Connect with us

Ekonomi

Kurs Rupiah Selasa 28 April 2026: Melemah Lagi Tersandung Sentimen Global, Selanjutnya Menunggu Sinyal

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Kurs Rupiah Selasa 28 April 2026: Melemah Lagi Tersandung Sentimen Global, Selanjutnya Menunggu Sinyal

Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sudah melemah sejak pembukaan perdagangan valuta asing Selasa (28/4/2026) pagi hingga tetap di zona merah saat penutupan. (Foto : Istimewa)

FAKTUAL INDONESIA: Rupiah pada perdagangan valuta asing, Selasa (28/4/2026), gagal meneruskan posisi menguat yang diraih sehari sebelumnya. Mata uang Garuda harus rela ditutup melemah setelah tersandung oleh sentimen global.

Rupiah mengalami tekanan akibat kombinasi aksi jual investor asing serta panasnya tensi geopolitik global yang belum menemui titik terang.

Para analis menilai, ketidakpastian mengenai proposal perdamaian di Timur Tengah—khususnya kebuntuan diplomasi antara AS dan Iran — menjadi beban utama bagi aset-aset berisiko di pasar berkembang. Belum pulihnya jalur logistik di Selat Hormuz membuat pasar energi tetap tegang, yang secara tidak langsung menekan mata uang regional termasuk rupiah.

Baca Juga : Rupiah Senin 27 April 2026: Menguat Tertiup Angin Segar Dari Timur Tengah tapi Tetap Fluktuatif

Bagaimana nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) selanjutnya, terutama Rabu (29/4/2026), pasar masih menunggu sinyal arah kebijakan menoner dalam maupun luar negeri.

Rupiah Dekati Rp17.250

Advertisement

Kurs rupiah sudah loyo sejak pembukaan perdagangan, Senin pagi, ketika dibuka melemah 12 poin atau 0,07 persen menjadi Rp17.223 dari penutupan sebelumnya di level Rp17.211 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah makin melemah pada penutupan perdagangan sore harinya ketika ditutup ke level Rp17.243 per dolar AS atau terkoreksi 32 poin atau 0,19 persen dari penutupan sehari sebelumnya.

Pelemahan yang mendekati Rp17.250  itu terjadi di tengah penguatan dolar AS yang dipicu memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah.

Baca Juga : Kurs Rupiah Jumat 25 April 2026: Comeback Manis Menguat tapi Pekan Depan Masih Fluktuatif

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi seperti dilansir periskop, mengatakan, rupiah sepanjang perdagangan, bahkan sempat tertekan hingga 45 poin.

Dari sentimen eksternal, penguatan dolar AS dipicu oleh ketidakpastian terkait konflik antara AS dan Iran yang belum menemukan titik terang. Upaya untuk membuka kembali Selat Hormuz masih menemui jalan buntu, setelah Washington bersikap skeptis terhadap proposal terbaru dari Teheran.

Advertisement

“Ketidakpuasan Presiden AS Donald Trump terhadap proposal Iran membuat konflik semakin berlarut, sementara Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20% pasokan energi global masih terganggu,” jelas Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (28/4/2026).

Situasi ini memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global dan mendorong investor beralih ke aset safe haven seperti dolar AS.

Baca Juga : Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.287 per Dolar AS, Terdampak Lonjakan Harga Minyak Global

Selain itu, pasar juga menantikan hasil pertemuan bank sentral AS (The Fed) yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga. Namun, arah kebijakan moneter ke depan masih menjadi perhatian pelaku pasar di tengah tekanan inflasi akibat konflik geopolitik.

Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh faktor struktural. Meski sejumlah indikator makro seperti inflasi dan pertumbuhan ekonomi relatif stabil, ketergantungan terhadap aliran modal asing jangka pendek masih menjadi sumber kerentanan.

Proyeksi Esok Hari

Advertisement

Meski demikian, ia menyoroti sejumlah tantangan struktural yang membuat rupiah tetap rentan terhadap tekanan global. Beberapa di antaranya adalah cadangan devisa yang sebagian masih ditopang oleh utang, arus investasi asing yang diimbangi dengan aliran keluar berupa dividen dan bunga, hingga indikasi deindustrialisasi dini.

Baca Juga : Rupiah Kamis 23 April 2026 Terjerembab ke Rp17.305, Besok Level Terendah Sepanjang Masa Mengancam

Selain itu, ketergantungan terhadap aliran modal asing jangka pendek dinilai meningkatkan sensitivitas rupiah terhadap perubahan sentimen global.

Untuk perdagangan Rabu (29/4/2026), pelaku pasar akan mencermati hasil pertemuan bank sentral AS, Federal Reserve. Bank sentral tersebut diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga acuannya, namun pasar menunggu sinyal arah kebijakan moneter ke depan, khususnya terkait inflasi.

Selain itu, isu pergantian kepemimpinan di The Fed juga menjadi sorotan, dengan Jerome Powell disebut akan digantikan oleh Kevin Warsh.

Ibrahim memperkirakan rupiah pada perdagangan Rabu (29/4/2026) akan bergerak di kisaran Rp 17.240 hingga Rp 17.280 per dolar AS, dengan volatilitas yang masih dipengaruhi dinamika global. ***

Advertisement

Lanjutkan Membaca
Advertisement