Connect with us

Nusantara

Gibran Sayangkan Perusakan Tembok Keraton Kartasura, Ini Fakta Keberadaan Keraton Kartasura

Diterbitkan

pada

 

Runtuhan tembok bekas Keraton Kartasura yang dijebol pemilik lahan. (Foto: istimewa)

FAKTUAL-INDONESIA: Perusakan benda cagar budaya (BCB) tembok bekas Keraton Kartasura disayangkan banyak pihak. Tidak terkecuali, Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka.

“Disayangkan sekali ya,  kaget saya. Sekarang sudah rata ya,” ujar Gibran kepada wartawan di Loji Gandrung, rumah dinas Wali Kota Solo, Sabtu (23/4/2022).

Gibran membandingkan dengan di Kota Solo  dimana semua bangunan cagar budaya termasuk yang berada di luar keraton sudah terdata semua.

“Mau menyentuh, renovasi atau lainnya harus lapor. Tidak bisa merubah bentuk, warna apalagi langsung dibongkar,” katanya.

Tembok bekas Keraton Kartasura yang merupakan benda cagar budaya pada Kamis (21/4/2022) dijebol oleh pemilik lahan karena akan digunakan untuk akses membangun tempat kos-kosan.

Advertisement

Keraton Surakarta saat ini tidak bisa dilepaskan dari sejarah Keraton Kartasura. Berikut faktanya.

1. Menjadi Ibukota Kerajaan Mataram Islam

Keraton Kartasura berdiri pada tahun 1680-1742. Didirikan oleh Amangkurat II, hal ini berawal dari adanya pemberontakan Trunajaya dari Madura, pada tahun 1677, yang menyerbu di Keraton Mataram lama yang terletak di Plered. Akibat pemberontakan itu, Keraton Mataram lama di Plered hancur. Sehingga Amangkurat II yang masih menjadi Adipati Anom memindahkan keraton ke lokasi baru yakni di  hutan Wanakerta.

Pada 1682, bangunan keraton telah jadi seutuhnya dan mulai ditempati oleh Sunan Amangkurat II.Saat Sunan Amangkurat pertama kali masuk ke istana barunya itu, nama Wanakerta diubah menjadi Kartasura Hadiningrat.

2. Perang dan Pemberontakan

Advertisement

Setelah Amangkurat II wafat di Keraton Kartasura dipenuhi dengan pemberontokan. Salah satunya perang saudara antara Amangkurat III dengan pamannya Paku Buwono (PB) I yang akhirnya dimenangkan PB I. Selanjutnya PB I bertahta hingga akhir hayatnya.

Saat Keraton Kartasura dipimpin Paku Buwono II, terjadi pemberontakan diantaranya pemberontakan orang-orang Tionghoa tahun 1740 dan pemberontakan RM Garendri tahun 1743. Akibat pemberontakan yang mampu menjebol pertahanan Keraton Kartasura itu, memaksa PB II melarikan diri ke Wonogiri.

PB II dibantu Adipati Madura, Cakraningrat bisa kembali merebut Keraton Kartasura. Tapi karena kondisinya sudah hancur maka PB II memerintahkan untuk mencari daerah lain, hingga terpilihlah Desa Sala yang kemudian menjadi tempat berdirinya Keraton Surakarta Hadiningrat.

3. Peninggalan Keraton Kartasura

Saat ini Keraton Kartasura hanya meninggalkan tembok atau benteng yang dahulunya mengelilingi keraton. Tembok yang tersisa itu juga terlihat tidak terawat, bahkan di sebagian titik batu bata telah hilang atau hancur karena usia. ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement