Nasional
Pasangan Siamang Bejo, Mesra dan Anaknya Boni Menapaki Babak Baru di Taman Nasional Gunung Leuser

Tiga siamang dengan nama Bejo (jantan), Mesra (betina) dan anaknya Boni dilepasliarkan di kawasan hutan Taman Nasional Gunung Leuser setelah menjalani menjalani rehabilitasi dalam beberapa tahun terakhir.
FAKTUAL INDONESIA: Pasangan siamang (Symphalangus syndactyus), jantan yang diberi nama Bejo, betina dengan nama Mesra, dan anaknya bernama Boni kini menapaki babak baru dalam hidup mereka di Taman Nasional Gunung Leuser, Aceh dan Sumatera Utara (Sumut).
Ketiga satwa dilindungi itu resmi dilepasliarkan ke habitat alaminya di kawasan restorasi Cinta Raja III, Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat, Kamis (10/7/2025). Pelepasliaran ini dilakukan oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Utara (Sumut) bekerja sama dengan Yayasan Orangutan Sumatera Lestari (YOSL).
Dalam pantauan media online seperti dilansir mistar.id, Bejo (14 tahun), pasangannya Mesra (13 tahun), dan anak mereka, Bonny, yang lahir pada 20 Juni 2024, sebelumnya menjalani masa rehabilitasi intensif di Pusat Rehabilitasi Siamang, Owa, dan Beruang Madu di Desa Bukit Mas, Kecamatan Besitang, Langkat.
Baca Juga : Para Pawang Kaget dan Petugas Konservasi Berduka, Rimbani, Gajah Sumatera di Taman Nasional Riau Mati
“Bejo diselamatkan dari interaksi negatif dengan manusia di Bukit Lawang dan masuk ke pusat rehabilitasi pada 12 Januari 2021. Mesra berasal dari Barumun Wildlife Sanctuary dan bergabung pada 23 September 2021. Setelah berhasil dipasangkan, keduanya melahirkan Bonny. Kini mereka siap kembali ke alam,” ujar Kepala Seksi BKSDA Wilayah II Stabat, Bobby Nopandri, Jumat (11/7/2025).
Siamang termasuk satwa dilindungi berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024, serta tercatat dalam daftar satwa terancam punah (Endangered) oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Oleh karena itu, pelepasliaran ini menjadi bagian dari strategi konkret untuk menjaga kelestarian spesies tersebut di habitat alaminya.
“Dengan pelepasliaran ini, kami berharap keluarga siamang ini bisa bertahan hidup, berkembang biak, dan memberikan kontribusi bagi populasi liar di alam. Semoga langkah kecil ini membawa harapan besar bagi pelestarian primata Indonesia,” tutur Bobby.
Baca Juga : Pengunjung Taman Nasional Kelimutu Ende, NTT, Wajib Pakai Masker dan Bawa Air Minum, Kenapa?
Sementara itu seperti dilansir jambiekspres.disway.id, Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser Subhan yang dihubungi dari Banda Aceh, Jumat, mengatakan tiga individu siamang tersebut dilepasliarkan ke habitatnya setelah sebelumnya menjalani rehabilitasi dalam beberapa tahun terakhir.
Subhan menyebutkan ketiga satwa dilindungi tersebut menapaki babak baru dalam hidup mereka. Sebelumnya, ketiga siamang tersebut lebih dari tiga tahun menjalani rehabilitasi di fasilitas Sumatran Rescue Alliance (SRA) Besitang, Sumatera Utara.
Sebelum dilepas ke kawasan hutan, ketiga individu siamang tersebut menjalani masa habituasi di kandang selama sepekan dengan pengawasan ketat tim gabungan.
Setelah itu, ketiga satwa tersebut dilepasliarkan sepenuhnya ke alam liar, menuju kehidupan sejati di kawasan hutan Taman Nasional Gunung Leuser, kata Subhan menyebutkan.
Baca Juga : Kebakaran di Taman Nasional Komodo Sedang Diselidiki
Menurut dia, pelepasliaran satwa liar dilindungi itu ke habitatnya menjadi momentum penting bagi ketiga individu siamang tersebut. Pelepasliaran tersebut untuk memastikan keberlanjutan satwa aman di alam luar.
Selain itu, proses pelepasliaran juga menjadi simbol kerja sama antarlembaga konservasi yang terlibat, yakni Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara, serta Orangutan Centre.
“Kami berharap kawasan hutan di Taman Nasional Gunung Leuser yang menjadi lokasi pelepasliaran tersebut menjadi rumah harapan bagi siamang. Dan juga kerja sama konservasi ini terus mengakar dan menginspirasi ke kawasan lainnya,” kata Subhan. ***














