Connect with us

Ekonomi

Legaaa! IHSG Meroket, Rupiah Lepas dari Tekanan Psikologis Rp17.000

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Legaaa! IHSG Meroket, Rupiah Lepas dari Tekanan Psikologis Rp17.000

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efak Indonesia (BEI) dan nilai tukar rupiah menghadirkan kabar gembira pada pasar uang dalam negeri hari ini Selasa (10/3/2026) dengan kompak sama-sama bangkit menguat (AI/Ist)

FAKTUAL INDONESIA: Pasar keuangan Indonesia akhirnya bisa bernafas lega dan tersenyum lebar. Setelah sempat dihantam badai sentimen negatif pada awal pekan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efak Indonesia (BEI) dan nilai tukar rupiah berhasil melakukan rebound fantastis pada penutupan perdagangan Selasa (10/3/2026).

IHSG sukses parkir di zona hijau dengan lonjakan 1,41% atau naik 103,54 poin ke level 7.440,91.

Di saat yang sama, rupiah pun tak mau kalah sakti. Mata uang Garuda berhasil menjauh dari level psikologis yang mencemaskan di Rp17.000 dan ditutup menguat ke posisi Rp16.863 per dolar AS, menguat 86 poin dari hari sebelumnya.

Baca Juga : Pasar Keuangan Memerah: IHSG Terjun Bebas, Rupiah Sempat Lewati Rp17.000 Per Dolar AS

Sentimen positif ini bukan tanpa sebab. Angin segar datang dari kancah geopolitik global setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan pernyataan yang memberikan sinyal bahwa ketegangan dengan Iran mungkin akan segera berakhir.

Pernyataan ini langsung meredakan kekhawatiran pasar akan gangguan pasokan energi global. Efeknya instan:

Advertisement
  • Harga Minyak Melandai: Minyak WTI jatuh ke level US$85 per barel, turun tajam dari puncaknya yang hampir menyentuh US$120.
  • Dolar AS Melemah: Indeks Dolar (DXY) terkoreksi, memberi ruang bagi mata uang negara berkembang seperti Rupiah untuk kembali bertenaga.

Motor Kebangkitan IHSG

Di lantai bursa, kegairahan investor terlihat jelas dengan nilai transaksi mencapai Rp19,16 triliun. Sektor barang baku menjadi bintang panggung dengan kenaikan sebesar 4,42%, diikuti oleh sektor industri dan konsumsi yang juga menghijau.

IHSG BEI pada Selasa sore ditutup menguat 103,54 poin atau 1,41 persen ke posisi 7.440,91. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 9,37 poin atau 1,25 persen ke posisi 759,94.

Sedangkan ketika pembukaan, IHSG dibuka menguat 105,68 poin atau 1,44 persen ke posisi 7.443,05. Untuk kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 9,98 poin atau 1,33 persen ke posisi 760,56.

Baca Juga : Jumat Kelabu: IHSG Terpangkas Cukup Dalam, Rupiah Kian Terdesak, Begini Prediksi Pekan Depan

Beberapa saham yang mencatatkan kenaikan signifikan antara lain:

  • INPC (Bank Artha Graha): +32,67%
  • BUMI (Bumi Resources): +6,4%
  • NETV (Net Visi Media): +25%

Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Rarna Lim, menjelaskan bahwa IHSG berhasil melakukan technical rebound dari koreksi tajam sehari sebelumnya. Faktor utama penggerak pasar adalah anjloknya harga minyak mentah dunia.

“Melemahnya harga minyak global seiring dengan potensi berakhirnya konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS), usai Presiden Donald Trump mengatakan operasi militer terhadap Iran sudah very complete,” ujar Rarna dalam kajiannya di Jakarta seperti dilansir mediaindonesia.

Advertisement

Baca Juga : IHSG Rebound Menguat 1,76%, Rupiah Masih Memerah Terjepit Tekanan Global

Rupiah Melepas Tekanan

Kabar baik datang dari pasar valuta asing. Setelah sempat terperosok dan menguji level psikologis yang mencemaskan di angka Rp17.000, nilai tukar rupiah akhirnya berhasil melakukan perlawanan. Pada penutupan perdagangan Selasa (10/3/2026), mata uang Garuda parkir di zona hijau dengan penguatan yang cukup signifikan.

Berdasarkan data pasar, rupiah ditutup menguat ke level Rp16.863 per dolar AS. Posisi ini mencerminkan apresiasi sebesar 63 poin atau sekitar 0,51% dibandingkan penutupan hari sebelumnya yang sempat menyentuh Rp16.949 per dolar AS.

Rupiah sudah menguat sejak pembukaan ketika dibuka menguat 63 poin atau 0,37 persen menjadi Rp16.886 per dolar AS dari penutupan sebelumnya yang tercatat Rp16.949 per dolar AS.

Pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan rupiah dipicu oleh berkembangnya harapan bahwa konflik geopolitik di Timur Tengah tidak akan berlangsung lama sehingga kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi mulai mereda.

Advertisement

Ia menjelaskan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan komunikasi dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk membahas penyelesaian konflik tersebut.

Baca Juga : Hadapi Tiga Ancaman Utama, IHSG Anjlok 4,5 Persen, Rupiah Terseret Dekati Rp17.000

“Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan panggilan telepon dengan Trump dan berbagi proposal yang bertujuan untuk penyelesaian cepat perang Iran, menurut seorang ajudan Kremlin, meredakan kekhawatiran tentang gangguan pasokan yang berkepanjangan,” tulis Ibrahim dalam publikasi risetnya sore ini.

Selain itu, Trump juga memberikan sinyal bahwa konflik tersebut kemungkinan tidak berlangsung lama. “Trump mengatakan pada hari Senin dalam sebuah wawancara dengan CBS News bahwa ia berpikir perang melawan Iran ‘sangat lengkap’ dan bahwa Washington ‘jauh lebih maju’ dari perkiraan jangka waktu awalnya selama empat hingga lima minggu,” ujar Ibrahim.

Di sisi lain, harga minyak global masih berada di bawah tekanan karena pemerintah AS mempertimbangkan sejumlah opsi untuk menahan kenaikan harga energi. Kemudian negara-negara G7 juga menyatakan kesiapan untuk mengambil langkah guna merespons lonjakan harga minyak, meskipun tidak sampai berkomitmen untuk melepaskan cadangan darurat.

Dari dalam negeri, Ibrahim menilai pergerakan rupiah masih dibayangi oleh kondisi cadangan devisa yang mengalami penurunan. Cadangan devisa Indonesia pada Februari 2026 tercatat sebesar US$151,9 miliar, turun dibandingkan posisi Januari 2026 yang mencapai US$154,6 miliar.

Advertisement

Bank Indonesia menyebut penyusutan cadangan devisa terjadi akibat intervensi moneter yang dilakukan untuk menstabilkan nilai tukar rupiah di tengah tekanan global, serta pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Faktor Pemicu

Baca Juga : Timur Tengah Masih Membara, IHSG dan Rupiah juga Tetap Memerah

Ada beberapa pemicu yang membuat rupiah kembali bertenaga sore ini:

  • Koreksi Harga Minyak Dunia: Turunnya harga minyak mentah global (Brent) ke kisaran US$87-US$91 per barel memberikan sentimen positif. Sebagai negara net importer minyak, penurunan harga energi sangat membantu mengurangi tekanan pada neraca dagang dan devisa Indonesia.
  • Meredanya Tensi Timur Tengah: Pernyataan global yang mengisyaratkan adanya ruang diplomasi dalam konflik di Timur Tengah mengurangi minat investor terhadap aset safe haven (seperti Dolar AS) dan kembali melirik mata uang negara berkembang (emerging markets).
  • Fundamental Domestik yang Resilien: Pernyataan pemerintah mengenai ketahanan fiskal dan optimisme pertumbuhan ekonomi Kuartal I-2026 yang diprediksi di atas 5% (berkat momentum Ramadan dan Lebaran) turut memberikan bantalan bagi nilai tukar.

Efek Samping Ramadan

Meskipun hari ini pasar merayakan kemenangan, para analis tetap mengingatkan investor untuk menjaga kewaspadaan. Dari dalam negeri, pemerintah telah memastikan tidak akan menaikkan harga BBM subsidi dalam waktu dekat demi menjaga daya beli selama Ramadan dan Idul Fitri. Namun, tantangan inflasi pangan yang masih berada di angka 4,76% tetap menjadi “pekerjaan rumah” yang bisa mempengaruhi volatilitas pasar di sisa bulan ini.

Baca Juga : Imbas Timur Tengah Membara: IHSG Terjun Bebas, Rupiah Ikut Terkapar

Informasi Pasar (10/3/2026):

Advertisement
  • IHSG:440,91 (+1,41%)
  • Rupiah:863 per USD
  • Top Gainer: Sektor Barang Baku (+4,42%)

Info Kurs Transaksi BI (10/3):

  • USD: Jual Rp17.058 / Beli Rp16.889
  • EUR: Jual Rp19.726 / Beli Rp19.525
  • JPY (100): Jual Rp10.764 / Beli Rp10.656

Lanjutkan Membaca
Advertisement