Nasional
MUI Ajak Umat Gelar Shalat Istisqa di Tengah Ancaman Karhutla

Ilustrasi salat minta hujan di tengah kekeringan. (Foto : istimewa)
FAKTUAL-INDONESIA : Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengajak umat Islam di berbagai daerah untuk melaksanakan Shalat Istisqa sebagai ikhtiar memohon hujan sekaligus menghadapi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia.
Wakil Ketua Umum MUI Muhammad Cholil Nafis mengatakan Shalat Istisqa dapat menjadi salah satu bentuk ikhtiar spiritual di tengah kondisi kemarau dan kekeringan yang berlangsung cukup panjang.
“Kemarau dan kekeringan melanda kita, bahkan karhutla masih terus terjadi. Mari doakan mudah-mudahan segera turun hujan di Indonesia, di tempat-tempat kemarau dan kebakaran. Bahkan kami mengajak umat untuk Shalat Istisqa (minta hujan),” ujar Cholil dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (4/9/2026).
Menurut Cholil, pelaksanaan Shalat Istisqa merupakan bentuk kepasrahan seorang hamba kepada Allah SWT ketika menghadapi musibah kekeringan yang berkepanjangan.
Ia menilai upaya spiritual tersebut dapat berjalan berdampingan dengan berbagai langkah teknis yang dilakukan pemerintah dan petugas di lapangan untuk menangani karhutla.
“Doa bersama menjadi dorongan moral dan spiritual yang sangat penting,” katanya.
Kemarau panjang yang terjadi tahun ini telah berdampak pada ketersediaan air bersih di sejumlah kawasan permukiman. Kondisi tersebut juga berkontribusi terhadap meningkatnya titik panas (hotspot) di beberapa wilayah hutan Indonesia.
Selain mengancam lingkungan, karhutla juga menimbulkan persoalan kesehatan bagi masyarakat yang terdampak paparan asap.
Karena itu, Cholil berharap pengurus masjid, lembaga keagamaan, serta masyarakat di daerah terdampak dapat segera berkoordinasi untuk menggelar Shalat Istisqa secara berjamaah.
Kalbar dan Kalteng Jadi Prioritas
Di sisi lain, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni sebelumnya menyampaikan bahwa perkembangan titik panas karhutla di Kalimantan Barat (Kalbar) dan Kalimantan Tengah (Kalteng) kembali meningkat setelah sempat mengalami penurunan.
Kondisi tersebut membuat kedua provinsi tersebut kembali menjadi prioritas dalam penanganan karhutla secara nasional.
“Setelah kemarin semua enam provinsi yang prioritas trennya turun, namun hari ini Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah menunjukkan kembali hotspot yang meningkat. Artinya, prioritas utama sekarang ini secara nasional tetap Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah,” kata Raja Juli.
Dengan kondisi tersebut, upaya penanganan karhutla terus dilakukan melalui langkah teknis di lapangan, sementara MUI mendorong masyarakat untuk melengkapinya dengan ikhtiar spiritual melalui doa bersama dan Shalat Istisqa.***













