Olahraga
# Setelah Kongres Mamuju, Pekerjaan Besar Menanti PB GABSI 2026–2030

Bahkan tidak sampai tiga bulan setelah Kongres GABSI di Mamju, Sulawesi Barat, PB GABSI harus menghadapi sejumlah agenda penting bridge di tingkat nasional maupun internasional. (Foto: Istimewa)
Oleh: Bert Toar Polii – Tukang Bridge
FAKTUAL INDONESIA: Kongres PB GABSI akan digelar pada 20–21 September 2026 di Mamuju, Sulawesi Barat. Kongres ini akan menentukan siapa yang dipercaya memimpin Pengurus Besar Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (PB GABSI) untuk masa bakti 2026–2030.
Pemilihan Ketua Umum tentu merupakan agenda utama. Namun, bagi saya sebagai Tukang Bridge, yang tidak kalah penting adalah pertanyaan:
Apa yang akan dilakukan sehari setelah Kongres selesai?
Sebab tantangan sudah menunggu di depan mata. Bahkan tidak sampai tiga bulan setelah Kongres, PB GABSI harus menghadapi sejumlah agenda penting di tingkat nasional maupun internasional.
Karena itu, idealnya calon Ketua Umum bukan baru memikirkan susunan kepengurusan setelah terpilih. Kalau memungkinkan, gerbong kepengurusan sudah dipersiapkan sebelum Kongres, sehingga setelah terpilih proses pembentukan Pengurus Besar dapat berlangsung jauh lebih cepat.
Biasanya diperlukan waktu sekitar satu bulan untuk menyusun kepengurusan. Jika proses tersebut dapat dipercepat, PB GABSI bisa segera mengurus pelantikan oleh Ketua Umum KONI dan kemudian langsung bekerja.
## Desember 2026: Ujian Pertama Pengurus Baru
Agenda internasional sudah menunggu pada awal Desember.
ABCC & SEABF 2026 akan berlangsung di Kuala Lumpur pada 7–11 Desember 2026. Sehari sebelumnya, 6 Desember, biasanya dilaksanakan Delegate’s Meeting yang membahas berbagai agenda organisasi, termasuk penetapan tuan rumah untuk tahun-tahun berikutnya.
Dalam kondisi normal, tahun 2027 seharusnya menjadi giliran Thailand sebagai tuan rumah, sedangkan tahun 2028 merupakan giliran Singapura.
Namun, ada sebuah gagasan yang menurut saya layak diperjuangkan Indonesia.
### Mengapa tidak bertukar tempat dengan Singapura?
Indonesia dapat meminta Singapura menjadi tuan rumah ABCC & SEABF 2029, sementara Indonesia mengambil giliran 2028.
Alasannya sangat sederhana tetapi sangat berarti.
Tahun 2028 GABSI akan berusia 75 tahun.
Usia 75 tahun tentu pantas diperingati secara istimewa. Salah satu bentuk perayaan yang sangat tepat adalah menjadikan ABCC & SEABF 2028 sebagai bagian dari rangkaian 75 Tahun GABSI.
Bayangkan jika ABCC & SEABF 2028 diselenggarakan di Indonesia pada 8–12 Desember 2028.
Dan pada tanggal 12 Desember, yang merupakan Hari Bridge Nasional, acara Victory Dinner dapat sekaligus menjadi puncak perayaan:
75 Tahun GABSI.
Sebuah perayaan yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menjadi momentum untuk menunjukkan kepada dunia bridge bahwa Indonesia masih mempunyai peran penting dalam perkembangan olahraga bridge di kawasan Asia.
## Mempertahankan Posisi Indonesia di SEABF
Ada satu hal lain yang menurut saya sangat penting.
SEABF atau South East Asian Bridge Federation merupakan gagasan Indonesia.
Federasi ini pada awalnya dipimpin oleh Alm. Michael Bambang Hartono bersama Sekjen Handojo Susanto.
Karena itu, posisi Indonesia di SEABF seharusnya tetap dipertahankan dan bahkan diperkuat.
Untuk posisi pimpinan SEABF, nama yang menurut saya sangat pantas diusung adalah Miranda S. Goeltom, mantan Ketua Umum PB GABSI.
Sementara Handojo Susanto diharapkan tetap menjalankan perannya sebagai Sekretaris Jenderal.
Jika gagasan ini dapat diwujudkan, maka akan lahir sebuah kombinasi yang sangat menarik dalam organisasi bridge Asia:
Esther Soponpanich memimpin APBF, sedangkan Miranda S. Goeltom memimpin SEABF.
Dua srikandi memimpin dua organisasi penting bridge di Asia.
Bagi Indonesia, ini bukan sekadar soal jabatan. Ini menyangkut pengaruh, kesinambungan dan kepemimpinan Indonesia dalam perkembangan bridge Asia Tenggara.
## Membangun 11 Negara dengan Organisasi Bridge Nasional
SEABF seharusnya tidak berhenti sebagai organisasi yang hanya mengatur kalender pertandingan.
Visi besarnya harus lebih jauh.
Salah satu tujuan jangka panjang yang patut diperjuangkan adalah agar 11 negara anggota South East Asian Bridge Federation memiliki National Contract Bridge Association yang benar-benar aktif dan terorganisasi.
Jika itu berhasil, maka posisi bridge di kawasan Asia Tenggara akan menjadi jauh lebih kuat.
Dampaknya juga sangat besar.
Dengan semakin banyak negara yang memiliki organisasi nasional bridge, peluang untuk mempertahankan bridge sebagai cabang olahraga dalam SEA Games akan semakin besar.
Dan kalau posisi bridge di SEA Games semakin kuat, peluang untuk kembali mendapatkan tempat yang lebih kokoh di Asian Games juga akan terbuka.
Jadi, SEABF jangan hanya menjadi federasi penyelenggara kejuaraan.
SEABF harus menjadi mesin pengembangan bridge Asia Tenggara.
## APBF Championships 2027: Target Sudah Menunggu
Agenda berikutnya datang pada sekitar Mei atau Juni 2027, ketika APBF Championships direncanakan berlangsung di Manila, Filipina.
Kejuaraan ini bukan sekadar kejuaraan Asia Pasifik.
Bagi Indonesia, kejuaraan ini juga menjadi sangat penting karena sekaligus berkaitan dengan seleksi Zone VI untuk menentukan tiga negara yang akan mewakili Zone VI pada World Bridge Team Championships 2027 di Barbados, yang direncanakan berlangsung sekitar Agustus–September 2027.
Artinya, PB GABSI 2026–2030 harus sudah mempunyai program pembinaan tim nasional sejak jauh-jauh hari.
Tidak boleh lagi berpikir:
> “Nanti kalau sudah dekat pertandingan baru kita siapkan.”
Persiapan tim nasional harus dimulai sejak kepengurusan baru terbentuk.
## Bagaimana dengan U31?
Ada pula persoalan lain yang tidak boleh dilupakan.
Tim U31 Indonesia yang bertanding di Hainan dengan biaya mandiri, kemudian berhasil lolos ke World Youth Team Championship, tentu harus mendapatkan perhatian.
Mereka sudah menunjukkan kemauan dan pengorbanan.
Kalau mereka berhasil lolos ke kejuaraan dunia, maka PB GABSI seharusnya hadir membantu persiapan mereka.
World Youth Team Championship biasanya berlangsung sekitar awal Agustus.
Karena itu, pembinaan pemain muda tidak boleh berhenti pada saat mereka berhasil lolos.
Justru setelah lolos, dukungan harus semakin kuat.
Inilah salah satu bentuk nyata bahwa PB GABSI serius membangun regenerasi.
## Jangan Lupakan Kejurnas Pelajar dan Mahasiswa
Pembinaan pemain muda juga harus dimulai dari dalam negeri.
Sudah cukup lama Kejurnas Bridge Antar Pelajar dan Mahasiswa tidak terselenggara sebagaimana mestinya.
Padahal kalau kita berbicara mengenai masa depan bridge Indonesia, inilah salah satu kompetisi yang seharusnya menjadi prioritas.
Kalendernya sebenarnya bisa dibuat sederhana.
Kejurnas Pelajar dan Mahasiswa dapat ditempatkan pada akhir Juni sampai awal Juli, bertepatan dengan periode libur sekolah dan perguruan tinggi.
Dengan demikian, peserta tidak harus meninggalkan kegiatan belajar-mengajar.
Dari kompetisi inilah diharapkan muncul pemain-pemain muda yang nantinya menjadi tulang punggung bridge Indonesia.
## Kalender Nasional Juga Harus Dibenahi
Selain pembinaan usia muda, kalender pertandingan nasional perlu ditata ulang.
Menurut saya, Kejurnas Antarprovinsi, Kabupaten/Kota dan Indonesia Open lebih tepat ditempatkan sekitar September–Oktober.
Dengan kalender yang lebih teratur, pemain dapat merencanakan perjalanan, klub dapat mempersiapkan tim, sponsor dapat mempersiapkan dukungan, dan PB GABSI mempunyai ruang yang lebih baik untuk menyusun program nasional.
Kalender pertandingan jangan hanya menjadi daftar kegiatan.
Kalender harus menjadi bagian dari strategi pengembangan olahraga bridge Indonesia.
## Bridge Masuk Sekolah, Kampus dan Institusi
Pada akhirnya, semua program tersebut akan sulit berkelanjutan kalau pemasalan tidak dilakukan.
Indonesia membutuhkan lebih banyak pemain.
Kita harus kembali memperkuat program:
Bridge masuk sekolah.
Bridge masuk kampus.
Bridge masuk institusi.
Sekolah dapat menjadi tempat pengenalan.
Kampus dapat menjadi tempat pembinaan.
Institusi dan komunitas dapat menjadi tempat pengembangan.
Dari sinilah piramida pembinaan bridge dibangun.
Semakin besar jumlah pemain di tingkat dasar, semakin besar pula peluang mendapatkan pemain berprestasi di tingkat nasional dan internasional.
## 100 Hari Pertama Akan Sangat Menentukan
Karena itu, saya berharap siapa pun yang terpilih menjadi Ketua Umum PB GABSI dalam Kongres Mamuju tidak membutuhkan waktu terlalu lama untuk mulai bekerja.
Kalau memungkinkan, struktur utama kepengurusan sudah dipersiapkan sebelum Kongres.
Begitu terpilih, tinggal menyempurnakan dan mengesahkan.
Targetnya jelas:
Kongres September 2026 → kepengurusan terbentuk → pelantikan → langsung bekerja.
Tidak boleh ada masa transisi yang terlalu panjang.
Sebab Desember 2026 sudah ada ABCC & SEABF.
Kemudian 2027 sudah menunggu APBF Championships, kualifikasi Zone VI menuju World Bridge Team Championships, World Youth Team Championship, serta agenda nasional pembinaan pelajar dan mahasiswa.
Dan kalau gagasan pertukaran tuan rumah berhasil diwujudkan, maka 2028 akan menjadi tahun istimewa: ABCC & SEABF di Indonesia sekaligus perayaan 75 Tahun GABSI.
## Empat Tahun yang Harus Dipersiapkan Sejak Hari Pertama
Masa bakti 2026–2030 jangan dijalankan dengan pola business as usual.
Harus ada target yang jelas.
2026: konsolidasi organisasi dan diplomasi internasional.
2027: pembinaan prestasi, regenerasi dan penguatan kalender nasional.
2028: momentum 75 Tahun GABSI dan ABCC & SEABF di Indonesia.
2029: penguatan hasil pembinaan dan persiapan menuju agenda internasional berikutnya.
2030: menyerahkan organisasi yang lebih kuat kepada generasi berikutnya.
Inilah yang menurut saya harus dipikirkan sejak sekarang oleh calon Ketua Umum.
Bukan hanya:
“Siapa yang akan menjadi pengurus?”
Tetapi jauh lebih penting:
“Apa yang akan kita kerjakan untuk bridge Indonesia selama empat tahun ke depan?”
Kongres Mamuju bukan garis akhir.
Kongres Mamuju adalah garis start.
Dan setelah garis start itu, pekerjaan besar sudah menanti.
Mari kita berharap Ketua Umum PB GABSI 2026–2030 adalah sosok yang mempunyai visi, jaringan, kemampuan manajerial, keberanian mengambil keputusan dan yang terpenting, kemauan untuk bekerja.
Karena bridge Indonesia tidak kekurangan agenda.
Yang kita perlukan adalah kepemimpinan yang mampu mengubah agenda menjadi program, program menjadi kegiatan, dan kegiatan menjadi prestasi.
Tukang Bridge***













