Connect with us

Ekonomi

Rupiah Kamis 30 April 2026: Terjerumus ke Titik Terlemah Sepanjang Masa Bahkan Dekati Rp17.400

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Makin lesu menyaksikan pergerakan nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang Kamis (30/4/2026) menyentuh posisi terlemah sepanjang masa. (AI)

Makin lesu menyaksikan pergerakan nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang Kamis (30/4/2026) menyentuh posisi terlemah sepanjang masa. (AI)

FAKTUAL INDONESIA: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin mengkhawatirkan setelah kembali dibuka dan ditutup melemah pada perdagangan valuta asing, Kamis (30/4/2026).

Sudah wajah mata uang kebanggaan republik Indonesia merah membara ditambah lagi harus terjerembab ke posisi terlemah sepanjang masa.

Pada penutupan perdagangan sore ini, kurs rupiah kembali menunjukkan performa negatif bukan saja erperosok ke zona merah, bahkan mendekati level psikologis baru yang mengkhawatirkan bagi pasar domestik.

Berdasarkan data pasar, rupiah ditutup melemah di level Rp17.353 per dolar AS, merosot sekitar 27 poin dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya di posisi Rp17.326. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia mematok posisi yang lebih dalam di level Rp17.378 dari sebelumnya Rp17.324 per dolar AS.

Mata uang Garuda sudah loyo sejak pembukaan perdagangan Kamis pagi ketika dibuka melemah 23 poin atau 0,13 persen menjadi Rp17.349 dari penutupan sebelumnya di level Rp17.326 per dolar AS. Ternyata sepanjang hari rupiah terus berada dalam tekanan sehingga makin melemah

Advertisement

hingga sempat menyentuh level terlemah intraday di Rp17.385 perdolar AS.

Memang kemudian rupiah mampu tarik nafas sehingga sedikit membaik ke posisi Rp17.353 per dolar AS saat penutupan. Namun ini masih lebih buruk dari saat pembukaan dan makin medekatkan rupiah pada level psikologis Rp17.400 perdolar AS.

Dampak ke Pasar Domestik

Tidak hanya rupiah, tekanan global ini juga menjalar ke pasar modal. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ikut terkoreksi signifikan sebesar 2% ke level 6.956 pada hari yang sama, terbebani oleh melesatnya harga BBM nonsubsidi dan tren pelemahan nilai tukar.

Para analis memprediksi rupiah masih akan bergerak volatil pada pekan depan. Jika tensi geopolitik tidak segera mendingin, mata uang Garuda diperkirakan akan menguji rentang konsolidasi baru di angka Rp17.350 hingga Rp17.400 per dolar AS.

Advertisement

Pelemahan rupiah kali ini dipicu oleh kombinasi sentimen eksternal yang cukup agresif:

  • Sikap “Hawkish” The Fed: Bank sentral AS, Federal Reserve, memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5% – 3,75%. Namun, pernyataan pejabat The Fed yang cenderung hawkish membuat pelaku pasar berekspektasi bahwa ruang pemangkasan suku bunga tahun ini akan semakin sempit. Hal ini memicu penguatan indeks dolar AS secara global.
  • Ketegangan di Timur Tengah: Konflik antara AS dan Iran yang belum mereda terus menghantui pasar. Rencana blokade laut yang berkepanjangan memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak mentah dunia, yang pada gilirannya mendorong kenaikan harga energi dan inflasi global.
  • Ketidakpastian Transisi The Fed: Pasar juga tengah mencermati masa berakhirnya jabatan Jerome Powell pada 15 Mei mendatang. Nama Kevin Warsh muncul sebagai kandidat kuat pengganti, yang menimbulkan spekulasi mengenai arah kebijakan moneter AS ke depan.

Gara-gara Rencana Trump 

Nilai tukar rupiah ditutup melemah di tengah penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS) yang dipicu eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta meningkatnya risiko gangguan pasokan energi global.

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pergerakan rupiah sepekan ini dipengaruhi sentimen global dan domestik.

 “Dari sentimen eksternal, penguatan dolar AS didorong oleh rencana Presiden AS Donald Trump yang bersiap melakukan blokade angkatan laut berkepanjangan terhadap Iran. Langkah ini berpotensi memicu Iran untuk terus memblokir Selat Hormuz sebagai balasan, yang merupakan jalur sekitar 20% pasokan minyak dunia,” kata Ibrahim Assuaibi seperti dilansir periskop, Kamis.

Perundingan antara AS dan Iran juga belum menunjukkan kemajuan berarti di tengah perbedaan pandangan terkait aktivitas nuklir Iran meningkatkan ketidakpastian global dan mendorong investor beralih ke dolar AS sebagai aset safe haven.

Advertisement

Selain itu, dinamika kebijakan moneter AS turut menjadi perhatian pasar. Ketua The Fed Jerome Powell menyampaikan bahwa independensi bank sentral berada dalam risiko, di tengah proses transisi kepemimpinan yang melibatkan Kevin Warsh. Pernyataan ini menambah ketidakpastian arah kebijakan suku bunga ke depan.

Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah diperkuat oleh lonjakan harga minyak mentah dunia. Harga Brent tercatat menembus 122 dolar AS per barel dan WTI di kisaran 108 dolar AS per barel, jauh di atas asumsi APBN sebesar 70 dolar per barel. Kenaikan ini meningkatkan kebutuhan impor energi Indonesia dan berpotensi menekan neraca transaksi berjalan serta ketahanan fiskal.

Selain itu, kebijakan MSCI yang menahan aliran dana asing turut menekan rupiah, dengan potensi outflow diperkirakan mencapai Rp15 triliun. Kombinasi sentimen global, tekanan makro, dan dinamika domestik membuat pergerakan rupiah semakin rentan.

Bank Indonesia (BI) terus melakukan intervensi secara komprehensif, baik di pasar luar negeri melalui Non-Deliverable Forward (NDF), maupun di pasar domestik melalui spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder secara terukur. BI juga menjaga daya tarik instrumen rupiah seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

“BI perlu menjaga komunikasi yang kuat agar pasar tetap yakin bahwa pelemahan rupiah tidak akan dibiarkan tidak teratur. Kenaikan suku bunga sebaiknya menjadi opsi terakhir jika tekanan terhadap rupiah semakin meningkat,” ujar Ibrahim.

Advertisement

Selain itu, seperti dilansir Kontan, Ibrahim melihat penggunaan narasi “rupiah undervalued” telah bergeser dari analisis ekonomi menjadi instrumen komunikasi untuk meredam kepanikan pasar dan menjaga optimisme.

Namun, narasi tersebut berpotensi menjadi problematis apabila terus diulang tanpa diiringi perbaikan fundamental yang nyata. Sebab, penguatan kepercayaan terhadap mata uang tidak dapat dibangun hanya melalui narasi.

“Langkah tersebut harus didasarkan pada perbaikan fundamental ekonomi secara nyata,” kata Ibrahim.

Muhammad Amru Syifa, Research and Development ICDX mengatakan, sentimen yang perlu dicermati untuk melihat gerak rupiah ke depan.

Dari sisi global, perhatian tertuju pada arah kebijakan Federal Reserve, terutama setelah sikap yang cenderung hawkish dan ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama.

Advertisement

Selain itu, perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang memengaruhi harga energi dan permintaan aset safe haven juga menjadi faktor utama. “Pergerakan imbal hasil obligasi AS dan indeks dolar turut menjadi indikator penting,” ucap Amru.

Dari sisi domestik, Amru bilang bahwa pasar akan mencermati rilis data inflasi, neraca perdagangan, dan cadangan devisa Indonesia pada pekan depan.

Selain itu, dinamika aliran modal asing serta kondisi likuiditas global juga akan turut menentukan arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek.

Untuk perdagangan Senin mendatang, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp17.350 hingga Rp17.400 per dolar AS.

Sedangkan Amru memperkirakan rupiah dalam sepekan ke depan akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah terbatas di kisaran Rp17.300 – Rp17.450 per dolar AS. ***

Advertisement

Lanjutkan Membaca
Advertisement