Connect with us

Ekonomi

IHSG BEI Hari Senin 31 Agustus 2026: Berbalik Arah Dipicu 3 Faktor, Konsolidasi Di Awal September

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Di akhir bulan Agustus, Senin (31/8/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dari posisi melemah mampu rebound menjadi menguat pada penutupan perdagangan. (Foto: Gemini AI)

Di akhir bulan Agustus, Senin (31/8/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dari posisi melemah mampu rebound menjadi menguat pada penutupan perdagangan. (Foto: Gemini AI)

FAKTUAL INDONESIA:  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berbalik arah dari melemah ke posisi menguat  pada Senin (31/8/2026). Simak pemicu kenaikan Indeks Saham dan prediksi pergerakannya Selasa (1/9/2026).

IHSG berhasil menutup perdagangan di akhir bulan Agustus 2026 di zona hijau. Pada penutupan bursa Senin (31/8/2026) sore, IHSG tercatat menguat tipis sebesar 7,36 poin atau 0,11 persen ke level 6.525,48.

Mekipun tipis namun penguatan IHSG hari ini terhitung meyakinkan karena sempat masih berada di zona merah saat pembukaan perdagangan saham Senin pagi. IHSG bergerak  melemah 7,01 poin atau 0,11 persen ke posisi 6.511,11. Kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 juga turun 1,11 poin atau 0,17 persen ke posisi 640,71.

Hingga penutupan sesi pertama perdagangan, IHSG masih tetap berselancar di zona merah karena tekanan aksi ambil untung (profit taking). Pergerakan IHSG kemudian bergerak perlahan ke zona hijau ditopang aksi beli selektif pada saham-saham berkapitalisasi besar (blue chip). Akhirnya IHSG melakukan rebound ditutup menguat tipis. Indeks LQ45 pun naik 2,01 poin atau 0,31 persen ke posisi 643,83.

Pergerakan IHSG seiring dengan indeks Shanghai, Kospi dan Straits Times yang menguat di bursa kawasan Asia. Terpantau indeks Shanghai menguat 0,46 persen ke 3.986,30, Kospi naik 0,46 persen ke 6.820,02, dan Straits Times menanjak 0,97 persen ke 5.755,36.

Sedangkan indeks Nikkei melemah 0,23 persen ke 66.256,00 dan  Hang Seng melemah 0,07 persen ke 25.566,99.

Advertisement

Investor Berhat-hati

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, dari dalam negeri, penguatan IHSG berlangsung terbatas karena investor masih berhati-hati menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting pekan ini. Data yang menjadi perhatian antara lain inflasi Agustus 2026 dan perdagangan Juli 2026.

Sentimen positif datang dari keputusan DPR RI menyetujui Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) untuk periode 2026-2031. Destry akan menggantikan Perry Warjiyo yang mengundurkan diri pada Juli 2026.

Nico seperti dilansir Metrotv  mengatakan bursa Asia didominasi pelemahan setelah pernyataan hawkish Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) pada September 2026.

“Bursa Asia didominasi pelemahan setelah pernyataan hawkish Ketua The Fed Kevin Warsh kembali meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) pada September 2026,” ujar Nico dalam kajiannya, dilansir Antara, Senin, 31 Agustus 2026.

Advertisement

Dalam pidatonya di Jackson Hole pada Jumat, 28 Agustus 2026, Warsh memperingatkan inflasi belum menunjukkan perlambatan yang berarti. Ia juga menegaskan komitmen para pembuat kebijakan untuk mengembalikan inflasi ke target dua persen.

Sentimen pasar turut dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak setelah militer AS menargetkan peluncur roket Iran yang disebut tengah bersiap memasang ranjau di Selat Hormuz.

Prediksi Selasa, 1 September 2026

Setelah melakukan penguatan di awal pekan akhir bulan Agustus maka menarik untuk menyimak prediksi IHSG di awal September besok. Memasuki hari pertama di bulan September 2026, pergerakan IHSG diproyeksikan bergerak konsolidasi cenderung menguat terbatas.

  • Rentang Support & Resistance: Diprediksi akan menguji level support di 500 dan resistance di kisaran 6.560 – 6.580.
  • Sentimen Utama: Fokus utama pasar tertuju pada rilis data inflasi Indonesia bulan Agustus oleh BPS serta rilis data PMI Manufaktur. Jika inflasi terjaga sesuai ekspektasi pasar, potensi rebound lanjutan akan makin terbuka.

Phintraco Sekuritas mengungkap secara teknikal, IHSG masih bertahan di atas level MA5 dan Stochastic RSI membentuk indikasi reversal di area pivot. Namun histogram positif MACD melemah.

“Sehingga diperkirakan IHSG akan berkonsolidasi pada kisaran level 6.450-6.570 pada perdagangan Selasa (1/9/2026),” tulis Phintraco Sekuritas dalam ulasannya, seperti dilansir investor.id, Senin (31/8/2026).

Advertisement

Sementara itu, MNC Sekuritas memperkirakan IHSG masih berpeluang menguat ke rentang area 6.599-6.666. Namun, cermati area koreksi IHSG yang diperkirakan berada pada rentang 6.289-6.352.

Pemicu Pergerakan IHSG

Kenaikan tipis IHSG di penghujung Agustus dipengaruhi oleh sejumlah faktor pendukung:

  • Aksi Beli Saham Big Cap: Sektor perbankan dan energi menjadi penopang utama penguatan indeks seiring masuknya arus modal domestik.
  • Sentimen Rebalancing Portofolio: Pelaku pasar memanfaatkan akhir bulan untuk melakukan penyesuaian portofolio (window dressing tipis) menjelang memasuki kuartal keempat.
  • Sikap Hati-Hati Investor: Volume perdagangan cenderung moderat seiring investor yang cermat mengantisipasi rilis data indikator makroekonomi domestik awal bulan.

Dari pantuan Indeks Sektoral IDX-IC, tercatat sebanyak 413 saham menguat, 245 saham melemah, dan 305 saham tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp24,99 triliun dari frekuensi perdagangan saham sebanyak 2.372.000 kali transaksi dengan volume 50,33 miliar lembar saham.

Terpantau, saham yang mengalami kenaikan harga terbesar antara lain KOTA, SRSN, ASLI, BSIM, dan FORU. Sementara saham dengan penurunan harga terbesar yakni DWGL, RGAS, TMPO, FUJI, dan TCPI.

Dari tujuh sektor yang menguat,  keuangan memimpin dengan kenaikan 1,23 persen, diikuti energi sebesar 0,94 persen dan teknologi sebesar 0,58 persen. Sedangkan pada empat sektor yang melemah,  industri mencatat penurunan paling dalam sebesar 1,65 persen, diikuti barang baku 0,71 persen dan barang konsumen primer 0,35 persen. ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement