Connect with us

Ekonomi

Pagi Ini Rupiah Melemah, PPKM Darurat Bisa Hadirkan Sentimen Negatif

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Dapat serangan dari dalam dan luar, rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat  dalam pembukaan perdagangan hari ini

Dapat serangan dari dalam dan luar, rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat dalam pembukaan perdagangan hari ini

FAKTUALid – Baru diumumkan akan diberlakukan, Perberlakuan Pembatasan K (PPKM) Mikro Darurat membawa imbas negative pada kurs rupiah. Selain itu faktor eksternal dari data tenaga kerja Amerika Serikat juga turut memberikan tekanan pada rupiah.

Hari ini nilai rupiah dibuka melemah terhadap dolar AS. Pada transaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis pagi rupiah melemah 15 poin atau 0,1 persen ke posisi Rp14.515 per dolar AS. Pada penutupan perdagangan sebelumnya rupiah dibandrol Rp14.500 per dolar AS.

Rupiah tertekan rencana PPKM mikro darurat di Jawa dan Bali. Faktor internal ini membuat rupiah mendapatkan sentimen negatif.

Analis Pasar Uang Ariston Tjendra seperti dilansir CNNIndonesia.com, berpendapat kebijakan itu akan berimbas pada pemulihan ekonomi nasional.

“Kebijakan PPKM mikro yang akan diimplementasikan pada Juli 2021 bisa turut memicu pelemahan nilai tukar rupiah,” kata Ariston.

Advertisement

Di kawasan Asia, rupiah melemah bersama peso Filipina minus 0,4 persen, ringgit Malaysia minus 0,17 persen, yuan China minus 0,13 persen, dolar Singapura minus 0,05 persen, dan dolar Hong Kong minus 0,01 persen.

Sementara mata uang Asia lain berada di zona hijau, seperti baht Thailand menguat 0,15 persen dan yen Jepang menguat 0,05 persen.

Kemudian, mata uang utama negara maju terpantau melemah. Poundsterling Inggris minus 0,13 persen, dolar Australia minus 0,15 persen, dolar Kanada minus 0,07 persen, dan franc Swiss minus 0,09 persen.

Ariston memperkirakan rupiah kembali bergerak melemah hari ini. Sebab, realisasi data tenaga kerja AS versi perusahaan swasta Automatic Data Processing (ADP) melebihi ekspektasi pasar.

Dengan data tersebut, pasar berekspektasi data tenaga AS versi pemerintah yang akan dirilis Jumat (2/7/2021) besok menunjukkan hasil yang lebih baik dari ekspektasi. Data tenaga kerja AS ini akan menjadi pertimbangan The Fed dalam membuat kebijakan moneternya.

Advertisement

“Kebijakan moneter yang lebih ketat dari bank sentral AS akan mendorong penguatan dolar AS,” ungkap Ariston. ***

Lanjutkan Membaca
Klik Untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement