hari ini, rupiah juga bergerak melemah ke level Rp17.746 dari sebelumnya Rp17.703 per dolar AS
Untuk pasar kawasan Asia, rupiah senasib dengan bath Thailand dan dolar Taiwan yang juga melemah terhadap dolar AS. Bath terkoreksi tajam 0,47%. Sedangkan dolar Taiwan melemah 0,19%.
Mata uang negeri jiran, ringgit Malaysia, dan peso Filipina mampu bertahan terhadap dominasi dolar AS dengan tetap bertahan dari posisi sebelumnya.
Penguatan dicatat hampir sebagian besar mata uang Asia seperti won Korea Selatan yang menguat (0,5%), d yen Jepang (0,3%), rupee India (0,2%), yuan China (0,15%), dan dolar Singapura (0,13%).
Faktor Pemicu Pelemahan Rupiah
Tekanan terhadap mata uang domestik di penghujung Agustus ini dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global dan domestik:
- Attitude Wait and See Pasar Global: Investor cenderung menahan diri menjelang rilis data indikator ekonomi utama dari Amerika Serikat, termasuk kejelasan mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed (Federal Reserve).
- Rilis Data Inflasi Indonesia: Pelaku pasar domestik mencermati rilis angka inflasi resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS) serta respon Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas nilai tukar menjelang awal September.
- Penguatan Indeks Dolar AS: Dolar AS mengalami penguatan teknikal akibat meningkatnya yield obligasi pemerintah AS (US Treasury).
Melansir laporan RCTI+, analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, memanasnya kembali dituasi di Teluk menjadi salah satu sentiment yang mendorong pelemahan rupiah. Pasukan AS menyerang dua peluncur rudal di Pulau Larak, Iran yang terletak di Selat Hormuz, Minggu.
“Sebagai tanggapan, Iran menyerang dua pangkalan udara AS di Yordania, demikian dilaporkan media Iran pada hari Senin dengan mengutip pernyataan Garda Revolusi Iran,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di Simposium Jackson Hole menekankan bahwa fokus utama bank sentral saat ini seharusnya adalah stabilitas harga, yang mendorong pasar untuk meningkatkan spekulasi kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed di bulan September. Warsh masih memiliki pekerjaan rumah untuk mengembalikan inflasi ke target 2 persen.
Dari sentimen dalam negeri, ketidakpastian geopolitik global dan lonjakan harga energi berpotensi semakin membebani anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Subsidi dan kompensasi energy yang mencapai sekitar Rp233 triliun diperkirakan akan meningkat.
Pada saat yang sama, depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga membuat biaya pengadaan energi menjadi lebih mahal. Kondisi tersebut pada akhirnya meningkatkan kebutuhan anggaran untuk subsidi dan kompensasi energi.
Subsidi dan konpensasi energi sampai akhir tahun subsidi dan kompensasi ini akan meningkat hingga Rp526 triliun. Dengan demikian, terdapat potensi kenaikan hampir Rp200 triliun dibandingkan alokasi awal dalam APBN yang berada di kisaran Rp338 triliun.
Selain itu, pemerintah Presiden Prabowo Subianto mempersiapkan anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM) jenis tertentu dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 lebih tinggi dibandingkan perkiraan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
Prediksi Selasa, 1 September 2026
Memasuki awal bulan baru pada Selasa (1/9/2026), mata uang rupiah diproyeksikan masih akan bergerak secara fluktuatif namun cenderung terbatas. Jika rilis data ekonomi domestik tercatat solid dan mampu meredam kekhawatiran pasar, rupiah memiliki peluang untuk melakukan rebound tipis. Namun, jika tekanan indeks dolar bertahan tinggi, rentang pelemahan rupiah berisiko kembali teruji.
- Rentang Pergerakan: Diprediksi akan bergerak di kisaran 700 – Rp17.760 per dolar AS.
- Fokus Pasar: Investor akan menyoroti efektivitas intervensi Bank Indonesia di pasar spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta sentimen awal bulan dari pergerakan indeks saham gabungan (IHSG).
Sedangkan Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.720-Rp17.780 per dolar AS.***














