Politik
MPR Dorong Pemerintah Ambil Peran Untuk Perdamaian Rusia – Ukraina Selaku Presidensi G20

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo. (Ist).
FAKTUAL-INDONESIA: Posisi Indonesia sebagai Presidensi G20 harus dimanfaatkan pemerintah untuk menjadi juru damai konflik Rusia – Ukraina. Dengan demikian Indonesia akan dikenang dunia sebagai negara yang berperan atas perdamaian Rusia – Ukraina.
Pendapat ini disampaikan Ketua MPR RI Bambang Soesatyo di Jakarta, kemarin. Untuk itu, Bamsoet – begitu ia akrab disapa – mendorong Indonesia terlibat aktif dalam mewujudkan dunia yang damai, adil dan sejahtera, khususnya saat mengalami perubahan geopolitik yang tidak lagi di bawah dominasi tunggal, seperti ketika berakhirnya perang dingin.
“Kita tentunya ingin kepemimpinan Indonesia di G-20 tahun ini kelak dikenang dunia sebagai awal terwujudnya tatanan dunia yang damai, tumbuh berkelanjutan, serta menghapus segala penderitaan rakyat di dunia,” kata Bamsoet.
Hal itu dikatakannya saat melantik pengganti antar waktu (PAW) Anggota MPR RI Moh. Haerul Amri dari Fraksi Partai NasDem dan Hendris Sitompul dari Fraksi Partai Demokrat di Gedung MPR RI Jakarta, Rabu (2/3/2022).
Bamsoet mengatakan, Presiden Joko Widodo dalam pidatonya di Roma pada Oktober 2021, telah menyatakan tema presidensi Indonesia di Forum G20 yaitu “Recover Together, Recover Stronger“.
Menurut dia, tema tersebut merupakan komitmen Indonesia untuk membawa dunia lebih inklusif dan segera bangkit bersama-sama di tengah pandemi COVID-19 yang masih berlangsung.
“Tahun 2022 ini adalah momentum Indonesia untuk memainkan peran besar dalam menciptakan dunia yang damai, adil, dan sejahtera,” jelasnya.
Lebih jauh dikatakan, satu tujuan pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sebagaimana termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945), yaitu ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial, sebagai bagian integral dari kesejahteraan dan keadilan sosial bagi bangsa Indonesia.
Dia mengingatkan dunia saat ini sedang mengalami perubahan geopolitik, tidak lagi di bawah dominasi tunggal seperti ketika berakhirnya perang dingin, namun berada pada situasi multipolar.
Menurutnya, negara-negara besar yang kuat secara ekonomi dan militer saling bersaing untuk memperebutkan pengaruh ekonomi dan politik secara global maupun regional.
“Bukan hanya di Eropa Timur, tetapi juga terjadi di Timur Tengah, bahkan di kawasan Laut China Selatan, yang sewaktu-waktu dapat melahirkan eskalasi ketegangan,” katanya.
Dia mencontohkan dalam sepekan ini dunia dikejutkan dengan gejolak di Eropa Timur, yaitu ketika militer Rusia akhirnya masuk dan menyerang ke wilayah Ukraina.
Konflik tersebut, menurut dia, menciptakan ketegangan global yang melibatkan kekuatan ekonomi dan militer terkuat dunia, Rusia di satu pihak dengan Amerika Serikat, Uni Eropa dan NATO di pihak lain.
Menurut dia, semua pihak sangat berharap konflik Rusia dan Ukraina tidak berlangsung lama dan segera menuju jalan damai melalui perundingan yang menghasilkan perdamaian permanen.
“Indonesia, sebagai negara yang berdaulat, tentunya memiliki peran strategis di kancah global. Terlebih Indonesia kini memegang Presidensi G20, yang pada puncaknya 20 pemimpin dunia akan bertemu pada KTT G20 di Bali, Oktober 2022,” ujarnya. ***













