Ekonomi
Rupiah Kamis 13 Agustus 2026: Stagnan di Rp17.877 Dipengaruhi Perimbangan Kekuatan Sentimen, Besok Sideways

Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tidak bergerak melemah atau menguat alias stagnan sama dengan sehari sebelumnya pada perdagangan Kamis (13/8/2026). (Foto: Istimewa)
FAKTUAL INDONESIA: Menarik mengamati pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan valuta asing Kamis (13/8/2025) karena diwarnai perimbangan kekuatan pasar.
Di satu sisi, penguatan indeks dolar AS (DXY) membendung ruang apresiasi mata uang kawasan Asia, termasuk rupiah. Di sisi lain, fundamental ekonomi dalam negeri yang tetap solid memberikan bantalan (buffer) sehingga rupiah tidak terperosok lebih dalam.
Kondisi mata uang domestik yang cenderung “goyang di tempat” ini mencerminkan sikap wait and see para pelaku pasar global dan domestik menjelang rilis data ekonomi krusial serta keputusan kebijakan moneter dari bank sentral.
Perimbangan kekuatan itu membuat rupiah ditutup bergerak datar tanpa perubahan alias stagnan pada penutupan perdagangan Kamis sore.
Pergerakan mata uang Garuda tercatat 0 poin atau 0%, sehingga bertahan stagnan di level Rp17.877 per dolar AS.
Dengan masuk ke posisi stabil itu rupiah mampu memperbaiki peforma dari pembukaan perdagangan pagi hari ketika dibuka melemah 2 poin atau 0,01 persen menjadi Rp17.879 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.877 per dolar AS.
Namun pada Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia rupiah bergerak melemah di level Rp17.882 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.876 per dolar AS.
Yang menghibur kemampuan rupiah bertahan tidak bergerak masih lebih baik dari mayoritas mata uang di kawasan Asia yang melemah terhadap dolar AS.
Mata uang Asia di regional Asia yang mampu masuk zona hijau dicatat oleh dolar Taiwan menguat 0,29 persen, yen Jepang terangkat 0,02 persen, dan dolar Hong Kong menguat 0,01 persen.
Sedangkan parade melemah diisi oleh Won Korea yang mencatatkan koreksi paling dalam sebesar 0,44 persen. Pelemahan diikuti peso Filipina yang terkikis 0,22 persen. Penurunan nilai tukar juga dialami oleh baht Thailand yang melemah 0,10 persen.
Mata uang negeri jiran, ringgit Malaysia dan rupee India sama-sama mengalami penurunan nilai tukar sebesar 0,09 persen. Dolar Singapura melorot 0,02 persen, sementara yuan China melemah tipis 0,003 persen terhadap dolar AS.
Sebab Rupiah Tertahan
Stagnasi nilai tukar rupiah sore ini dipengaruhi oleh beberapa faktor utama seperti:
- Sikap Konservatif Pelaku Pasar: Para investor menahan diri sembari mencermati dinamika inflasi global dan rilis indikator makroekonomi AS terbaru.
- Arus Modal Asing (Capital Flow): Pasokan valas di pasar domestik terbilang seimbang dengan permintaan untuk kebutuhan impor dan pembayaran kewajiban luar negeri.
- Intervensi Menjaga Stabilitas: Bank Indonesia (BI) terus memantau dinamika pasar uang guna memastikan volatilitas rupiah tetap terjaga di pasaran.
Pengamat mata uang sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi mengatakan, pergerakan rupiah pada Kamis dipengaruhi sejumlah sentimen dari dalam dan luar negeri.
Dari sisi domestik, pasar mencermati keputusan MSCI yang masih mempertahankan Indonesia dalam kategori pasar negara berkembang (emerging market). Meski terdapat penurunan peringkat, keputusan tersebut dinilai belum memberikan tekanan signifikan terhadap rupiah.
“MSCI masih mempertahankan pasar modal Indonesia di emerging market. Walaupun ada penurunan peringkat, hal tersebut juga masih belum membuat rupiah mengalami pelemahan,” ujar Ibrahim dalam keterangannya seperti dilansir Beritasatu, Kamis (13/8/2026).
Menurut dia, MSCI masih menunjukkan pandangan yang relatif positif terhadap prospek pasar modal Indonesia. Kondisi tersebut turut menjadi sentimen yang menahan pelemahan rupiah.
Selain itu, pelaku pasar masih menantikan proses uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) terhadap calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti.
Ibrahim mengatakan, kabar mengenai Destry Damayanti yang kembali dipilih Presiden Prabowo Subianto untuk memimpin BI mendapat respons positif dari pasar domestik maupun global.
Sementara itu, dari sisi eksternal, rupiah masih menghadapi sentimen ketegangan geopolitik akibat konflik antara AS dan Iran di kawasan Timur Tengah berkaitan dengan perkembangan di Selat Hormuz. Dari sisi lain, Ibrahim menyoroti perkembangan inflasi AS yang mengalami penurunan, baik secara bulanan maupun tahunan.
Penurunan inflasi tersebut berpotensi memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed). Pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan kebijakan berikutnya.
Prediksi Pergerakan Jumat
Memasuki akhir pekan pada perdagangan esok hari, Jumat (14/8/2026), nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan bergerak dalam rentang konsolidasi cenderung terbatas (sideways).
Namun Ibrahim memprediksi rupiah pada perdagangan Kamis besok akan bergerak secara fluktuatif dan kemungkinan besar akan kembali melemah.
“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.870 per USD hingga Rp17.920 per USD,” jelas Ibrahim.
Secara teknikal dan fundamental, pergerakan rupiah esok hari diprediksi akan dipengaruhi oleh beberapa sentimen kunci:
- Rilis Data Pasar Tenaga Kerja AS: Sentimen dari bursa Paman Sam diprediksi dapat memberi tekanan tajam pada mata uang negara berkembang jika indikator ketenagakerjaan AS tercatat melampaui estimasi.
- Ekspektasi Suku Bunga: Pembacaan arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia maupun Federal Reserve (The Fed) terus diuji oleh pasar menjelang rapat penetapan suku bunga mendatang.
Rentang Pergerakan Besok: Pada perdagangan esok hari (14/8/2026), nilai tukar rupiah diproyeksikan berfluktuasi secara terbatas di rentang Rp17.850 – Rp17.910 per dolar AS. Jika sentimen global cenderung defensif, rupiah berisiko mengalami tekanan tipis. Namun, jika terjadi aksi profit taking pada dolar AS, rupiah berpeluang untuk rebound tipis menembus area batas bawahnya. ***













